Who Is He? [2/2]

Who is he3

“Who Is He?” [2/2]

Author: Pingkan

Main Cast: Im Yoona | Tiffany Hwang | Kwon Yuri

Other Cast: Mario Maurer (Thailand Actor)

Genre: Friendship | Comedy gagal(?) | Teen | School Life | Little bit Romance

Rating: PG 13 | Lenght: Two-Shoot

Disclaimer:

FF ini murni buatan Author. So, jangan ada yang memplagiat FF ini yoo~. Dibutuhkan kritik dan saran nya, jadi jangan malas-malas untuk berkomentar yaa. Apapun komentar kalian, author pasti menghargai itu. Dan semoga terhibur~

Happy reading❤

Summary:

Yoona, Yuri, dan Fany merupakan gadis yang nyaris ‘sempurna’. Namun, mereka bertiga sangat lemah dibidang pendidikan. Nilainya selalu saja, ‘F’ belum lagi tingkah mereka yang selalu berbuat onar. Sampai suatu hari mereka dipertemukan dengan lelaki yang mengubah drastis kehidupannya.

.

Siapa dia? Kenapa dia begitu tampan.

Oh Tuhan! Semoga saja aku bisa mendapatkannya.

.

.

Persahabatan memang indah, terlebih jikalau kalian memiliki sahabat yang benar-benar terbuka dengan kalian dan memiliki tingkah konyol yang menggemaskan. –Yoona.

Menjadi lebih baik, seperti yang diajarkan Yoona Seongsaenim… hihihi… -Yuri.

Demi apapun, aku bersumpah tidak akan jatuh cinta pada pemuda hanya karena ketampanannya saja. Buat apa tampan, kalau dia menyebalkan? Terlebih berusaha sendiri demi menggapai cita-cita itu lebih baik. Dibanding harus melibatkan soal –cinta dan taruhan-. –Fany.

.

.

.

Keesokan harinya, dengan wajah bahagia Yoona, Yuri, dan Fany melangkahkan kakinya menuju aula sekolah. Angin semilir menerpa wajah ketiganya, membuat mereka terkesan layaknya dewi yang turun dari kayangan. Ketiganya menjadi pusat sorotan para murid.

Yuri sibuk melambai-lambaikan tangannya bak miss world di redcarpet.

Fany sibuk memoles wajah nya dengan bedak wardah miliknya(?).

Yoona memamerkan senyum manis dan keanggunannya.

Suara ricuh menyambut kehadiran ketiganya. Yuri sudah pasti sangat senang akan hal ini. Pasalnya, dia memang menyukai sambutan yang meriah seperti sekarang terlebih banyak siswa tampan disana. Begitupun dengan Fany, gadis cantik yang gemar sekali berdandan memang sangat suka keramaian. Bahkan ulang tahunnya waktu itu, dimeriahkan dengan paket 20 anak dari kfc. (-____-)

“AH…. Lihat Yoong! Mereka meneriaki nama kita… Omo!”histeris Yuri.

“Hm.” Balas Yoona singkat.

“Hello… Hello fans… Hello… gomawo… gomawo…” ujar Yuri melambaikan tangannya.

“Aigo, aku sudah seperti miss world kalau begini caranya.” Gumam Yuri pelan.

“Lebih dari itu Yul.” Sahut Fany yang mendengar gumaman Yuri.

“Ya, kau benar. Bahkan personel snsd kalah sama kita. Iyakan? Hahaha…” tawa Yuri.

“Nde, tsk, lebih cantik aku daripada Tiffany SNSD.” Ujar Fany. (Bukannya itu eonni ya -__-)

“AAAKKK FANYYYY!!” histeris fans wanita

“YURIII!!! FOLLBACK AKU YULLL!!” Histeris fans Pria.

“YOOONAAAAA!! OHHHH YOONAAA!!”

“FANYYY FANYY HAHAHAHA.”

“YURI!! HAHAHAHA.”

“YOONAAAA OH CANTIK SEKALI DIA… HAHAHA”

Yoona, Yuri, Fany mengerutkan keningnya bingung. Kenapa mereka semua tertawa, memang apa yang lucu. Yuri yang sudah memasang tampang sexynya, berubah menjadi muram. Sementara Fany yang sibuk dengan makeupnya, lekas menaruh kembali makeupnya kedalam tas. Yoona, gadis itu hanya diam tak peduli.

“Ada apa?” Tanya Yoona.

“Entahlah, memang ada yang lucu?” Tanya balik Yuri.

“Molla.” Fany menggidikan kedua bahunya.

“HAHAHAHAHA!” tawa semua murid menjadi semakin kencang.

