Carikan Aku Pacar! [2/3]

Carikan aku Pacar!2

“Carikan aku pacar!” [2/3]

Author: Pingkan

Main Cast: Im Yoon Ah | Kwon Yuri | Lee Donghae

Other Cast: Park Sora | ETC…

Genre: Romance | Comedy | Fluff | Teen

Rating: G | Length: Three-Shoot

Summary:

Kisah ini bermula saat Donghae tiba-tiba memutuskan hubungannya dengan kekasihnya Yoona. Yoona begitu terpukul mengetahui hal itu. Ia masih sangat mencintai Donghae, tapi ia gengsi mengakui semua itu. Makadari itu, ia bertekad untuk mencari pengganti Donghae. Agar Ia bisa membuktikan pada lelaki itu, bahwa Yoona bukanlah gadis yang lemah.

.

Bantu aku. Carikan aku pacar! Kumohon…

.

.

Yoona melangkahkan kakinya dengan kesal, menghentak-hentakan kaki jenjangnya dan menggerutu disetiap langkahnya. Yuri yang berada disampingnya hanya dapat menggeleng pasrah, memperhatikan  tingkah sepupunya.”Berhenti Yoong!” pekik Yuri gusar.

“Berhenti apa? Kau tahu? Aku sangat kesal!” geram Yoona.

“Aku tahu, tapi kalau tingkahmu seperti ini memang bisa menyelesaikan masalah? Huh?” ucap Yuri. “Sudahlah, nanti akan ku carikan pasangan yang tepat untukmu. Besabarlah.” Yuri menepuk-nepuk pelan pundak Yoona.

“Hm.” Sahut Yoona acuh.

Seorang pemuda dan seorang gadis disampingnya berjalan berdampingan melewati Yoona dan Yuri. Keduanya tampak terlibat perbincangan akrab. Bahkan tak jarang mereka saling melempar candaan. Dan parahnya lagi, si Pria mengusap-usap puncak kepala sang Wanita dengan gemas.

“OMO!!” pekik Yoona dan Yuri bersamaan, keduanya langsung menutup bibir mereka cepat.

“Aku tidak salah liat kan?” gumam Yoona menggelengkan kepalanya.

“Tidak… itu tidak mungkin!” Yoona masih tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.

“Terima takdir Yoong.” Yuri menepuk-nepuk pelan pundak Yoona.

“YAK!! APA KATAMU?!” geram Yoona mendelikan matanya kearah Yuri. Dari kejauhan, keduanya masih setia memata-matai Donghae-Sora. Keduanya bak seorang detektiv handal, namun lebih mirip menyandang detektiv Upin-Ipin. Karena wajah keduanya yang hampir mirip dan juga tingkah mereka yang tak seprofesional detektiv sungguhan.

“Donghae Sunbae, kau mau ini?” ujar seorang gadis yang berada disamping Donghae. Gadis itu tengah menyodorkan sebuah apel. Dengan senang hati, Donghae pun menerima apel tersebut. Nampak keduanya saling melempar senyum bahagia kendati kedua nya nampak seperti sepasang kekasih.

“Gomawo Sora-ya.” Jawab Donghae.

“Lihat itu! Cih, menggelikan sekali aku melihatnya.” Cibir Yoona. Yuri yang berada disampingnya hanya menggidikan bahunya tak peduli.

“Biarkan saja, toh mereka saling mencintai.” Komentar Yuri.

“Yak!!” rajuk Yoona.

“Donghae dan Sora sangat tidak cocok! Donghae sangat cocok dengan gadis yang manis, baik hati, pintar, hm…. Ya dan sebagainya… misalnya—“

“Kau?” ujar Yuri memotong ucapan Yoona.

Yoona menganggukkan kepalanya bangga.

“Aish! Lihatlah dirimu… manis? Hm, ya kurasa kau sedikit asin. Baik hati? Tidak juga, kau sering merajuk dan memukuliku. Pintar? Bahkan untuk ulangan matematika kau mendapat nilai 20 selama 10 kali berturut-turut..” Yuri menerawang.

