Who Is He? [1/2]

Who is He

“Who Is He?” [1/2]

Author: Pingkan

Main Cast: Im Yoona | Tiffany Hwang | Kwon Yuri

Other Cast: Mario Maurer (Thailand Actor)

Genre: Friendship | Comedy gagal(?) | Teen | School Life | Little bit Romance

Rating: PG 13 | Lenght: Two-Shoot

Disclaimer:

FF ini murni buatan Author. So, jangan ada yang memplagiat FF ini yoo~. Dibutuhkan kritik dan saran nya, jadi jangan malas-malas untuk berkomentar yaa. Apapun komentar kalian, author pasti menghargai itu. Dan semoga terhibur~

Happy reading❤

Summary:

Yoona, Yuri, dan Fany merupakan gadis yang nyaris ‘sempurna’. Namun, mereka bertiga sangat lemah dibidang pendidikan. Nilainya selalu saja, ‘F’ belum lagi tingkah mereka yang selalu berbuat onar. Sampai suatu hari mereka dipertemukan dengan lelaki yang mengubah drastis kehidupannya.

.

Siapa dia? Kenapa dia begitu tampan.

Oh Tuhan! Semoga saja aku bisa mendapatkannya.

.

.

Yoona, Fany, dan Yuri merupakan ketiga gadis cantik yang berpredikat sebagai ‘yeoja populer disekolahnya. Selain cantik, mereka juga kaya dan Fashionista. Maka tak ayal, banyak pria yang menaruh hati pada ketiga gadis cantik tersebut.

Namun, meski mereka hampir mendekati kata ‘Sempurna’ mereka merupakan siswi yang bodoh dan siswi yang paling jahil. Bahkan tak jarang, guru-guru di sekolah Hanlim Multi Art School sering memberikan mereka hukuman. Yang tak lain dan tak bukan adalah membersihkan toilet atau membersihkan gudang tua atau bahkan memunguti sampah dilapangan sekolah. bukankah itu memalukan?

Tapi, mereka bertiga seolah terbiasa dengan ‘menu santapan’ mereka disekolah.

Ya, urat malu mereka sepertinya sudah putus.

TAP… TAP… TAP…

Langkah ketiga gadis itu, begitu menggema dilorong kelas bertuliskan ‘XII-E’. Siapa lagi, kalau bukan Im Yoona, Tiffany Hwang, dan Kwon Yuri. Kelas XII-E merupakan kelas dengan nilai terbawah, dibanding kelas XII-A yang menjadi kelas unggulan.

“Yuri, kau membawa alat make up ku?” Tanya Fany, begitu dia sampai dibangkunya.

Tiffany Hwang, gadis cantik yang gemar sekali berdandan. Bahkan, ke sekolahpun dia tak lupa membawa alat make-upkesayangannya. Dia adalah sahabat dekat Yoona dan Yuri. Merupakan gadis yang paling lemot diantara kedua teman-temannya.

“Aku tidak membawanya, tanyakan saja pada Yoona.” Seru Yuri yang tengah asik dengan gadget nya.

Kwon Yuri, gadis cantik yang sangat suka berselca. Ya, dia merupakan gadis dengan paras cantik dan sexy, maka tak jarang dia berselca dengan pose-pose sexy atau bahkan pose alay demi menaikan pamornya sebagai siswi populer. Fans laki-lakinya pun sangat banyak dibanding Yoona dan Fany.

“Yoona, kau melihat alat make up ku tidak?” Tanya Fany dengan gusar. Gadis itu sibuk mengobrak-abrik tas sekolahnya. Mengeluarkan semua peralatan yang ada didalam tasnya. Mulai dari sisir, bedak, brush, cermin hello kitty, pita, pembalut(?), pensil inul(?), buku monokurobo, dll.

Parahnya, dia sama sekali tidak membawa buku pelajaran dalam tas sekolahnya.

“Aniya.” Yoona menggelengkan kepalanya pelan.

Im Yoona, gadis cantik nan anggun yang memilik wajah seperti malaikat. Namun, dibalik parasnya yang seperti malaikat, Yoona merupakan gadis yang sangat jahil. Dia merupakan siswi terkaya disekolahnya, makadari itu banyak pria yang mendekatinya hanya karena ingin menguasai harta kekayaan milik Ayahnya.

“Tsk, kemana alat makeup ku ya.” Fany mencerutkan bibirnya kesal.

“Kau lupa menaruhnya, mungkin.” Ujar Yoona enteng.

“Tidak Yoong, aku ingat. Tidak mungkin lupa.” Bantah Fany.