“Tsk, ada apa sih!” kesal Yuri.

“Itu babo! Lihat!” seru Kyuhyun.

Oo!! O.o

Bagaimana semua siswi tidak tertawa, Yuri masih mengenakan piyama tidur dibalut rok seragam. Yoona mengenakan sepatu yang berbeda dikedua kakinya. Fany mengenakan sandal bulu serta aksesoris tidur yang lainnya. Dan juga! Rok tiffany terbalik kebelakang.

Kenapa mereka begitu bodoh? Tidak menyadari apa yang tengah mereka kenakan.

“HAHAHAHAHA!!! BODOH!! HAHAHAH.” Pekik semua murid.

“YAK!!” Bentak Fany, Yoona, Yuri kesal.

“Shut up!!!” Pekik Fany.

Semua murid masih tertawa kencang, tidak takut dengan pekikan Fany yang melengking tajam.

“YAK!! DIAM KALIAN!!” Kali ini Yuri yang berteriak.

Tetap saja semua murid masih tertawa kencang.

“Diam! Atau akan ku sumpali mulut kalian satu persatu dengan celana dalam Gajah Sumatera!” ujar Yoona datar.

Semua murid langsung bungkam dna menggeleng keras.

“Pergi dari sini sekarang!” bentak Yoona.

Semua murid langsung berlarian bagai anak kehilangan induknya.

***

Pelajaran dimulai dengan begitu hikmat, persis seperti mengheningkan cipta. Tak ada kericuhan dan ulah yang diperbuat Yoona, Yuri, dan Fany. Mereka bertiga sepertinya mulai bersikap layaknya manusia normal. (Bayangin film spongebob o.o)

Semakin lama, Yoona merasakan kantuk menguasai dirinya. Dia pun memilih memejamkan matanya untuk beberapa saat, daripada harus mendengar ‘Gajah Sumatera’ berceramah hal yang tidak penting.

“NGOKKK… NGOOKK.. NGOKKK~” Yoona mendengkur keras, tat kala dia semakin terlelap dalam tidurnya.

Fany yang mendengar hal itu, mencoba menegur sahabat nya. “Yoong! Yoongie!” ujar Fany mencolek punggung Yoona dari belakang.

Namun, sepertinya usaha Fany sia-sia. Yoona semakin pulas dalam tidurnya.

“Apa ada yang tertidur saat pelajaranku?! Cepat jawab!” bentak guru Lee.

Semua mata langsung tertuju pada Yoona. Gadis cantik yang tengah memejamkan matanya, dengan mulut terbuka lebar, dan air liur yang menetes keluar dari mulutnya. (Ewh!~ bgt eon -__-)

“IM YOONA!!!!” Pekik guru Lee kencang.

Semua siswa lekas menutup kedua telinganya sebelum mereka semua menjadi tuli berjamaah. Guru Lee berjalan mendekat kearah Yoona, tidak lupa dengan penghapus papan tulis ditangannya.

Seperti biasa, guru itu selalu menorehkan penghapus papan tulis yang ada ditangannya ke wajah manis Im Yoona. Yoona yang kaget, sepontan mendorong tubuh guru Lee dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.

GUBRAKKK!!

Guru Lee jatuh tersungkur dihadapan Lee Sun Kyu, atau gadis mungil yang akrab disapa Sunny.

“HAHAHAHAHAHA.” Tawa semua murid.

“Omona! Bison jatoh!! Hahahahaha.” Tawa Leeteuk.

“Aniya Leeteuk-ah, dia adalah badak bercula satu. Ahahhaha.” Tawa Kyuhyun.

“Aigoo… bayi bajang kenapa bisa jatuh. Hahaha..” ledek Jessica.

“Hahaha bayi bajang? Aigooo… hahahahaha.” Tawa Yuri.

“Kau tahu arti bayi bajang Yul?” Tanya Fany yang bingung dengan perkataan Jessica.

“Molla.” Yuri menggidikan kedua bahunya singkat.

“Yak! Kalau tidak tahu, kenapa kau tertawa gadis tongsis!” cibir Sooyoung yang mendengar ucapan Yuri.

Yuri membelalakan kedua matanya mendengar cibiran Sooyoung. “Yak! Siapa yang kau bilang gadis tongsis, hah!” murka Yuri.

“Kau!” ujar Sooyoung santai.

“Memang kau tahu apa artinya ‘bayi bajang’, huh?” Tanya Yuri sengit.