“Yak! Jangan sebut yang terakhir, itu aib!” gerutu Yoona.

“Apa bedanya aku dengan Sora, Sora baik? Aku bahkan bisa lebih baik darinya.”

“Maksudmu?” Tanya Yuri tidak mengerti.

“Dia kan hanya memberikan satu apel pada Hae Oppa. Aku bahkan bisa memberikan satu keranjang apel padanya. Bahkan sekaligus dengan petani-petaninya.” Ucap Yoona tak mau kalah.

“Kau yakin?”ujar Yuri ragu.

“Tidak.” Balas Yoona singkat.

Wajah Yuri seketika langsung datar. “Sudahlah, Ayo kita pergi. Calon pacarmu sudah menunggu.” Yuri menyeret paksa lengan mungil Yoona.

“Yak! Yul! Kau pikir aku ini domba-domba mu! Hah!” maki Yoona.

“Kau bahkan lebih cantik dari domba. Bagaimana kalau babi?” canda Yuri.

BUGH!

Yoona memukul pelan punggung Yuri. “Lepaskan aku Yul! Lepas!”

“Jangan berteriak, nanti orang lain salah paham pada kita, bodoh! Sudah kau diam saja, atau celana dalam favorite mu akan ku gunting-gunting!” ancam Yuri.

Yoona seketika langsung bungkam, mengingat celana dalam hello kitty favorite nya yang baru saja dia beli dari Jepang. Saat dirinya dan Yuri bertamasya ke negeri Sakura tersebut. Dalam hati, kalau saja Yuri tidak mengancamnya dengan menyangkut pautkan –celana dalam hello kitty miliknya- sudah pasti gadis itu akan memukuli Yuri habis-habisan.

***

Yoona dan Yuri kini sampai di sebuah Café yang tak jauh dari area Kampus. Keduanya memilih duduk disudut Café tersebut sembari menunggu seseorang yang telah membuat janji dengan mereka, oh lebih tepatnya dengan Yuri.

“Sampai kapan kita menunggu orang tersebut?” Tanya Yoona tak sabar. “Lihat? Sudah 30 menit kita disini. Memesan minum tidak, makan tidak, nanti disangka hanya numpang duduk.” Gerutu Yoona.

“Sst! Sabar!” potong Yuri cepat.

“Ck, ini sudah 30 menit Yul!” keluh Yoona berkali-kali.

-5 menit berlalu-

“Nah itu dia.” Seru Yuri senang.

“Yang mana?” Tanya Yoona bingung. Sejak tadi, pandangannya tak terlepas menatap pintu Café yang berwarna putih itu. Namun, Yoona masih belum melihat seseorang yang dimaksud Yuri tadi. Dengan gusar, dirinya mencoba mencari-cari keberadaan –Calon kekasihnya.

“Ish! Yang mana!” kesal Yoona.

“Itu disana.” Seru Yuri menunjuk salah seorang pemuda tampan diantara kerubungan lalat manusia.

“Ah Jinjja?” pekik Yoona histeris. “Kau ingin menjadikan kakek tua itu sebagai pacarku? Lihatlah dia sudah mempunyai istri. Kau gila menjadikan aku istri yang kedua?” Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.

Pikirannya kacau, membayangkan hal-hal negative jikalau memang benar kakek tua itu adalah calon kekasihnya.

Bagaimana aku bisa membanggakan kakek tua itu didepan Hae Oppa? Nanti yang ada, dia malah menertawakan ku.

Ah… aku tidak mau jadi istri muda!!’ Yoona menggelengkan kepalanya.

Ah! Yang benar saja, masa kisah cintaku sama seperti lagunya penyanyi Indonesia. Eum… siapa ya namanya… yang kepalanya botak… dhono… eh… dhani… ‘beristri dua’ ahh!! Eomma!! Shiero!!’ Yoona menjambak rambutnya sendiri, menggeleng-geleng keras layaknya orang tidak waras.