“Eh! Aku ingat!” Ucap Fany kemudian.

Yoona dan Yuri menatap Fany dengan tatapan malas. Ya, gadis itu selalu saja berbuat onar dengan suaranya yang melengking dan kepanikannya yang sangat menggelikan. Begitupula dengan sifat pelupanya.

“Sudah ku bilang, mungkin kau lupa menaruhnya.” Yoona menyilangkan kedua tangannya didada. Menatap Fany dengan tatapan malas.

“Hehehe… maaf aku lupa..” Fany hanya tertawa lebar memperlihatkan gigi putihnya.

KRIINGGG KRIIINGG KRIINGGG

Bel masukpun berbunyi, semua siswa-siswi pun duduk dengan rapih dimejanya masing-masing. Menantikan, sosok guru gendut berkepala botak yang sangat galak yang tak lain adalah Lee Seongsaenim. Mereka semua memberikan julukan ‘Gajah Sumatera’ kepada guru Lee. Ya, selain karena bentuk tubuhnya dia juga sangat galak.

“Annyeonghaseo anak-anak.” Ucap guru Lee.

“Annyeong.” Balas mereka serempak kecuali, Yoona, Yuri, dan Fany.

Kalian sudah pasti tahu, apa yang tengah dilakukan ketiga gadis cantik itu. Ya, Fany sedang memonyong-monyongkan bibirnya menorehkan lipbalm berwarna pink cherry kesukaannya. Yuri sedang berpose sexy dibangku paling belakang dengan tongsis yang ada ditangannya. Dan Yoona, terlihat sedang melempari Jessica dengan beberapa irisan mentimun.

“YOONA!! YURI!! DAN TIFFANY!! APA YANG KALIAN LAKUKAN!!!” pekik guru gendut berkepala botak, Lee Seongsaenim.

Fany yang mendengar pekikan itu langsung terkejut. Torehan lipbalm dibibirnya pun akhirnya belepotan kesana-sini membuat wajah Fany menjadi tak karuan.

“AARGGHH!!! WAJAH CANTIKKU!!! ANDWAEEEEEEE!!!” Pekik Fany histeris.

“Yak! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berteriak-teriak? Kau pikir ini di rumahmu? (Baca: Hutan).” Bentak Fany tak kalah kencang.

Sepertinya gadis cantik itu belum sadar, dengan siapa dia berurusan.

“Hey! Fany! Dia itu Gajah Sumatera.” Bisik Seohyun memperingati Fany.

“EH? GAJAH SUMATERA?? OMONA!! MATILAH AKU!” pekik Fany histeris.

“NONA HWANG!!! SIAPA YANG KAU SEBUT ‘GAJAH SUMATERA’ HAH?!”

Fany langsung beringsut takut, menggelengkan kepalanya berkali-kali. “An-aniya Saem.”

Yuri yang sedang memegang tongsis pun akhirnya melempar tongsisnya dia begitu terkejut dengan lengkingan guru Lee.

PLUKKK

“Yak! Kwon Yuri!!!” pekik Taeyeon kencang. Kepala gadis malang itu kini benjol akibat terkena tongsis Yuri yang melayang indah(?).

Sementara Yuri hanya bisa tertawa pelan menunjukan wajah tanpa berdosanya.

“Maafkan aku ya bocil.” Ya, Bocil (Bocah Kecil) merupakan ledekan yang sesuai untuk gadis bernama Kim Taeyeon. Yuri menepuk-nepuk pelan pundak Taeyeon yang tidak terlalu tinggi.

“Jangan memanggilku bocil, gadis tongsis.” Geram Taeyeon.

“Yak!!! Apa kau bilang!!” murka Yuri.

Yoona yang sedang asik melempar irisan mentimun itu masih tidak sadar dengan pekikan lantang guru gendut itu. Guru gendut itu pun berjalan dengan perlahan ke arah Yoona.

“Stt… Yoona!! Yoona!!” bisik Taemin pelan.

“Woyy!! Yoona! Yoona!!” Sunny ikut berbisik.

“Im Yoona!! Yoona!!” Yesung ikut membantu meneriaki gadis cantik itu.

Tapi, naas. Gajah Sumatera itu sudah lebih dulu sampai dibangku Yoona. Dengan tegas, guru gendut itu menorehkan penghapus papan tulis diwajah Yoona. Mulai dari pipi kiri, dan pipi kanan. Sungguh! Wajah Yoona sangat tidak karuan saat ini.