“Tahu dong! Bayi bajang itu bayi setan. Sama sepertimu, sudah sangar, hitam pula.(Poor Yuri Eonni :3)” Cibir Sooyoung. Kedua pasang mata mereka bertemu, tatapan kilat, halilintar, angin puting beliungpun tampak sangat jelas dikedua mata mereka. Awan dilangit berubah menjadi kelabu, inilah dampak dari perang yang akan terjadi sebentar lagi(?). stay tune, okehhhh…

Yuri bersiap menyerang Sooyoung kali ini, dia bahkan sudah mengambil ancang-ancang. Dengan wajah sangar seperti kuli bangunan, pakian seragam yang digulung bak preman pasar, dan kulit hitam eksotis seperti farah queen(?). Yuri berjalan dengan gagah menuju bangku Sooyoung.

Gadis yang menjulang tinggi seperti menara Eiffel itu tidak tinggal diam. Gadis itu melakukan hal yang sama dengan Yuri.

“Ciiatttt~~~”

Baik Sooyoung dan Yuri saling menyerang, mereka saling jambak-jambakan bahkan saling melempar sesuatu benda disekitar mereka. Mulai dari buku Kim Taeyeon, tempat pensil Seohyun, sisir Jessica, cutex Heechul, lipstick dan bedak Tiffany, kacamata Leeteuk, sepatu Siwon, tas Taemin, dan yang terakhir Sunny ikut dilempar(?).

“Kyaaaaa~” Pekik Sunny yang melayang tinggi(?) diplafon kelas.

“KWON YURI!! CHOI SOOYOUNG!! APA YANG KALIAN LAKUKAN!! BERHENTI SEKARANG!!” Bentak Gajah Sumatera dengan keras, bahkan mengalahkan suara lengkingan Taeyeon saat menyanyikan nada tinggi.

Semua makhluk astral(?) yang berada disana langsung bungkam, termasuk yang diserukan namanya tadi.

“Berisik….!!!” Ujar Yoona dengan mata yang masih terpejam.

Gadis itu sepertinya terusik dengan lengkingan indah(?) milik guru Lee. Guru Lee semakin naik pitam sekarang, ternyata banyak muridnya yang sudah tidak waras. Guru Lee mengedarkan pandangannya, sejenak tidak menghiraukan gadis cantik yang tengah tertidur bak putri salju.

“Lee Hyukjae! Apa yang kau lakukan! Kau kembali menonton video yadong lagi ya? Cepat jawab!!” bentak guru Lee.

Hyukjae yang sedang focus menonton acara yang paling berharga(?) menurutnya itu sontak terkejut. Dia lekas melambungkan ponselnya ke udara. Baik guru Lee dan Hyukjae sama-sama menatap ponsel Hyukjae yang sedang melambung –dibuat slow motion gitu ceritanya-.

“Tttiiidddaakkkkk.” Mulut Hyukjae monyong-monyong gak jelas, bak ikan luhan lohan.

“Jangannnnnnnnnnn jatuhhhhhhhhhhhh.” Guru Lee ikut-ikutan slow motion, seperti yang ada didrama-drama action.

“Ohhhh NoooooOOooOOOoOOOoOo.” Kembali lagi, mulut Hyukjae semakin lebar menganga bak teko milik emak key didorm.

PRANGGG~~~

Ponsel Hyukjae bernasib naas, harus merasakan dinginnya lantai kelas(Lebay-___-). Layar lcd ponsel itu pun pecah tak berbentuk. Hyukjae dan Gajah Sumatera (Baca: guru Lee) sama-sama memandang penuh haru pada ponsel Hyukjae yang tergeletak tak berdaya.

“Cepat panggil ambulan.” Usul Yesung.

“Menyedihkan.” Ujar Kyuhyun ikut perihatin.

“Ahh aku tidak kuat melihatnya. Ini begitu menyakitkan.” Ujar Jessica pilu, lantas dia memeluk Taecyeon disampingnya. Dan mereka menangis bersama(?).

“Hiks… Hiks…” Hyukjae hanya bisa menangis disaat kondisi seperti ini. Hal yang paling memilukan baginya adalah video-video itu(?) bukan ponselnya. Tak apa jika ponselnya tidak ada pulsa, atau tidak ada yang menghubunginya (Jomblo nih yeee :33), atau rusak sekalipun, asal jangan video. Ya, dia tidak bisa menonton video kesukaannya(?) lagi kali ini.

Sangat miris.

“Huweee….. bagaimana caranya aku menonton video miyabi yang terbaru? Kalo ponselku rusak… hiks… hiks…” isak Hyukjae mengelap ingusnya yang meluber diwajahnya. (Huwekk-__-).

“Tenang Hyukjae-ya, aku akan meminjamkan ponselku untuk mu mendownload. Asal, kita nonton sama-sama ya.” Bujuk Donghae dengan mata sipitnya.

