Camera

camera

“Camera”

Author: Pingkan

Main Cast: Jung Soo Jung | Kim Seok Jin

Genre: Romance | Fluff | Teen

Length: One-shot | Rating: G

Summary:

Hanya karena sebuah kamera, mereka dipertemukan.

.

.

.

JEPRETT JEPRETT JEPRETT

Kilatan cahaya yang keluar dari suara jepretan kamera paraloid itu mulai terdengar, tidak lama sebuah photo hasil dari jepretan itu mulai tampak. gadis itu mengambil hasil dari jepretannya dan mulai melihat hasil karyanya.

“Hm, lumayan. Tapi, kenapa ini masih kurang sempurna.” Gumamnya.

Gadis itu kembali memotret sekali lagi, ia berharap hasilnya kali ini lebih baik dibanding yang tadi. Gadis cantik itu mulai membidik objeknya dengan serius, manik matanya menatap fokus bidikannya. Pikirannya harus fokus tidak boleh buyar sedikitpun, atau kalau tidak hasilnya akan sama saja.

JEPRETT JEPRET JEPRETT

Suara kilatan itu kembali terdengar. Gadis itu sudah tidak sabar melihat hasil jepretannya yang kedua. Saat kamera itu mengeluarkan selembar photo, tangan gadis itu menarik photo tersebut dan mengkibas-kibas nya sebentar.

“Bagus.” Ujarnya sembari tersenyum senang.

“Aku harus kepantai sekarang, semoga saja aku kembali menemukan objek yang bagus.” Ujarnya.

Gadis cantik itu berjalan menuju halte bus, menunggu sebuah bus kota yang akan membawanya ke busan. Di busan, terdapat pantai yang sangat indah menurutnya. Ya, gadis cantik yang hobby sekali dengan fotografi ini bernama Krystal, gadis cantik yang mempunyai nama lengkap Jung Soojung.

Tidak lama bagi Krystal menunggu sebuah bus untuk menuju ke busan, karena memang bus ke busan sangat mudah untuk dijumpai. Krystal melangkahkannya masuk kedalam bus, setelah bus datang. Iapun berjalan mencari tempat duduk dipinggiran jendela. Itulah kebiasaannya, alasan Krystal memilih tempat duduk dipinggir jendela adalah agar ia dapat memotret pemandangan yang menurutnya indah disepanjang perjalanannya.

Tidak lebih dari 3 jam, kini Krystal sudah berada di pantai Busan.

Krystal begitu terpesona melihat hamparan air laut yang berwarna biru terang. Kedua manik matanya sudah disambut deburan ombak yang menggelung indah, kaki jenjangnya disapa lembut oleh pasir pantai yang putih bersih, ditambah hari yang sebentar lagi senja dengan gradasi warna yang menakjubkan, dan burung-burung diatas langit menambah kesan plus pada pemandangan alam yang tak ada duanya ini.

Krystal begitu menyukainya, ia memang sangat menyukai pantai.

Bahkan, Krystal tak berkedip walau hanya sedetikpun. Rasanya, ia tidak ingin melewatkan waktu sedikitpun untuk menatap pemandangan indah dihadapannya. Pantai memang mampu membius Krystal.

JEPRETT JEPRRET JEPRETT

Krystal menjempret beberapa objek yang menurutnya menarik dengan kameranya. Krystal sampai pada titik yang menurutnya sangat berbeda. Seorang lelaki yang tengah bermain shurfing dipantai. Krystal tersenyum memperhatikan objek nya itu. Entah apa yang membuatnya sampai berani memandang lelaki itu, padahal ia tidak pernah mengenal lelaki itu sebelumnya.

“Objek yang bagus.” Gumamnya.

Krystal kembali membidik lelaki itu dengan kamera paraloidnya. Berharap, kamera paraloidnya akan menampilkan hasil yang sangat menawan seperti aselinya.

JEPRET JPERETT

Krystal tersenyum senang, saat melihat hasil karyanya begitu memuaskan. Ia pun mulai berjalan menyurusi sepanjang sudut pantai ini, semoga saja dia banyak menemukan objek menarik lainnya.

“Apakah hasilnya bagus?” Tanya sebuah suara mengejutkan Krystal.

“Eh?” kagetnya.

Mata Krystal dan lelaki itu bertemu pandang, keduanya saling menatap tepat dimanik mata mereka, Krystal merasa gugup saat mengetahui Namja yang tengah jadi objeknya kini sudah berada dihadapannya. Apa lelaki ini tahu, hal yang sudah Krystal perbuat. Memotret lelaki itu untuk dijadikan objeknya.