“YAK!! SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN INI PADAKU!!!!” Pekik Yoona lantang. Dia menoleh kearah kiri, untuk melihat siapa yang berani berbuat seperti ini padanya.

“KWON YURI!! TIFFANY HW-“ Pekikan Yoona terhenti begitu melihat Gajah Sumatera itu tengah berkacak pinggang dengan kaca mata bertengger dihidungnya.

GLEKK

Yoona meneguk kasar salivanya. Berusaha untuk bersikap normal.

“Eh ada Lee Seongsaenim.” Yoona memasang wajah angelic nya plus dengan cengiran lebar andalannya.

“Kalian bertiga! Ikut aku keruang guru setelah jam pelajaran selesai!” Ucap Lee Seongsaenim tegas. Dirinya menuding satu persatu wajah cantik Yoona, Yuri, dan Fany.

“Tap… Tapi… Tapi.. Tapi Saem, aku kan tidak-“

“Tidak ada tapi-tapian! Selesai jam pelajaranku, kalian harus ikut ke ruang guru!” bentak Lee Seongsaenim memotong ucapan Yuri.

“Tsk, dasar Sapi gelonggongan.” Rutuk Yoona.

“Cih, si Gajah Sumatera itu membuat wajah cantikku hancur!! Huwaaa…” Fany menatap pantulan wajahnya di cermin kecil hello kity kesayangannya.

“Jangan berbisik-bisik! Saya masih mendengar apa yang kalian katakan!”

Ketiga gadis itu langsung bungkam, dalam hati ketiga gadis cantik itu masih saja merutuki sikap guru tersebut. Ya, kalau bukan karena guru gendut itu, mungkin ketiga gadis cantik itu sukses menjalankan misi mereka.

***

Yoona, Fany, dan Yuri hanya terdiam didepan pintu ruang guru, sekolah mereka. Tak ada yang berniat masuk kedalam. Nampak nya ketiga gadis ini sangat takut untuk berhadapan dengan Gajah Sumatera sekolah mereka.

“Kau duluan Yoong,” Yuri mendorong tubuh Yoona yang berada didepannya.

“Tsk, aku? Kau saja.” Yoona balik mendorong tubuh Yuri.

“Fany-ah, kau saja yang duluan.” Yoona mendorong tubuh ramping Tiffany.

“Loh? Kok aku! Shiero! Yuri saja.” Fany ikut mendorong tubuh Yuri.

“Fanyku yang cantik, di dalam sana Lee Seongsaenim tengah bersama Namja Tampan. Kau yakin tidak ingin melihatnya duluan?” rayu Yoona sambil mengedipkan sebelah matanya.

Fany langsung tersentak, mata nya berbinar-binar begitu mendengar kata ‘Namja Tampan’.

“Jinjjayo?” Tanya nya ragu.

“Nde.” Balas Yoona dan Yuri bersamaan.

“Baiklah, kalau begitu aku saja yang pertama.” Seru Fany sumringah.

Dalam hati Yoona dan Yuri tertawa puas karena sahabatnya sangat mudah tuk dibodohi. Ya, sikap Fany yang polos dan lemot dibandingkan kedua temannya membuatnya mudah ditipu. Terlebih, jika dia mendengar Namja Tampan pasti Fany akan langsung mengiyakan perintah Yoona dan Yuri.

CEKLEKKK

Dengan perlahan Fany membuka knop pintu ruangan Lee Seongsaenim. Didalamnya, hanya terdapat Gajah Sumatera itu seorang tak ada Namja tampan ataupun orang lain lagi. Ya, sudah pasti Fany akan mengamuk setelah ini.

Fany menoleh kebelakang, menatap Yuri dan Yoona dengan tatapan death-glarenya.

Yoona dan Yuripun hanya memasang wajah polosnya serta cengiran lebarnya.

“Kalian! Duduklah!” Ucap Lee Seongsaenim singkat.

Ketiga gadis itu dengan ragu menuruti seruan Lee Seongsaenim. “Nde, Seongsaenim.”

“Im Yoona, Tiffany Hwang, dan Kwon Yuri. Apa kalian tahu, kesalahan kalian?” Tanya Lee Seongsaenim.

Ketiga gadis cantik itu mengangguk takut.

“Sudah saya tekankan beberapa kali! Bahwa kalian harus memperhatikan guru yang sedang mengajar dikelas! Jangan berbuat onar! Terlebih, kalian ini wanita!” tegas Lee Seongsaenim.

“Memang siapa yang bilang kami Pria, Saem?” Tanya Fany polos.