“YAK!! LEE HYUKJAE DAN LEE DONGHAE!! JANGAN BERBUAT ULAH!! TIDAK BAIK MENONTON VIDEO SEPERTI ITU!!” Bentak guru Lee sangar. “Kalau boleh tahu, memang miyabi sedang berpose seperti apa? Kirim lewat Bluetooth ya.” Bisik guru Lee sepelan mungkin.

“Beres pak.” Ujar Donghae dan Eunhyuk. Sepertinya mereka bertiga, mulai berbisnis kali ini.

“Tapi pak, bagaimana dengan ponselku?” Tanya Hyukjae.

“Sudah nanti saya ganti. Kamu tenang saja.” Ujar guru Lee berbisik-bisik.

“Baiklah, duhh Bapak baik banget mau gantiin ponsel saya yang terjatuh. Jadi gak enak.” Ujar Hyukjae genit, matanya memarling nakal, dengan semburat merah dipipinya. Tampak membuatnya seperti cabe-cabean bayi bajang(?).

“Yak! Kingkong betina! Kenapa malah berbisik-bisik. Tidak jadi mengajar, eoh?” gerutu Yesung.

“Tahu nih, memang bisik-bisik apaan sih.” Tanya Jessica kepo.

“Tsk, jangan ikut-ikut. Ini rahasia kita, yak an guys.” Ujar guru Lee member aba-aba.

“Yup, pinky swear.” Sahut Donghae dan Hyukjae.

“Hoaaaaaaa.” Taeyeon, Fany, Yuri memekik bersamaan.

“Kalian bikin genk? Boleh gabung gak?” Tanya Fany penuh harap.

“Boleh gak pinky swear?” Tanya guru Lee pada Donghae dan Hyukjae. “Terserah kamu pinky swear.” Jawab Hyukjae.

Yoona, gadis itu akhirnya membuka matanya(?) setelah beberapa abad saat tertidur lelap dibangkunya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, mengumpulkan nyawanya yang entah kemana(?). alisnya mengkerut tak kala melihat pemandangan ganjil dikelasnya.

Guru Lee, Donghae, Hyukjae, Fany, Yuri, Taeyeon yang sedang berjongkok dilantai mengitari ponsel Hyukjae yang sudah tak berbentuk. Jessica yang sedang menyisir rambutnya, Sunny yang masih tersangkut diplafon atap kelas(?), Sooyoung dengan tubuh yang babak belur bak pelajar menengah atas yang sedang tawuran(?), dan sisanya siswi dan siswa lain sibuk bermain petak umpet(?).

“Ada apa ini?” Tanya Yoona yang merasa ketinggalan.

“Eh.. Yoona!” ujar Yuri senang. “Yoong, mau gabung genk kita gak?” Tanya Yuri antusias.

Genk apa?” Tanya Yoona bingung. Seingatnya, tidak ada yang membuat genk.

“Pinky Swear. Eotte? Neomu kyeopta kan?” ujar Fany dengan eye smilenya.

“Pinky Swear? Siapa saja anggotanya?” Tanya Yoona sambil berjalan menghampiri Yuri, guru Lee, dll. “Tentu saja kita-kita ini.” Ujar Yuri. Mata Yoona membulat sempurna. ‘Apa Yuri gila? Mengajak guru Lee gabung kedalam genk ini?’ –Yoona.

“Bagaimana? Mau ikutan?” Tanya Hyukjae.

“Tidak ah.” Yoona tidak mau mengambil resiko jika sudah berurusan dengan guru Lee.

***

Dilain tempat, nampaklah sesosok makhluk astral guru tampan yang sedang duduk menyendiri dipinggir lapangan basket. Senyumnya begitu menawan, dengan wajah sangat tampan miliknya. Banyak siswi yang berlalu-lalang dihadapannya sambil melempar senyum genit ke arahnya. Namun, lelaki itu sama sekali tidak mengidahkan gadis-gadis itu. Hanya senyum tipis yang dia sunggingkan.

“Rio Seongsaenim.” Panggil Yoona berlari kecil menghampiri lelaki itu. Yoona sempat melirik kekanan dan kekiri, berharap Yuri dan Fany sedang tidak berada disekitarnya.

“Nde, Yoona-ssi. Ada apa?” Tanya Rio.

“Hm, aniya. Bolehkah aku duduk disampingmu Saem?” Tanya Yoona dengan senyum terbaiknya.

“Oh, silahkan.” Ujar Rio. Yoona sangat senang mendengarnya, dengan cepat kilat dia langsung menjatuhkan dirinya tepat disamping lelaki itu. Saking bersemangatnya, sampai-sampai bokongnya terkena batu kerikil dilapangan basket tersebut.