“Ku Tanya, apa hasilnya bagus? Apa aku boleh melihatnya?” ulang lelaki itu.

Dengan perlahan, Krystal memberikan hasil foto tersebut pada pemuda itu. “Igeo.” Ucapnya.

Lelaki itu tersenyum manis begitu melihat hasil foto itu. Lelaki itu kini menatap Krystal lekat-lekat membuat Krystal sedikit gugup bila harus dipandang dari jarak sedekat ini. “Kau sangat berbakat menjadi seorang fotografer.” Puji lelaki itu.

Krystal tersenyum malu. “Ah, aku masih sangat amatir.” Balas Krystal sungkan.

“Aniya, kau hebat. Aku suka karyamu.” Balas lelaki itu.

“Namaku Kim Seok Jin, panggil saja Seokjin.” Ujar lelaki itu sembari mengulurkan tangannya dihadapan Krystal.

Krystal pun membalas uluran tangan Seokjin. “Namaku Jung Soo Jung, panggil saja Krystal.” Balas Krystal.

“Krystal? Nama yang bagus. Begitu bersinar terang menawan, kilauannya bahkan mengalahkan sinar mentari pagi. Kecantikannya mempunyai nilai yang sangat berharga, begitu anggun dan sangat mempesona. Siapapun pasti ingin memilikinya, saat seseorang memilikinya ia akan menjaganya dengan separuh jiwa tanpa berniat untuk melukainya.” ucap Seokjin.

Krystal tercekat mendengarnya. Apakah ia tidak salah dengar? Kenapa Seokjin pandai merangkai kata-kata yang dapat membuat Krystal tertegun mendengarnya.

“Eh?” Krystal tak mampu membuka suara. Ia sudah cukup terbuai dengan ucapan Seokjin.

“Maaf ya kalau aku tidak sopan.” Balas Seokjin canggung, ia menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.

“Ne, tidak apa. Oh iya, kau sangat menyukai shurfing?” Tanya Krystal basa-basi.

Seokjin mengangguk mantap, menatap kembali gadis cantik dihadapannya. “Tumben sekali aku melihat gadis cantik sepertimu sangat menyukai fotografi. Hal apa yang membuatmu sangat menyukai dibidang fotografi?”

Krystal dan Seokjin berjalan beriringan disekitar pantai. Keduanya masih terlibat perbincangan akrab.

“Aku menyukai fotografi karena menurutku hal-hal yang menawan dan indah itu patut untuk diabadikan. Kita tidak akan tahu sampai kapan kita mampu melangkah, mampu melihat, mampu bergerak, atau bahkan mampu melaksanakan aktifitas kita seperti biasa. Saat aku tua nanti, aku ingin menunjukan sekilas hal yang paling menawan dan indah pada cucu-cucuku. Hahaha… itu hanya asumsiku saja sih.” Ujar Krystal sambil tertawa pelan.

Seokjin ikut tertawa bersamanya. Suara tawa mereka menjadi melodi indah yang ikut meramaikan suasana pantai. Hari semakin senja, matahari pun mulai terbenam. Siluet diri Krystal dan Seokjin mulai tampak dipasir pantai yang putih bersih.

“Hari semakin senja, sebentar lagi sunset.” Ujar Krystal gembira.

Seokjin terkekeh melihat sikap Krystal yang begitu senang dengan sunset. “Kau menyukai sunset? Kenapa?”

“Karena sunset sangat indah, kau bisa melihat gradiasi warna yang menakjubkan. Aku bersukur sampai sekarang masih bisa melihat ciptaan Tuhan yang sangat mempesona itu.” Jelas Krystal.

“Bagaimana kalau kita berfoto, saat sunset? Pasti hasilnya sangat bagus.” Saran Seokjin.

Krystal terkejut mendengar ucapan Seokjin. Ia dan Seokjin, akan berfoto bersama?

“Hm, baiklah.” Ujar Krystal. Krystal mengedarkan pandangannya mencari tempat yang cocok untuk mereka berfoto. Pandangannya tertarik pada sebuah batu besar yang tak jauh dari posisinya kini.

“Ah disana, bagaimana?” Tanya Krystal.

“Di batu karang besar itu?” tunjuk Seokjin, Krystal mengangguk mantap.

“Baiklah, ayo.” Seokjin menarik tangan Krystal, sebelah tangannya membawa papan shurfingnya menuju bebatuan karang besar.

Dengan hati-hati Krystal dan Seokjin berdiri disana. Keduanya saling berpandangan dan tersenyum lebar. “Kau siap?” Tanya Seokjin. Krystal mengangguk mantap.