UPSSS!

Yoona dan Yuri bersiap mengambil ancang-ancang untuk menutup kedua telinga mereka rapat-rapat. Atau kalau tidak, telinga mereka bisa tuli akibat raungan Lee Seongsaenim.

Hana…

Deul…

Set…

“TIFFANY HWANGGG!!!!!”

“Tsk, berisik sekali kau gendut! Pftt.” Cibir Yoona pelan.

“Yak! Im Yoona! Kau juga mau ikut-ikutan kuberi hukuman? Eoh?” Sentak Lee Seongsaenim. Nyali Yoonapun langsung ciut ketika mendengar sentakan Lee Seongsaenim.

“Mianhe, Saem.” Yoona langsung mengumpat dibalik punggung Yuri.

“Saya sudah lelah memperingatkan kalian. Kalian ini adalah calon masadepan bangsa, harus nya kalian belajar dengan benar agar bisa meneruskan cita-cita para pahlawan. Bukannya seperti ini!” geram Lee Seongsaenim.

“Cih, manasudi aku meneruskan cita-cita bangsa, toh apa urusannya denganku. Yang terpenting, aku harus menjadi model terkenal.” Gumam Yuri dengan senyuman anehnya. Pikirannya melayang memikirkan dirinya yang tengah berpose sexy dipantai dengan para kru Indosiar. (-___-)

“Tsk, kenal juga tidak dengan para pahlawan, manamungkin aku bisa meneruskan cita-citanya. Cita-citaku saja belum tercapai.” Gumam Yoona (pukpukyaeon:3)

“Saem, kenapa harus kami? Kenapa bukan Saem saja yang meneruskannya?” ujar Fany polos.

Aigoo! Kenapa Fany makin kelewat batas seperti ini. Bisa celaka kita!’ batin Yoona dan Yuri.

Lee Seongsaenim menatap tajam kedua mata indah Tiffany. Ya, aura tak bersahabatpun muncul bersamaan dengan suara petir, gledek, topan, angin puyuh(?), dll. Fany hanya diam, sambil tersenyum manis menatap Gajah Sumatera dihadapannya.

“TIFFANY HWANG! JANGAN BANYAK MEMBANTAH!!!”

“Nde, Saem.” Fany hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Dalam hati, dia masih bingung kenapa Gajah Sumatera ini terus meneriaki namanya.

Ck, kenapa selalu saja aku yang dibentak! Ini tidak adil. Huweeee Eomma, Appa…’ batin Fany.

“Saya akan memberikan kalian pelajaran tambahan, saya sangat pusing dengan nilai kalian. Apa kalian tidak pernah belajar dirumah?! Hah! Selalu saja huruf ‘F’ yang kalian dapat. Apa kalian tidak ingin mendapat nilai ‘A’?!” tegas Gajah Sumatera (Baca: Lee Seongsaenim).

Yuri menggelengkan kepalanya polos.

“Sudah takdir, mau diapakan lagi.” Yoona mendesah pasrah. (Yaampun eon, makanya belajar-___-).

“Guru Lee, F itu tidak buruk. Buktinya F=Fany, Fany kan cantik dan imuet bingitsszzz gitu loch. Ya kan pinky swear kitty swear banana cherry strawberry melon apel duku duren swear.” Ujar Fany dengan gaya twinkle-twinkle nya. (Bayangin Mv TTS-Twinkle o_o).

Guru Lee menganga lebar-lebar, bahkan beberapa lalat sudah hinggap dibibirnya (Ewwwh-__-)

“Tsk, dasar anak kurang ajar!!!” murka guru Lee.

“Kita memang kurang ajar, karena tidak ada yang mengajari kita Pak.” Sedih Yoona dengan raut wajah memelasnya.

“Kasihan sekali kau nak.” Guru Lee ikut berduka cita (?), menebar mawar merah dan sesajen disekitar Yoona.

“Kyaaa!!! Apa yang kau lakukan Gentong Minyak!!” seketika Yoona menutup kedua mulutnya. Sungguh! Yoona keceplosan saat ini.

“Tsk! Enak saja Gentong Minyak! Kau centong sayur!” bentak guru Lee sambil berkacak pinggang.

“Yak! Kau seperti tembok china.” Fany ikut membantu Yoona.

“Kau seperti ulat nangka!”

“Kau seperti babi Air!”

“Kau mirip hidung koala!”

“Kau mirip tempurung kura-kura!”