“Awwwh.” Rintih Yoona memegang bokongnya(?).

Rio hanya menahan tawanya. ‘Kenapa gadis ini begitu polos? Aigoo.’ Batin Rio.

“Hehehe… mianhe Saem, aku memalukan ya?” Tanya Yoona malu. “Maaf ya, kalau deket-deket ama cem-ceman gini nih, suka salting.” Ujar Yoona. (Eaakk eonni:3)

Rio tertawa kecil, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal (melainkan ada panu #abaikan). Dia merasa heran, kenapa gadis-gadis disekolah ini begitu terang-terangan menganggumi dirinya? Bukankah yeoja biasanya gengsi?

“Ah bisa saja.” Rio mendorong tubuh Yoona pelan, semburat merah nampak muncul dipipi Rio.

Karena oleng, tubuh Yoona pun kembali nyungsep ke tanah. Dengan posisi yang sangat tidak enak dipandang, bibirnya yang tipis terbentur kerasnya lapangan. Membuat bibir tipisnya setebal 5cm. belum lagi, posisinya yang menjungkang dengan bokong menungging ke atas.

“HAHAHAHAHAHA.” Tawa Rio meledak.

Sial, malu sekali aku.’ Batin Yoona dalam hati.

Dengan cepat kilat, Yoona bangun dari posisinya(?). “Saem, aku kembali kekelas dulu ya?” ucap Yoona. Rio mengangguk singkat dengan tawa yang masih terdengar keras. Dengan langkah terbirit-birit Yoona berlari meninggalkan Rio Seongsaenim.

***

Yuri melangkahkan kakinya dengan anggun menuju koridor sekolah. Dilihatnya banyak para siswa yang sedang berbisik-bisik membicarakannya. Ya, Yuri sudah sangat hafal akan hal ini, dia begitu mudah menebak isi pikiran pria(?).

Kalau bukan karena dia cantik? Pasti jawabannya adalah kesexy-an tubuhnya. Oh, atau bahkan lebih dari itu. Yakni, apa warna pakaian dalam Yuri? Atau Berapa ukuran bra Yuri? Hm, siapa yang tahu isi pikiran pria-pria itu?

“Ah, itu dia pangeranku.” Ucap Yuri begitu melihat sesosok(?) manusia yang sedang berdiam diri dipinggir lapangan basket. “Lebih baik aku kesana, sebelum Fany dan Yoona mendahuluiku.” Gumamnya. Gadis itupun dengan sigap, berlari-lari kecil menghampiri sang pujaan hati.

“Rio Seongsaenim.” Panggil Yuri kencang.

Gadis itu berlari menghampiri Rio yang sedang duduk dilapangan basket. Ya, apalagi kalau bukan untuk menggoda lelaki tersebut dan memenangkan taruhan mereka?

“Nde, Yuri-ssi. Ada apa?” Tanya Rio.

“Aniya, hm… Saem tidak makan siang?” Tanya Yuri sok perhatian. Matanya berkedip-kedip beberapa kali menatap Rio.

“Kebetulan belum. Kenapa?” Tanya Rio.

“Hm.. maukah Saem makan bersamaku?” Tanya Yuri.

Rio berpikir sejenak, menimbang-nimbang ucapan Yuri. Ya, jujur saja dia belum makan siang, ditambah perutnya sejak tadi sudah berbunyi. ‘Apa sebaiknya aku menerima tawaran Yuri?’ batinnya.

“Ne Yuri-ssi, baiklah.” Ujar Rio.

“AH! JINJJA?” pekik Yuri.

Yes! Akhirnya aku berhasil. Satu tahap menuju kemenangan. Lihat saja Im Yoona, Tiffany Hwang aku yang akan memenangkan taruhan itu.’ Batin Yuri dalam hati.

“Kajja.” Yuri menggandeng tangan Rio Seongsaenim. Bergelayut manja dilengan kekar Mario. Namja itu sedikit risih dengan perlakuan Yuri, terlebih banyak siswa-siswi yang berbisik membicarakannya. Namun, Rio bisa berbuat apa? Yuri merupakan gadis yang keras kepala.

Merekapun akhirnya sampai di kantin. Dengan segera, Yuri menarik lengan Mario untuk duduk dipojokan kantin. Ya, gadis itu sengaja memilih tempat disana agar Yoona ataupun Fany tidak dapat melacak(?) mereka.

“Saem mau memesan apa?” Tanya Yuri genit.

“Samakan saja denganmu.” Ujar Rio Seongsaenim.

“Baiklah tunggu disini.”

SKIPP

20 menit berlalu….