“Ayo kita hitung mundur.” Ajak Seokjin.

“3…2…1… JEPRETT.”

Selembar foto itu pun keluar dari kamera paraloid Krystal. Seokjin dan Krystal sama-sama melihat selembar foto itu. Keduanya tertawa bersama melihat hasilnya. Sangat bagus, mereka berdua cocok sebagai model fotografer.

“Kau berbakat menjadi model, Seokjin-ssi.” Puji Krystal.

“Ah, benarkah?” Tanya Seokjin gugup.

“Ne, benar.” Balas Krystal dengan tawa kecilnya.

“Bagaimana kalau aku jadi modelmu? Ku lihat, kau tidak punya model sebagus aku kan. Hahaha…” canda Seokjin.

Krystal ikut tertawa mendengarnya. “Boleh saja, asal kau harus jadi model yang baik.” Ujar Krystal sembari menjulurkan lidahnya berniat menggoda Seokjin.

“Hey, aku sudah baik tahu.” Ucap Seokjin. “Hari sudah semakin malam, kau tidak pulang?” Tanya Seokjin.

“Sebentar lagi.” Balas Krystal.

“Bagaimana kalau ku antar?” Tawar Seokjin.

Krystal menggeleng pelan. “Tidak usah, tidak perlu Seokjin-ssi.”

“Hey, aku kan sudah jadi modelmu sekarang. Aku tidak mau tahu, kau harus mau ku antar, tidak pakai tapi-tapian!” ancam Seokjin dengan senyumnya.

Krystal mengangguk dan tersenyum manis.

***

 Sejak saat pertemuan singkat Seokjin dan Krystal, kini keduanya menjadi teman akrab. Seokjin sudah menjadi model Krystal sekarang. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama untuk hunting dan juga sekedar menemani Krystal untuk memotret berbagai macam Objek yang indah.

“Krys.” Panggil Seokjin pelan.

“Ne, Seokjin Oppa. Waeyo?” Tanya Krystal bingung.

“Ku lihat kau tidak pernah lepas dari kameramu, apa kau tidak lelah?” Tanya Seokjin.

“Aniya Oppa, bagiku kamera paraloid ini adalah segalanya.” Balas Krystal.

Seokjin mengangguk paham mendengar penjelasan Krystal.

“Bagaimana kalau kamera mu itu hilang atau rusak?” Tanya Seokjin hati-hati.

“Entahlah, aku tidak berpikiran sampai situ. Mungkin aku akan move on dari kameraku ini untuk menggantinya dengan yang baru atau aku akan melakukan hal yang lain.” Balas Krystal.

“Sebaiknya kau tidak perlu meninggalkan bidang seni fotografi. Kupikir, kau sangat berbakat dibidang ini. Suatu saat nanti kau pasti sukses.” Ujar Seokjin.

“Bagaimana dengan Oppa? Apa yang akan Oppa lakukan selain bermain shurfing dipantai? Dan menjadi modelku?” Tanya Krystal.

“Aku akan meneruskan bidang yang ku geluti sejak lama, arsitek.”

“Mwo! Jinjjayo?” heran Krystal.

“Hahaha.. iya, aku sangat suka mendesign apapun.” Balas Seokjin.

“Tsk, kau curang! Baru kali ini kau mengatakannya padaku.” Krystal berpura-pura kesal, ia mempoutkan bibir tipisnya dan melipat kedua tangannya didada.

Seokjin tertawa gemas melihat Krystal. Ia mencubit hidung mancung milik Krystal gemas.

“Yak! Oppa sakit.” Keluh Krystal sambil mengusap hidungnya.

“Hahaha… Maaf. Kau terlalu menggemaskan.” Seokjin mengacak-acak rambut ikal milik Krystal. Krystal merasa degup jantungnya berpacu cepat, Oh Tuhan! Seokjin selalu pandai membuat jantungnya berdegup kencang dan membuat pipinya bersemu merah.

“Ish! Jangan memberantaki rambutku. Aku sudah kesalon tadi pagi, tahu?” omel Krystal.

“Wah? Benarkah? Apa karena kau ingin bertemu denganku makanya kau pergi kesalon tadi pagi? Hm?” goda Seokjin.

Krystal merasa telah salah bicara, dengan tegas Krystal membantah tuduhan Seokjin.

“Enak saja! bukan untuk Oppa tahu.” Ujar Krystal sembari cemberut.

“Terserah kau saja. sudah cepat, habiskan makananmu. Lusa, kau maukan menemaniku kekota myeongdong?” Tanya Seokjin.