Fany, Yoona, dan guru Lee terus saja melempar ocehan-ocehan tidak penting. Sementara Yuri, sedang asik berselca dipojokan. Dia sibuk memonyong-monyongkan bibirnya, bergaya ala cherrybelle, bahkan seperti andhika kangen band(?).

“SUDAH SUDAH!! JANGAN BERTEMAN!!”

“JANGAN BERTENGKAR, GENDUT!!”

“YAK!! TIDAK SOPAN SEKALI KAU PADA GURUMU!! KAU TAHU?!! KALAU TIDAK ADA GURU!! PASTI TIDAK ADA MURID!!”

“Kami sudah tahu, Saem.” Balas Yuri singkat.

“Kembali ketempat duduk kalian! CEPAT!!” Bentak guru Lee.

Fany dan Yoona pun kembali ketempat duduknya. Yuri yang tengah duduk dipojok ruangan, ikut menimbrung ketempatnya semula.

“Saem, apa kita akan diberi hukuman lagi?” Tanya Yoona hati-hati.

Guru Lee menggeleng pelan, memegang kepalanya yang berdenyut-denyut. Sungguh! Cobaan terberat baginya adalah menghadapi ketiga gadis tidak waras dihadapannya.

“Jeongmalyo, Saem?” Tanya Yuri tidak percaya.

Guru Lee mengangguk malas. “Aku hanya akan memberikan kalian pelajaran tambahan!”

“Nde? Bukankah kami sudah mendapatkannya?” Tanya Yoona bingung.

“Kali ini bukan dengan saya! Tapi dengan….”

Ucapan guru Lee terhenti sejenak. Mereka berempat, mengalihkan pandangannya kearah pintu. Tampaklah sesosok cabe-cabean,hm maksudnya sesosok lelaki tinggi, berkulit putih, dengan rambut hitam legam, dan wajah nya tampan.

Fany terbengong ditempatnya, bahkan air liurnya sampai menetes-netes ke lantai.

Yuri memasang wajah sexynya, dia bahkan belum sadar bahwa air liur Fany menetes mengenai rok seragamnya.

Yoona hanya diam, matanya tak berkedip menatap lelaki itu.

“Dia yang akan menjadi guru kalian.” Ucap guru Lee.

“MWO!! JINJJAYO SAEM?!” Pekik mereka bertiga.

“Arghhhh!!!! Dia sangat tampan. Aku pasti rajin kalau begini caranya.” Gumam Fany.

“Tampan sekali, apa dia sudah punya pacar? Sahabat? Teman? Istri? Tetangga? Teman tapi mesra? Atau yang lainnya?” beribu pertanyaan menyerang pikiran gadis sexy, bernama Kwon Yuri.

“Omona!! Apa ini yang namanya Cinta?!” Yoona bahkan tak berkedip memandang lelaki itu.

Lelaki itu melanjutkan langkahnya, kini dia tepat berdiri dihadapan Yoona, Yuri, dan Fany.

“Annyeong, Mario Maurer Imnida, aku yang akan menjadi guru kalian, guru pelajaran tambahan lebih tepatnya.” Ucap lelaki itu, sambil tersenyum manis.

“Kau bisa berbahasa Korea? Bukankah kau berasal dari gua hira? (Yakali, eon-___-) China?” Tanya Yoona.

“Aku berasal dari Thailand, ya aku sedikit menguasai bahasa Korea.” Ucap Mario.

“Kurasa aku akan meleleh, Tahan aku Yul! Tahan aku!!” Ujar Fany, tubuhnya mulai meringsut kebawah. Namun, Yuri hanya diam saja pandangannya masih tersita menatap Mario. Hal itu membuat Fany tergeletak tak berdaya dilantai.

“Yak! Yuri! Ku bilang kan tahan aku!!” Fany mulai berdiri dari posisinya. Dan membenarkan seragamnya, tak lupa melihat riasan diwajahnya menggunakan cermin hello kitty kesayangannya.

“Hm… Hai Mario Seongsaenim, Tiffany Imnida.” Fany mengedipkan sebelah matanya. Ia tak sadar, bulu mata palsu yang dipakainya sampai lepas dari tempatnya(?).

“Hai Saem, Kwon Yuri Imnida.” Yuri mengginggit kecil bibirnya, memberikan nuansa sexy pada penampilannya. Namun…

“Arghh!! HUWEEEEEE EOMMA” jerit Yuri.

Ya, gadis sexy itu malah mengginggit bekas sariawan dibibirnya.

“Hello Saem, Yoona Imnida.” Ucap Yoona dengan senyum terbaiknya. Bahkan, gigi-gigi putihnya bersirnar terkena pantulan sinar matahari. Membuat semua orang disana merasa kesilauan.