Yuri yang berada dihadapannya merasa panic dan terkejut atas sikap sepupunya.

“Yak! Kau ini kenapa!” pekik Yuri menggoyang-goyangkan lengan Yoona.

“Yoona! Im Yoona!” pekik Yuri sekali lagi, namun tidak ada jawaban.

“IM YOONA!!” pekik Yuri kencang.

“AKKK! AKU TIDAK MAU JADI ISTRI YANG KEDUA!! HUWAAAAAAAAA!!” pekik Yoona sangat kencang, bahkan membuat pengunjung yang lain menoleh ke arahnya. Bukan karena terkejut, melainkan ragu bahwa pengunjung yang duduk di sudut Café –Yoona dan Yuri. Itu adalah orang waras, ya dilihat dari fisik mereka waras, tapi kalau dari rohani? Entahlah-___-

“Jangan berteriak-teriak! Kau membuat ku malu.” Bisik Yuri tajam.

“Hm, Jeongmal Mianhe…” Yuri membungkuk sopan pada pengunjung Café yang lain, merasa tidak enak hati karena telah mengganggu ketenangan mereka.

“Hey! Kau gila!” protes Yoona seketika.

“Kau ingin menjadikan kakek tua yang disana sebagai pengganti Donghae Oppa? Apa kau tidak waras? Dia sudah punya istri! Aku tidak mau dimadu! Ingat! Aku tidak mau dimadu!” tolak Yoona mentah-mentah. “Lebih baik aku pulang saja.” Yoona menarik tasnya dan bersiap untuk pergi.

“Yak! Anak kurang ajar, mau kemana kau!” Yuri menarik kembali tas Yoona, menahan gadis itu untuk pergi.

“Aku mau pulang, lepas Yul!”

“Shiero!”

“Lepas, babo!”

“Tidak akan!”

“Yak!”

“Ish! Kau salah paham!” ujar Yuri.

“Salah paham apanya, sudah jelas-jelas kau ingin menjodohkanku dengan Kakek Tua itu!”

“Bukan Yoong! Dengar dulu, dia itu tampan. Tidak peyot seperti itu.” Sentak Yuri. Bagi para manula yang berada di Café tersebut, langsung mengarahkan pandangannya ke arah Yuri. Mendengar kata ‘peyot’ seakan menyayat hati bagi para manula pengunjung Café tersebut.

Yuri yang kikuk, langsung tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi-giginya yang rapih.

“Ah jeosonghamnida.” Ucap Yuri sopan.

“Ish! Ini semua gara-gara kau!” Yuri mendelikan matanya kearah Yoona.

“Yak! Kenapa harus aku!” kesalnya.

“Yasudah, kembali duduk ditempatmu dan bersikaplah layaknya manusia normal.” Ketus Yuri.

Dia pikir aku ini gila?’ –Yoona.

Aigo, ternyata sulit sekali mencarikan pasangan untuk Yoona. Ku kira akan semudah membalik telur dadari di sebuah Teflon.dan lagi pula, aku tidak berpengalaman dalam urusan ‘Percintaan’ punya pacar saja tidak.’ –Yuri.

-3 menit kemudian-

Seorang laki-laki bertubuh tinggi, tegap, dan tampan datang menghampiri meja Yoona dan Yuri. Laki-laki tersebut melempar senyuman manisnya, menatap Yoona dengan tatapan membunuhnya.

“Taecyeon.” Seru Yoona kaget.

“Jadi—“

“Iya, Taecyeon lah yang ku maksud.” Seru Yuri yang sudah keburu geram, dengan sepupunya.

“Hehehehe… maafkan aku Yul. Kupikir tadi itu—“

“Sudah, selesaikan kencan kalian. Aku permisi.” Potong Yuri cepat, sebelum Yoona semakin membuat ulah.

“Kau mau kemana?” Tanya Yoona.

“Hanya jalan-jalan ke taman. Tidak jauh jaraknya dari Café ini, kau tenang saja.”