Akhirnya, Yuri datang membawa nampan berisikan 2 gelas orange juice serta 2 mangkuk ramen panas. Dengan hati-hati Yuri menaruh minuman dan makanan tersebut. Tapi…

BYUUURRR

Kuah ramen yang masih panas itu tumpah mengenai kemeja putih Rio, begitupun dengan celana nya. “Kyaaaaaaaa~” pekik Rio kepanasan. Namja itu cepat-cepat mengibaskan kedua tangannya dibagian perutnya.

Yuri yang melihat itu langsung panik.

BYUUURR

Gadis itu menyiram kembali kemeja yang Rio kenakan dengan orang juice.

Rio semakin tidak mengerti dengan perbuatan muridnya ini. Apa yang sebenar nya dipikirkan Yuri? Kenapa gadis itu kembali menyiramnya? Bukankah, harusnya dia menolong nya?

“Apa yang kau lakukan Kwon Yuri?!” sentak Rio Seongsaenim. “Kau membuat kemejaku semakin kotor!” lanjutnya.

“Jeongmal mianheyo Saem, tapikan ku lihat Saem sedang kepanasan. Makadari itu, aku menyiram Saem dengan orange juice yang dingin ini agar tidak kepanasan.” Ucap Yuri polos.

“HUAAAAAA!!!” pekik Rio kencang.

“Ahh…. Jeongmal Mianhe Saem.” Yuri membungkukkan tubuhnya beberapa kali, raut wajahnya berubah menjadi muram. Ya, gadis itu sungguh tidak enak hati dengan lelaki dihadapannya.

“Maafkan aku Saem.” Ucap Yuri sekali lagi.

Rio terdiam, pikirannya menerawang. “Aku akan memaafkan mu… asal….” Ucap Rio tertahan.

“Asal apa?” Tanya Yuri.

Pasti dia memintaku untuk menyiumnya hihihi…. Omona! Aku juga sudah tidak sabar untuk menciumnya….’ Batin Yuri. Wajahnya memerah, matanya tertutup rapat, dan senyum sumringah terus tersungging diwajahnya.

1 menit…

2 menit…

3 menit…

Sama sekali tidak bereaksi.

Yuri membuka matanya, dia merasa aneh kenapa dari tadi dia tidak merasakan kecupan Mario dibibirnya. “Saem…” panggil Yuri pelan.

“Yuri-ssi, kau harus menraktirku! Anggap saja, sebagai ganti rugi atas apa yang telah kau perbuat.” Ucap Mario tegas.

GUBRAKKK

Yuri langsung pingsan seketika. Ternyata kenyataan tak sesuai harapannya. (poor Yuri eonni :3)

***

Fany melangkahkan kakinya dengan cepat menuju gerbang sekolah. Ya, ini saatnya untuk beraksi -mendekati Rio Seongsaenim. Gadis itu merapikan pakaian nya yang sedikit lusuh akibat harus duduk berjam-jam dibangku kelasnya. Belum lagi pelajaran fisika yang membuat otak Fany bergelombang seperti rambut coklatnya(?).

“Tsk, kalau bukan karena pelajaran BoA Seongsaenim, lebih baik aku membolos.” Gerutu Fany.

Fany membuka tas punggungnya, mencari suatu benda yang tak pernah lepas dari dirinya. Ya, apalagi kalau bukan bedak dan lipgos cherry kesukaannya. Fany membuka bedak wardah miliknya, dan mulai memakai bedak tersebut kewajah cantiknya. Begitupun dengan lipgos cherry bertuliskan maybeline kesukaannya.

“Mwahh…” Fany mengecup cermin yang ada dibedak wardah tersebut.

“Kau sungguh cantik Tiffany….” Ucapnya membanggakan diri.

Tak lama sebuah mobil sport berwarna putih melaju dihadapan Fany. Dengan gerakan cepat, Fany langsung terjun ke arah jalanan bermaksud menghentikan laju mobil tersebut. Namun…

BRUUUKKK

Fany malah terpental beberapa cm dari tempatnya berdiri. Wajahnya sudah tak berbentuk karena mencium aspal. Bibirnya menjadi monyong selebar beberapa centi. Orang yang berada dibalik kemudi itupun lekas keluar dan berjalan menghampiri Fany yang tergeletak tak berdaya.

“Fany… Tiffany!” panggil Rio –Seseorang yang berada dibalik kemudi mobil itu.

“Fany Hwang! Bangun!” Rio mengguncang-guncang tubuh Fany.

Fany sebenarnya masih sadar, dia belum sepenuhnya pingsan. Hanya saja, ini merupakan triknya, siapa tahu dengan begini dia mendapat nafas buatan dari Rio Seongsaenim(?).