Mario hanya tersenyum, keningnya mengerut bingung. Kenapa anak didiknya aneh sekali meski ya… bisa diakui mereka sangat cantik.

Kenapa gadis-gadis ini seperti orang gila. Arghh!! Eomma!! Tahu begini aku tidak usah menerima tawaran menjadi guru dikorea. Lebih baik aku melanjutkan karierku menjadi artis di thailand’ batin Mario.

***

Hari esoknya, Mario, Fany, Yoona, dan Yuri sudah berada dikelas XII-E. Ya hanya ada mereka berempat dikelas itu, setelah jam pelajaran usai. Semua teman-teman Yoona dkk sudah lebih dulu melangkahkan kaki keluar kelas. Ya,sudah pasti mereka sedang bersantai-santai dirumah. Tidak harus dipusingkan dengan pelajaran tambahan, seperti sekarang ini.

Tapi, bagi Fany, Yoona, dan Yuri semua itu bukanlah hal yang buruk, terlebih bila ada guru setampan Mario yang mengajarnya. Bahkan, bila harus berbulan-bulan belajar tambahan sepulang sekolah, mereka rela. Ya, asal ada Mario disana.

“Saem, ayo kita mulai pelajarannya.” Pinta Fany manja.

“Tsk, dasar genit. Jangan menggoda caparku!” sindir Yoona.

“Capar? Apa itu?” Tanya Fany bingung.

“Calon pacar, babo!” ucap Yoona.

“Tsk, kau ini terlalu berharap Yoong. Sudah pasti, Mario Seongsaenim jatuh cinta kepadaku. Iyakan… My Baby honey Mario.” Genit Yuri dengan wajah Sexynya.

Mario meneguk salivanya kasar, dia sungguh takut dengan kelakuan anak didiknya yang agresif.

“Bisa kita mulai pelajaran hari ini?” Tanya Mario takut.

“BISA GAK YA? EMANG MAU AJA? APA MAU BANGET?” ucap Yoona, Yuri, dan Fany bersamaan. Matanya memarling nakal ke arah Mario.

Mario menggelengkan kepalanya, pantas saja dia dibayar mahal untuk menjadi guru disekolah ini. Terlebih, guru ‘pelajaran tamabahan’ pula. Ya, muridnya saja adalah ketiga gadis tidak waras.

“Mau Banget deh -___-.” Ujar Mario Pasrah.

“Ihh, lucu deh kamu baby..” Yuri kembali mengedip-ngedipkan matanya.

Tuhan! Bunuh aku sekarang! Bunuh aku!! Huwaaa…..!!’ batin Mario.

“Sekarang, bagaimana kalau kita belajar matematika?” Tanya Mario.

“Kalau belajar mencintaimu, boleh?” Tanya Yoona polos.

“Boleh gak eakk.” Jawab Mario.

“Boleh aja dong, nanti aku kasih photo terbaru aku loh(?).” Ujar Yuri.

Bodoamat!’ batin Mario.

“Sudah! Sudah! Serius sekarang!” tegas Mario.

“Aku udah serius, kamu yang gak pernah nyeriusin aku. Hiks.. hiks…” Fany kemudian galau.

Dia melangkahkan kakinya menuju pojokan kelas, dia pun segera duduk dipojokan kelas sambil menangis histeris, bahkan ingusnya pun sudah meluber-luber. Ditangan kirinya, sudah tersedia kanebo untuk menghapus air matanya.

Yoona, Yuri, dan Mario terbengong melihat ulah Tiffany. Gadis itu benar-benar tidak waras.

“Bisakah kita mulai pelajaran kali ini? Saya tidak punya banyak waktu.” Ujar Mario yang mulai geram.

“Kamu mau kemana? Mau ketemu sama selingkuhan kamu? Jadi, selama ini kamu benar-benar nyelingkuhin aku kan? Hayo ngaku! Tega ya kamu…. Tega!!” pekik Fany dengan suara melengkingnya.

“Sakitnya tuh disini….” Fany memegang dadanya, tatapan nya begitu malang seperti anak tiri.

“Tiffany Hwang? Apa yang kamu lakukan? Sudah duduk! Kembali kebangku mu! Atau kau akan ku keluarkan dari dalam kelas ini!” bentak Mario.

“Tidak apa kalau kamu mau ngeluarin aku dari kelas ini, asal jangan keluarin aku dari hati kamu #eaakk:3<3.” Fany langsung berkedip-kedip gaje(?).