“Untuk apa pergi kesana?”

“Sudah tidak perlu membantah, turuti saja.” Seokjin tersenyum lembut menatap Krystal.

“Baiklah.”

***

Hari yang ditunggu Seokjin dan Krystal pun tiba. Sepasang manusia ini kini telah berada di kota Myeongdong, Korea Selatan. Keduanya ikut berbaur ditengah hiruk pikuk manusia yang nampak seperti lautan. Kota ini dikenal dengan daya tariknya yang menawan, maka tak jarang turis local maupun manca negara pasti akan menyempatkan diri untuk pergi ke kota ini.

Seokjin memakai t-shirt berwarna hitam dengan celana jeans biru nya, tak lupa ia juga mengenakan sepatu converse hitam kesayangannya.

Sedangkan Krystal, mengenakan t-shirt berwarna putih dengan hotpants belel miliknya. Ia juga mengenakan kemeja fanel untuk memadu t-shirt putihnya. Serta sepatu converse merah dan satu lagi yang tak akan pernah Krystal lupakan, kamera paraloid kesayangannya yang selalu menggantung indah dileher putih Krystal.

Seokjin menggenggam tangan Krystal dan melangkahkan kakinya beriringan dengan Krystal membelah jalanan Myeongdong yang tengah padat merayap ini.

“Oppa, kenapa membawaku kemari?” Tanya Krystal bingung.

“Oppa ingin memberikan sesuatu kejutan untukmu. Sudah, ikuti saja.” Seokjin tersenyum menyeringai menyembunyikan sesuatu hal yang tidak Krystal ketahui.

Krystal hanya bisa pasrah dengan perlakuan Seokjin. Ia menuruti saja ucapan Namja itu, tanpa adanya ucapan protes sedikit pun.

“Sudah sampai.” Ujar Seokjin.

“Waw!” Puji Krystal. Matanya sudah disuguhkan dengan sebuah pameran tradisional Korea yang sangat jarang digelar di Seoul ataupun Busan. Bahkan pameran itu hanya akan datang 1 tahun sekali.

“Kau sengaja mengajakku kesini untuk melihat pameran?” Tanya Krystal.

Seokjin mengangguk-anggukan kepalanya.

“Terimakasih Oppa,” Ujar Krystal senang.

Krystal berjalan mendekat kearah pameran, menyiapkan kamera paraloid yang tergantung di lehernya. Krystal berkali-kali mengambil gambar pameran itu.

JEPRETT JEPREET

JEPRETT JEPRETT

JEPRRET JEPRET

Krystal melihat hasilnya, ia tersenyum puas. Hasilnya sangat benar-benar menakjubkan. Krystal berlari kearah Seokjin, untuk memamerkan hasil karyanya.

“Oppa lihatlah, bagaimana menurutmu?”

“Bagus, sudah kubilang kan kau itu berbakat.”

Krystal tersenyum malu mendengarnya.

“Ada satu hal lagi yang ingin Oppa tunjukan. Ayo.” Seokjin kembali menggenggam tangan mungil Krystal. Membawa gadis itu pergi bersamanya, menerobos kerumunan orang-orang yang tengah berjalan.

Krystal dan Seokjinpun sampai di pusat kota Myeongdong.

“Kau tunggu disini, jangan kemana-mana.” Titah Seokjin.

Seokjin pun menghilang dari hadapan Krystal, tidak lama kemudian Namja tampan itu kembali datang kehadapan Krystal. Tangannya menggenggam sebuah permen kapas dan sebelah tangannya lagi Seokjin sembunyikan dibalik punggungnya.

“Igeo.” Ujar Seokjin memberikan permen kapas yang berada disebelah tangannya.

“Untukku?” Tanya Krystal.

Seokjin mengangguk dan tersenyum manis.

“Gomawo.”

“Cheonmanayo.”

Krystal mulai memakan perlahan demi perlahan permen kapas pemberian Seokjin. “Apa Oppa mau?” tawar Krystal namun Seokjin menggeleng pelan.

“Tidak usah, itukan untukmu.” Tolak Seokjin halus.

Krystal merasa aneh, lantaran Seokjin terus saja menyembunyikan sebelah tangannya dibalik punggungnya.

“Apa yang Oppa sembunyikan?” Tanya Krystal.

Ia mencoba untuk melihatnya namun Seokjin terus menghalanginya. Sambil tersenyum meledek Krystal. Krystal mulai kesal, karena Seokjin tidak mau memberitahu apa yang Seokjin sembunyikan darinya.