“Baiklah.”

Selepas Yuri pergi meninggalkan Café tersebut. Yoona dan Taecyeon saling duduk berhadapan. Keduanya saling melempar pandangan, namun sedetik kemudian mereka langsung mengalihkan pandangan mereka. Suasana canggung pun tak lepas dari keduanya.

“Hm…”

“Yoona-ssi.” Panggil Taecyeon gugup.

“Nde, Taecyeon-ssi?” ujar Yoona dengan senyum manisnya.

Kalau aku dan Taecyeon resmi berpacaran, sudah pasti Hae Oppa akan cemburu padaku. Hihihi… aku tidak sabar melihat ekspresi Hae Oppa.’ –Yoona.

“Ah… aku bingung apa yang harus aku katakan.” Ucap Taecyeon.

“Ya kau tinggal bilang apa saja yang ingin kau tanyakan.” Ujar Yoona lembut.

“Hm… boleh aku bertanya apapun?” Tanya Taecyeon ragu.

“Nde.” Yoona mengangguk-anggukan kepalanya.

“Hm, kau tidak memesan makanan?” ujar Taecyeon. Dirinya nampak bingung, sejak tadi meja Yoona-Yuri sama sekali tidak ada isinya. Bahkan secangkir cappuccino ataupun segelas Juice pun tak ada.

“Eh! Eum iya. Tadi kami memutuskan akan memesan bila kau sudah datang.” Ujar Yoona.

“Oh begitu.”. “Kan aku sudah datang, bagaimana kalau kita memesan.” Ujar Taecyeon.

“Baiklah.” Ucap Yoona sambil tersenyum.

Ya Tuhan! Baik sekali Taecyeon ini, dia bahkan rela mengeluarkan uangnya demi kencan pertama kita.aigo, aku makin jatuh hati padanya.

Taecyeon pun memanggil seorang pelayan Café. Dan begitu pelayan Café tersebut datang Taecyeon dan Yoona saling berunding untuk memesan makanan yang akan mereka makan.

“Kau ingin apa?” Tanya Taecyeon.

“Molla, kalau kau?” ujar Yoona balik bertanya.

“Kau saja yang memesan.” Ucap Taecyeon.

“Aku memesan—“

“Bagaimana kalau air putih.” Ujar Taecyeon memotong ucapan Yoona.

BRUKKK!

Yoona langsung terjatuh dari bangkunya. Sebegitu terkejutkah dia dengan sososk Ok Taecyeon?

“Yoona-ssi, kau baik-baik saja?” Tanya Taecyeon cemas.

“Nde.” Balas Yoona singkat.

Aigo, yang benar saja masa kencan pertama kita harus dengan dua gelas air putih. Dia pikir aku ini sedang batuk dan tidak boleh meminum Ice, begitu? Tsk, dasar pelit.’ –Yoona.

“Kau baik-baik saja kan Yoona-ssi? Tidak ada yang terluka kan?”

“Iya, aku baik-baik saja. Kau tenang saja.” Ujar Yoona malas.

Awas kau Kwon Yuri! Aku akan memberikan pelajaran padamu! Seenaknya saja mencarikan aku kekasih seperti dia. Memang sih dia tampan, tapi dia sungguh pelit. Aih jinjja! Bagaimana kalau aku dan dia sudah menikah? Mau diberi makan apa anak ku nanti?’

Dengan sangat amat terpaksa, Yoona pun rela meladeni Taecyeon berbincang-bincang dikencan pertama mereka. Ya, meski dia harus disuguhkan dengan segelas air putih saja.

***

Setelah pertemuannya dengan Taecyeon, Yoona pun dengan cepat berlari keluar Café bermaksud untuk mencari sepupunya, Kwon Yuri. Namun, naasnya dia malah menubruk seseorang hingga membuatnya jatuh tersungkur.

“KYAAAAA!” pekik Yoona kencang.