Ya Tuhan! Cobaan apalagi yang akan kau berikan padaku?!’ batin Mario.

“Fany! Yuri! Jangan berbuat ulah dong. Kalian gak kasihan ama Mario Saem?” tegur Yoona.

Mario menatap Yoona dengan tatapan tidak percaya, gadis itu membelanya? Oh sungguh baik sekali.

Sukurlah masih ada satu muridku yang waras.’ Batin Mario tersenyum lega.

Caper dikit gapapa kan? Siapa tau, dengan begini gue dijadiin pacarnya hihihi…’ batin Yoona.

Yoona senyum-senyum sendiri, membayangkan dirinya menjadi sepasang kekasih dengan Mario.

Dan dengan kesabaran Extra, Mario pun menjalankan tugasnya sebagai guru ‘Pelajaran tambahan’ dengan baik. Meski, kendala terus menghinggapinya, belum lagi tingkah aneh Yoona, Yuri, dan Fany.

Sebagai guru yang baik, sudah seharusnya Mario memberi nasehat atau wejangan pada ketiga gadis cantik nan agresif seperti mereka.

“Hari ini pelajaran matematikanya, cukup sampai disini.” Ujar Mario dengan senyum manisnya.

Sukurlah, berakhir sudah penderitaanku kali ini.’ Batin Mario.

“Saem… jangan katakan itu, kita pasti bisa bahagia bersama selamanya.” Ucap Yuri pelan, menatap lekat kedua manic mata Mario. Sepertinya gadis ini mulai tertular firus kelebayan Fany.

“Nde Saem, kita pasti bertemu lagi… kita tidak mungkin berpisah.” Timpal Fany menggenggam erat tangan Mario.

Mario kembali mendesah lesu, ya tingkah mereka sepertinya sangat sulit untuk dijinakkan.

Mario menatap gadis cantik yang hanya diam dibangkunya, sepertinya gadis itu lebih mending(?) dibandingkan kedua temannya. Ya, dia adalah Im Yoona.

“Yoona-ssi, apa kau tidak pulang? Kenapa diam saja disitu.” Seru Mario.

“Sebentar lagi, Saem.”

“Oh begitu, ya sudah ya sampai bertemu besok.” Mario melangkahkan kakinya keluar kelas. Menyisakan Yoona, Yuri, dan Fany dikelas XII-E itu.

“Tsk! Lihat saja, aku pasti bisa mendapatkan guru tampan itu.” Ujar Yuri sungguh-sungguh.

“Ck, dalam mimpimu Nona tongsis.” Ejek Fany.

“Yak! Gadis lemot kau pikir Mario Seongsaenim mau denganmu? Hah!? Kau saja tidak nyambung bila diajak bicara. Hahahaha…” ledek Yuri.

Fany sangat geram dengan tingkah sahabatnya.dia pun menyumpal mulut Yuri dengan kanebo yang tadi ia gunakan untuk menghapus air matanya.

“Huweeeeee!!!!! TIFFANY HWANG!!!!” Jerit Yuri.

“HAHAHAHAHAHA.” Yoona dan Fany pun hanya tertawa melihat keadaan Yuri, yang tersiksa.

“Bagaimana kalau kita taruhan, hm?” tantang Yoona.

“Taruhan? Taruhan apa?” Tanya Yuri bingung.

“Stt, Yoona-ah! Kita tidak boleh taruhan! Itu sama saja judi, judi itu dosa tau! Kata pak ustad… bla… bla… bla… bla…..” Fany mulai mendongeng .

Yoona dan Yuripun sampai mengantuk, mendengarnya.

Hampir sepuluh menit berlalu (Weilah-___- lebay lu thor), akhirnya Tiffany menghentikan ceramahnya. Fany begitu terkejut, melihat Yoona dan Yuri yang sudah tertidur pulas dibangkunya.

“Yak!! Kenapa dia malah tertidur!!! Aigooooooooo.” Rutuk Fany.

“Hey! Bangun! Bangun! Bangun, babo! Dasar kebo!!” oceh Fany mengguncang-guncangkan tubuh Yoona dan Yuri.

“Eh!? Sudah selesai ceramahnya, Fany?” Tanya Yoona polos.

Fany mencerutkan bibirnya sebal. “Tsk, terus saja membullyku!”

“Hahahaha… kau sangat cocok jadi ‘Mamah Fany dan Aa’ Siwon’ wakakakakak.” Ejek Yuri.

“Yak! Siwon mantanku, babo!” geram Fany.