“Fany-ssi… Tiffany….!!” Panic Rio.

“Apa aku harus melakukannya?” Tanya Rio ragu.

Yes, sebentar lagi aku akan dicium oleh Rio Seongsaenim. Jadi, aku yang akan memenangkan taruhan itu.’ Batin Fany.

Fany sedikit membuka matanya, dilihatnya Rio yang tengah memejam kan matanya. Ya, dugaan Fany semakin kuat bahwa Rio akan menciumnya. Buktinya pemuda itu semakin memajukan tubuhnya ke arah Fany.

“HAH~” Rio menyemburkan nafasnya yang sangat bau tepat di hidung Fany.

Bau apa ini?’ batin Fany yang masih memejam kan matanya. ‘Tidak enak sekali… seperti bau bangkai.’ Lanjutnya.

“Semoga dengan bau mulutku ini, Fany segera sadar.” Ucap Rio pelan.

“HUWEEEEEKKKK~” Fany lekas membuka matanya lebar-lebar. Dan dengan cepat kilat, dia bangkit dari posisinya. Gadis itu memandang jijik lelaki tampan dihadapannya.

“Sukurlah kau sudah sadar…” ucap Rio Seongsaenim. “Ternyata tidak sia-sia aku memakan semur jengkol buatan emak Heechul.” Gumamnya.

“MWOOOOO!!” Mata Fany membulat lebar, bahkan mengalahkan mata bulat milik Do Kyungsoo.

“Waeyo Fany-ssi? Kau baik-baik saja kan?” Tanya Rio memastikan.

Fany sudah terlanjur ilfeel dengan pemuda dihadapannya. Sudah berdandan cantik-cantik ternyata masih kena apesnya. “Gwenchana Saem.” Balas Fany jutek.

“Kau mau pulang? Bagaimana kalau pulang bersama?” tawar Rio Seongsaenim.

Fany seakan terbang melayang, tidak sia-sia dia mengorbankan dirinya hingga mencium aspal. Buktinya, pemuda itu dengan senang hati memberikan tawaran pada Fany, right?

“Nde Saem, aku mau.” Ujar Fany semangat 45.

“Baiklah. Ayo..” Rio Seongsaenim menggandeng tangan Fany.

Fany begitu senang dengan ajakan Mario, dengan semangat gadis itu berjalan cepat menuju mobil putih yang sudah terparkir dipinggir jalan. Fany dan Mario masuk kedalam mobil tersebut, Rio pun memutar kunci mobil dan mulai menyalakan mesin nya.

“Loh… kenapa ini?” Tanya Mario bingung. Pasalnya, mobilnya sama sekali tidak mau menyala.

“Ada apa Saem?” Tanya Fany ikut-ikutan bingung.

“Molla, mobilku tidak mau menyala.” Ucap Mario.

“Sebentar, akan ku check dulu.” Mariopun memutuskan keluar, untuk mengecek apakah ada –sesuatu- yang membuat mobilnya tidak mau menyala.

“Fany, bisakah kau membantuku?” ujar Mario.

“Tolong dorong mobilku ya, aku akan mencoba menyalakannya sekali lagi.”

Hah! Apa-apaan dia? Dia pikir aku ini jongos?! Seenaknya saja menyuruhku.’ Batin Fany.

Dengan raut muram diapun terpaksa melakukan apa yang baru saja diperintahkan oleh guru tampan pujaan hatinya. Dengan susah payah, Fany mulai mendorong mobil putih itu. Ya, tenaganya tidak cukup kuat untuk mendorong beratnya mobil tersebut.

“Tiffany! Cepatlah! Dorong yang kuat!” pekik Mario dari kemudi depan.

“Cih, seenaknya saja dia menyuruhku! Tahu begini lebih baik aku ikut pulang bersama Yoona dan Yuri.” Gerutu Fany. “Nasib… Nasib… nelangsa banget cyinnn…” Ucap Fany lesu.

***

Besoknya, Fany, Yoona, dan Yuri memutuskan untuk berkumpul dihalaman belakang sekolah. Ya, ada sesuatu yang perlu mereka bahas kali ini.

“Aku tidak sudi! Sudah cukup!” sentak Fany kencang.

“Ya… kau benar Fany-ah.” Yuri menyetujui ucapan Fany. “Aku tidak jadi ikut taruhan itu.”

“Jadi kalian tidak ingin melanjutkan taruhan itu?” Tanya Yoona.

“TIDAK!!!” Tegas Fany dan Yuri.

“Baiklah, kita batalkan taruhan kita… kalian benar, dia memang agak-agak aneh, ya meski dia sangat tampan.” Ucap Yoona.