Lututnya sukses mendarat pada aspal, menyebabkan gesekan yang cukup kencang hingga lututnya terluka mengeluarkan darah.

“Kau!!” pekik Yoona kencang.

“Maafkan aku Aghassi.” Ujar Namja itu cepat.

“Yak! Mau kemana kau! Kau harus tanggung jawab. Aku begini karena kau, tau!” pekik Yoona yang masih jatuh terduduk. Dilihatnya Namja itu seperti orang yang sedang dikejar-kejar perampok.

“Maafkan aku Nona! Aku tidak bisa membantumu saat ini. Sudah dulu ya… semoga Tuhan memberkatimu!” Namja tersebut langsung berlari dan menghilang dibalik belokan jalan.

Yoona mendengus kesal, meratapi nasibnya tak semulus tubuhnya.

“Kalau bukan karena Namja gila itu! Aku pasti tidak akan seperti ini.” Gerutu Yoona.

Dirinya mencoba bangkit, namun rasa sakit dilututnya membuatnya kesulitan untuk berdiri. Dengan perlahan Yoona mencobanya sekali lagi. Namun tetap saja gagal.

Sebuah tangan terulur dihadapan Yoona. Yoona hanya diam, tak mengerti maksud uluran tangan tersebut. Sampai manik matanya menyusuri siapa pemilik tangan tersebut.

“Donghae Oppa.” Panggil Yoona pelan.

“Cepat bangun,” ujar Donghae.

Dengan senang hati, Yoona langsung memegang uluran tangan Donghae. Dalam hatinya, Yoona pasti sudah berjingkrak-jingkrak kali ini. Namun, tetap saja dia gengsi untuk menunjukan semua itu.

Dalam pikirannya masih terlintas jelas, saat Donghae memutuskan hubungan dengannya. Rasa pahit itu, masih mendera hati Yoona. Membuat hatinya tak kunjung pulih. Terlebih, melihat kedekatan Sora dan dirinya akhir-akhir ini.

“Terimakasih.” Ucap Yoona singkat.

“Kau baik-baik saja? Kenapa bisa terjatuh? Omona! Dari dulu kau tidak pernah berubah ya. Selalu saja tidak memperhatikan jalan.” Ujar Donghae.

Baik Yoona dan Donghae kembali mengingat kejadian mereka tempo lalu. Saat-saat dimana Yoona selalu terjatuh akibat dirinya kurang memperhatikan jalan. Dan yang terakhir, Yoona tercebur keselokan hingga setengah badannya menghitam terkena lumpur selokan.

“Jangan mengingatnya, itu memalukan.” Ujar Yoona datar.

Yak! Kenapa Donghae Oppa masih mengingatnya? Padahal, aku sudah mencoba seribu kali untuk melupakan kejadian ‘Itu.’  Batin Yoona. Yang dimaksud ‘Itu’ adalah, saat dimana dia tercebur keselokan pada saat perayaan hari jadi mereka yang keempat. Sungguh memalukan!

“Hahaha… kenapa? Bukankah itu sebuah kenangan?” Tanya Donghae, mencoba menggoda Yoona.

“Ish! Itu tidak lucu Oppa! Eh… eum Donghae!” gugup Yoona.

“Kau masih marah padaku?” Tanya Donghae.

“Marah? Marah kenapa?”

“Karena aku memutuskan hubungan kita. Tidak bisakah kita menjadi teman?”

Apa? Teman katanya? Aish! Aku tidak sudi memiliki teman sepertimu! Berteman saja dengan kambing ataupun Jin tomang itu (Baca: Eunhyuk dan Shindong (Mereka sahabat dekat Dongahe)).

“Sudah aku ingin pergi.” Ujar Yoona melenggang pergi.

“Hey! Tunggu!” Donghae menahan tangan Yoona.

Ya Tuhan! Pasti Donghae menyesal karena telah memutuskan ku. Makanya dia ingin mengajak ku kembali padanya. Aigo, aku mau Hae Oppa.. aku mau jadi kekasihmu…’ batin Yoona sembari tersenyum-senyum.