“Eh Yul, ku lihat-lihat, Fany sangat cocok bermain film. Aktingnya sangat bagus.” Puji Yoona.

“Eh? Jinjja? Duh, aku jadi malu :$.” Fany mulai salting.

“Hah? Jeongmalyo?” heran Yuri. “Film apa? ‘Si babo dari gua hira?’ atau ‘Dendam nyi Fany?’ atau ‘Fany the explorer?’ atau ‘Mak Fany pengen naik haji :’)’ “ tebak Yuri.

“Kau tahu, Fany-ah! Kau sangat cocok shooting film di indosiar. Ya, drama kolosal yang nggak bingittssss gitchuuu.” Logat alay Yuri mulai kambuh(?).

“Tsk! Kau suka sekali mencari gara-gara denganku! Awas kau Kwon Yuri!”

“CIATTTTTTTTT” Fany berlari ke arah Yuri, dengan penghapus papan tulis ditangannya. Dia bersiap untuk menyerang(?) Kwon Yuri.

Yuri yang menyadari itu, tidak mau kalah. Diapun mengambil sapu dikelasnya dan mulai berperang dengan Tiffany(?). Yoona hanya diam, duduk manis menatap kedua sahabatnya.

Sepertinya, hanya Yoona yang agak waras dibandingkan Fany dan Yuri.

“Sudah! Cukup!” sentak Yoona melarai keduanya.

“Bagaimana dengan tawaranku tadi, apa kalian setuju?” Tanya Yoona.

“Tawaran apa? Tawaran pekerjaan?” Tanya Fany bingung.

“Ish, aku sudah memberitahukannya tadi!!!” pekik Yoona.

Yuri dan Fany saling berpandangan, kemudian mereka berdua saling menggelengkan kepalanya. “BELUM!! IM YOONA!!!” Pekik mereka berdua.

“Eh? Belum ya? Hohoho… mian aku lupa.” Ujar Yoona dengan wajah polosnya.

“Jadi begini, bagaimana kalau kita bertaruh untuk mendapatkan Seongsaenim?” Tanya Yoona.

“MWO!!” pekik Fany dan Yuri kencang.

“SHIERO!!” Tolak mereka bersamaan.

“Waeyo? Kenapa kalian tidak mau? Bukankah kalian menyukainya?” Tanya Yoona bingung.

“Kau saja, aku sungguh tidak mau!” tolak Fany mentah-mentah.

“Baiklah, kalau begitu biar aku saja.” Ujar Yoona gembira.

“Yoong, kau sedang tidak sakit kan?” cemas Yuri.

“Nde, aku sedang tidak sakit. Kenapa?”

“KAU MAU DENGAN GAJAH SUMATERA ITU? AIGOOO!!! APA INI TANDA-TANDA KIAMAT?” histeris Yuri.

PLETAKKKK

“Yak! Enak saja! Kalau dengan Gajah Sumatera itu aku juga tidak mau. Meski kalian membayarku dengan uang 3 juta won! Tetap saja aku tidak akan mau!”

“Maksudku, Mario Maurer. Mario Seongsaenim, Babo!”

“OHHHHHHHHHH” balas Fany dan Yuri.

“Kalau begitu, aku mau.” Ucap Fany semangat.

“Aku juga!” Yuri tak kalah semangat.

“Yasudah kalau begitu, mulai besok kita akan bersaing. Tapi ingat, secara sehat ya!” ucap Yoona.

“Tenang Yoong, aku sedang sehat kok. Aku tidak sakit.” Ucap Fany polos.

“TERSERAH!!” Sentak Yuri dan Yoona bersamaan.

 

TBC

 

Oke, kalau kepo sama kelanjutannya jangan lupa komentar yaa…

Sebenarnya, ini ga terlalu komedi. Aku lebih nyeritain tentang ‘persahabatan dan cinta’ mereka #eeakkk :3 . ya, berhubung iseng aja jadi aku tambahin komedi-komedi gaje gitu deh. Maaf kalau kurang lucu >.<

Sekian… dan terimakasih . paypay~~~~~

10 thoughts on “Who Is He? [1/2]

  1. haha gila gak berentibbaca ni fff
    biasanya klobbaca yg baahasany gak baku gini suka males tpi klo ini ngerasa pas keren thor

  2. ijin bca ea thor, & slam kenal

    wah wah wah….bagus bagus . gw ska ceritanya
    duhhh Ppanyku sayang kau sungguhhhh eeemmmmm Lemot ….

    lanjut thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s