“Setuju!” Fany ikut mendukung ucapan Yoona.

“Lebih baik kita cari bahan buat taruhan… asal jangan dia!” ujar Yuri.

“Bahan? Bahan apa? Bahan prakarya?” Tanya Fany polos.

PLETAKKK

“Bahan uji nyali!” sulut Yuri emosi. “Ya tentu saja bahan taruhan bodoh,”

“OH.” Fany hanya ber-oh ria.

“Tidak jangan taruhan,” usul Yoona.

“Lalu, apa?” Tanya Yuri bingung.

“Bagaimana kalau nilai?” Tanya Yoona.

“Maksudmu?”

“Kita harus belajar dengan giat, untuk mendapat nilai tertinggi? Bagaimana?” ucap Yoona.

“NDE????!!! APA KAU SUDAH GILAAA???!” Pekik Fany dan Yuri heboh.

“Sudah saat nya kita berubah. Toh, sebentar lagi kita akan menginjakan kaki di jenjang yang lebih tinggi. Apa kau tidak mau mendapat nilai bagus, agar diterima di universitas ternama? Huh?”

“Yoona, apa yang terjadi padamu?” Fany berjalan mendekat memegang kening Yoona.

“Tidak panas.” Ucap Fany polos.

“Sepertinya dia bersungguh-sungguh Fany-ah, kita memang harus berubah.” Ujar Yuri.

“AKKKKKKKK!! AKU TIDAK MAU!!!” Pekik Fany melengking.

“Stop Fany! Kenapa kau berteriak-teriak!” kesal Yoona.

“Aku tidak mau berubah Yoong, aku mau menjadi Fany yang tetap unyu-unyu, cute, lucu, come’ (Bahasa Malaysia –diupinipin-). Aku tidak mau berubah menjadi superman, cat women, apalagi hulk. Shiero!!!” Tegas Fany.

“Dasar gila.” Cibir Yuri.

“Bukan begitu maksudku babo!” kesal Yoona.

“Kita harus berubah menjadi anak yang lebih baik, buktikan kepada semua orang termasuk pada Rio Seongsaenim bahwa kita bukanlah gadis bodoh. Suatu saat kita juga pasti sukses.” Ujar Yoona.

“Apa aku tidak salah dengar Yoong? Kata-kata mu bijak sekali.” Kagum Yuri, matanya berbinar-binar memandang Yoona.

“Yak! Jangan menatapku seperti itu! Aish!”

“Yasudah… kita berjanji untuk menjadi gadis yang lebih baik. Tidak boleh membolos, tidak boleh membully adik kelas, tidak boleh mengerjai teman-teman sekelas apalagi Gajah Sumatera itu, harus mendapat nilai B ya kalau bisa sih A, harus sayang kepada dua Orang Tua, Harus hemat, harus rajin menabung, @#$%^&&*(()))&^%&….. bla… bla… blaa……” Ucap Yoona.

Yuri dan Fany sampai mengantuk mendengar celotehan Yoona. Bahkan, dengan perlahan mereka memejamkan matanya.

“Kalian mengerti?” Ujar Yoona setelah panjang lebar mendongeng #plakk.

“Eh!?” kagetnya melihat Yuri dan Fany yang sudah tertidur.

“Tsk, dasar gadis menyebalkan.” Yoona pun ikut membaringkan tubuhnya tidur bersama Yuri dan Fany.

Persahabatan memang indah, terlebih jikalau kalian memiliki sahabat yang benar-benar terbuka dengan kalian dan memiliki tingkah konyol yang menggemaskan. –Yoona.

Menjadi lebih baik, seperti yang diajarkan Yoona Seongsaenim… hihihi… –Yuri.

Demi apapun, aku bersumpah tidak akan jatuh cinta pada pemuda hanya karena ketampanannya saja. Buat apa tampan, kalau dia menyebalkan? Terlebih berusaha sendiri demi menggapai cita-cita itu lebih baik. Dibanding harus melibatkan soal –cinta dan taruhan-. –Fany.

 

END

Oke, ini ending nya gaje banget…

Entah kenapa, aku agak males ngetik cerita ini… jadi mohon maaf kalau tidak sesuai harapan >.<

Aku terima kok kritikan pedasnya, yang siap dilontarkan kepadaku #Eaakk :3

Jeongmal mianhe guys … >.< sekali lagi, makasih sudah membaca FF ku dan meninggalkan komentar :D<3 /bighug/.

2 thoughts on “Who Is He? [2/2]

  1. Buahahaha gokiiiiillllll..ak smpe ngakak bc.a😀
    trlbihh pas fany ngrep dpt ciuman eh malah melsat jauh wkwkw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s