“Cepat Oppa, katakan padaku. Apa yang kau sembunyikan!” pinta Krystal.

“Tidak mau, ini rahasia tahu.” Balas Seokjin sembari menjulurkan lidahnya.

“Tsk, kalau Oppa tidak memberitahukannya padaku. Aku akan marah pada Oppa.” Ancam Krystal.

“Jadi kau berani mengancamku, huh?” Seokjin menaikan sebelah alisnya.

Krystal melipat kedua tangannya didada. “Makanya beritahu!” geramnya.

Seokjin lantas berlutut dihadapan Krystal ditengah banyaknya orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya. Banyak Orang yang langsung memperhatikan Krystal dan Seokjin saat ini. Krystal merasa gugup dan malu, semburat merah dipipinya pun mulai nampak.

“Yak! Oppa apa yang kau lakukan? Cepat bangun!” bisik Krystal tajam.

Seokjin tertawa pelan melihat kepanikan Krystal.

Seokjin akhirnya menyerah, memperlihatkan sesuatu yang sedari tadi bersembunyi dibalik punggungnya. “Igeo.” Ujar Seokjin sembari memberikan sebuket mawar merah untuk Krystal.

Krystal menatap Seokjin tak percaya. Tangan mungilnya, menutup mulutnya yang terbuka lebar.

“Oh iya, aku lupa. Ada satu hal lagi yang akan kutunjukan padamu.” Ujar Seokjin. Seokjin merogoh sesuatu dikantung celananya.

“Jung Soojung, maukah kau menjadi kekasihku? Aku berjanji akan menjagamu dengan separuh jiwaku, selalu menyayangimu, dan selalu berada disampingmu sampai maut menjemputku. Mungkin, ini terdengar seperti sebuah gombalan semata. Tapi, aku bersungguh-sungguh pada ucapanku, jadi bagaimana keputusanmu Soojung?”

Seokjin membuka sebuah kotak beludru berisikan sebuah kalung dengan bandul kecil berbentuk hati.

Semua orang yang memperhatikan Seokjin dan Krystal tampak bersorak-sorak ricuh. Mereka ikut terbawa suasana bahagia yang tengah dirasakan Seokjin dan Krystal.

“Tapi, apa tidak terlalu cepat Oppa. Apa kau benar-benar yakin memilihku?” Tanya Krystal ragu.

Seokjin menggeleng dan tersenyum pasti. “Aku tidak pernah ragu dengan keputusan ku, Krys. Aku sudah menyukaimu sejak kita bertemu dipantai 1 tahun lalu. Bagiku, itu sudah cukup membuatku yakin dengan keputusanku.”

Krystal mengangguk dan mengambil sebuket mawar merah dari tangan Seokjin.

“Aku mau menjadi kekasihmu, Oppa.”

Seokjin berdiri, lalu ia memakaikan sebuah kalung yang berada ditangannya pada leher Krystal.

PROKK PROKK PROOKK

Semua orang disana langsung bertepuk tangan bahagia melihat Krystal dan Seokjin. Krystal sangat bahagia saat ini, Seokjin dapat membuatnya seperti seorang dewi sekarang. Krystal merasakan cairan bening jatuh membasahi pipinya. Namun bukan tangis kesedihan ataupun kekecewaan, melainkan tangisan bahagia.

“Uljjima, Krys.” Ucap Seokjin, sembari menghapus air mata Krystal dengan kedua tangannya.

“Aku bahagia Oppa, sangat bahagia. Terimakasih.” Krystal langsung memeluk tubuh tegap Seokjin. “Ini adalah kejutan teristemewa untukku.” Imbuhnya.

“Aku akan selalu membuatmu bahagia. Selalu memberikan kejutan yang tak pernah kau lupakan dalam hidupmu. Karena kau segalanya, Krys. Nan jeongmal Saranghaeyo.”

Krystal tersenyum bahagia mendengarnya. “Nado Saranghaeyo Oppa.”

 

FIN

Gimana FF nya?

Duh pengennya dibikin yang coweet-coweetan eh malah jadi tijel begini >.<

Jangan lupa komentarnyaaaaa😀

9 thoughts on “Camera

  1. Tor manis banget sih aaaaaaaa. Gue maalah ngebayangin nya ccowoknya itu kai wkwkwk. Ya ampun tor semangat buat karya Stal Stal yg lainnya😀

  2. Wah bagus bagus author, ff bts sm krystal,, ceritanya romantis~
    Kerenlah (y) happy endingnya so sweet haha🙂 makasi author buat ff ini , suka pairingannya😀 yang penting ada krystal suka pastinya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s