Yoona pun membalikan tubuhnya. “Apa?” Tanya Yoona.

Bantu aku Tuhan! Aku sangat gugup saat ini.

“Bukankah kau bilang ingin pergi? Seharusnya kan jalannya ke arah sana, bukan ke situ.” Ujar Donghae.

APAAAA!!!

Jadi…. Dia tidak menyesal memutuskan ku? Aakkkk!!!!!!

“Terserah aku dong, mau lewat mana. Mau lewat situ, atau sana, atau atas, atau bawah, kiri, kanan, kayang, merangkak. Itu bukan urusanmu!” Yoona pun langsung berjalan meninggalkan Dongahe. Sebelumnya dia sempat menyenggol bahu Donghae kasar.

***

Yoona masih tidak bisa menyembunyikan rasa malunya, bagaimana tidak? Dia sudah berprasangka bahwa Donghae menyesali perbuatannya. Dan pada kenyataannya? Namja itu terlihat baik-baik saja tanpa Yoona disisinya.

“AKKKK!! MEMALUKAN!!” pekik Yoona kencang.

“YURIIIIIIII!! HUWEEEE!!” Jerit Yoona begitu dia sampai di rumahnya.

“Aigo, Yoong. Kau kenapa?” Tanya Yuri cemas.

“Apa ada yang menjambert mu? Atau kau dipukuli warga? Atau ada yang memperkosamu?”

PLETAKK!!

Yoona menjitak kepala Yuri untuk kesekian kalinya. Membuat Yuri kembali mengutuk sepupunya dalam hati dengan sumpah serapah.

“Ish! Bisa tidak, jangan menjitak kepalaku!”

“Tidak! Huweeeee!!”

“Omona!! Kau kenapa?!!”

“Aku.. Aku… aku tadi bertemu Donghae Oppa—“

“Bagus dong, dia bilang apa padamu?”

“Yak! Jangan memotong ucapanku!” geram Yoona hendak memukul Yuri –lagi-.

“Kalau kau memukulku, aku bersumpah tidak mau menolongmu lagi!” ancam Yuri.

“Iya.. Iya…” ucap Yoona sewot.

“Tadi aku bertemu Hae Oppa, dia menolongku. Namun… namun… dia tidak mengajak ku balikan. Huwaaaaaa!! Hiks…. HIks… Hiks…” Isak Yoona kencang.

“Yak! Jangan menangis, nanti puasamu batal.”

“EH?!” bingung Yoona.

“Memang aku puasa?” tanyanya.

“Aish! Yul! Jangan meledekku! Kau mau ku jitak lagi?!” ujar Yoona.

“Hehehhe… tidak.. tidak.. terimakasih.”

“Yul! Cepat carikan aku pacar!!!!” pinta Yoona.

“Memang Taecyeon kenapa? Dia tampan kok.” Ujar Yuri.

“Kau saja yang bersamanya. Kau mau anakmu nanti diberi susu dari air tajin? Dia itu sangat pelit!”

“Eh? Benarkah? Aigo, aku tidak sudi kalau begitu.” Yuri menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Baik-baik, besok akan kucarikan Namja tampan untukmu.” Janji Yuri.

“Jangan yang aneh seperti calon-calon sebelumnya.” Ancam Yoona.

“Iya, semoga kali ini tidak.” Balas Yuri sedikit ragu.

 

 

TBC

Setelah membaca wajib komen >.< #plakk.

Semoga terhibur ya dengan Fanfict ku ini. Makasih~

9 thoughts on “Carikan Aku Pacar! [2/3]

  1. Thor carikan yoong pcar gih,Kasian pan yuri yang jdi korban mlu,,,,
    dapet pkulan mlu ri yoong…..
    Lanjut 😀

  2. Yyaaampuun yoong😄😄
    FFnya hebat, nae ketawa ketawa lho😀 Makasih yaa author🙂 Semoga sukses, dan rajin menulis yap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s