I Remember

I Remember

“I Remember”

Author: Pingkan

Main Cast: Jung Soojung | Park Jimin

Genre: Romance | Sad

Length: One-shoot | Rating: PG 15

Summary:

Aku mengingatnya… mengingat semua tentangmu dan aku. Tentang manis dan pahitnya semua hal yang telah kita lalui. Apa kau mengingatnya?

.

.

.

            “Kau datang? Ku kira, kau tidak akan pernah datang kemari Soojung-ah.” Ucap Jimin samar-samar, angin berhembus kencang kearah mereka. Keduanya terdiam kaku bak patung mannequen diatas jembatan kota Seoul.

Jimin mengeratkan jaket tebalnya. Membuatnya hangat ditengah musim dingin yang melanda Korea Selatan saat ini. Kepulan asap keluar dari mulut dan juga hidung pemuda itu, menandakan suhu disana sangat dingin.

Jimin melirik sekilas gadis disampingnya, memastikan gadis itu baik-baik saja ditengah cuaca dingin seperti ini. Memang mereka berdua sengaja memilih tempat diluar ruangan dibanding didalam rumah atau sebuah kedai kopi favorite mereka.

Mereka hanya akan memflashback sekilas tentang dimana awal mereka bertemu hingga mereka menjadi sepasang kekasih dan berujung pada perpisahan, lantaran keegoisan masing-masing.

“Aku akan selalu datang.” Gumam gadis itu pelan, yang dapat didengar Jimin dengan baik.

Jimin tersenyum tipis, menarik ujung bibirnya untuk menyunggingkan sebuah senyuman.

“Hm, aku tahu. Itu hanya prediksiku saja.” Jimin tertawa kecil, menatap hambar suasana didepannya. Matanya terkunci menatap air laut yang tertutupi butiran salju. Seperti hatinya yang tertutup kerinduan yang mendalam pada gadis dihadapannya.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Soojung.

Jimin sontak menoleh dan menatap gadis itu tepat dimanik mata nya. Apa ia tidak salah dengar? Soojung menanyakan kabarnya? Ya, sudah lama Jimin tidak mendengar pertanyaan itu dari Soojung bahkan sudah lebih dari 3 tahun lamanya. Sejak 4 tahun lalu mereka memutuskan untuk berpisah.

“Aku baik-baik saja. bagaimana denganmu?”

Soojung tersenyum manis menatap lekat Jimin. “Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat.”

Jimin ikut tersenyum menatap gadis yang dulu mengisi hatinya, mewarnai harinya, membuatnya hanya terpaku pada gadis bernama Jung Soojung. Memadu kasih selama 5 tahun lamanya, dan berakhir hanya karena sebuah pristiwa kecil. Jimin mengingat semuanya, sangat jelas terekam dalam memori otaknya.

“Apa kau masih menyukai hujan?” Tanya Jimin.

Gadis itu mengangguk. “Aku masih menyukainya.”

“Bagaimana dengan Cappucino late? Sandwich? Ddabokki? Ramen? Kimchi? Susu madu?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Jimin, Jimin hanya ingin mengetes apa gadis dihadapannya ini masih sama dengan Soojung yang dulu? Soojung yang ditemuinya sejak 10 tahun lalu diswalayan saat kedua Ibu mereka berbelanja disana.

Soojung terkekeh mendengar rentetan pertanyaan Jimin. “Aku masih menyukai semuanya Oppa. Tidak ada yang berubah sedikitpun.” Ucap Soojung sambil memperlihatkan eye smilenya.

Jimin tersenyum lega mendengarnya. Soojung masih tetap sama. Tapi, apakah perasaannya masih tetap sama? Seperti saat dia dan Jimin bersama.

“Bagaimana denganmu, Jimin Oppa?” Tanya Soojung.

Jimin mengangguk pelan. “Aku masih tetap sama seperti Jimin yang kau kenal 10 tahun lalu, Soojungie.” Balas Jimin.

Soojung tersentak mendengar ucapan Jimin.‘Soojungie’ itu adalah panggilan yang sejak lama Soojung rindukan. Ia sangat rindu, saat Jimin berteriak memanggilnya, saat Jimin merengek memanggilnya, ataubahkan saat Jimin menatapnya mesra.

Soojung merasa tidak tahu harus berbuat apa lagi, ia kembali diam dalam kebisuannya.

“Kau sudah selesai melanjutkan studymu di London?” Tanya Jimin.

Soojung mengangguk pelan hal yang dilakukannya selalu saja sama, kalau tidak mengangguk ya tersenyum. Soojung sudah kehabisan kata-kata. Ia tidak mampu bercerita banyak dengan mantan kekasihnya ini. Atau, akan membuat perasaan yang sudah susah payah ia hilangkan, menjadi datang kembali.

Jangan buat aku mengulang kembali, kisah lama kita Oppa. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menguburnya menjadi kenangan terindah.

“Lalu, kau akan kembali menetap di Korea? Atau tinggal di London selamanya?” Tanya Jimin.

Dalam hati, Jimin ingin berkata ‘Jangan pergi, berikan aku satu hari saja untuk bersamamu. Biarkan aku memelukmu, mengecup bibir tipismu, menatap kedua manik mata yang paling aku sukai, dan melakukan semua hal yang kita sukai bersama-sama’. Tapi, apa Jimin mampu mengucapkan semua itu?

“Aku akan kembali menetap di Korea.” Ujar Soojung.

Jimin terlonjak kaget mendengarnya, apa Tuhan baru saja mengabulkan do’a nya. Apa Tuhan sengaja membuat mereka kembali terhanyut dalam indahnya cinta yang telah mereka rajut selama 5 tahun lamanya itu.

“Benarkah?”

Soojung mengangguk pasti, tersirat jelas dimatanya bahwa ia ingin kembali. Kembali disaat mereka masih bersama-sama merajut cinta. Kembali menjadi kekasih Jimin yang manja, yang egois, dan yang paling diutamakan oleh Jimin.

“Soojung-ah, apa kau ingin Cappucino late kesukaanmu?” Tanya Jimin.

“Boleh, bagaimana kalau kita pergi menuju kedai kopi langganan kita?” saran Soojung.

“Baiklah, ayo.” Jimin dan Soojung berjalan bersama-sama dibawah hujan salju yang mengguyur kota Seoul. Keduanya lengkap menggunakan jaket tebal, sarung tangan, syal, dan yang lainnya.

Tidak perlu menempuh waktu lama bagi Jimin dan Soojung untuk sampai menuju kedai kopi itu. Lantaran lokasinya yang tidak terlalu jauh dari jembatan tempat mereka bertemu saat ini.

Sampailah mereka berdua didalam kedai kopi langganan mereka. Jimin sengaja memilih tempat yang berada disudut ruangan, dimana lokasinya sangat dekat dengan jendela. Ya, Jimin masih hapal betul tempat kesukaan Soojung.

“Kau mengingatnya?” Tanya Soojung tidak percaya.

“Hal apa yang membuatku melupakan walau hanya satu hal pun darimu.” Canda Jimin dengan senyuman khasnya.

Soojung terkekeh dan mulai menggeser bangku untuknya duduk. Kini Soojung dan Jimin duduk berhadapan, keduanya kembali terlibat perbincangan.

“Bagaimana kabar Ahjjuma dan Ahjjusi?” Tanya Jimin membuka suara.

Jimin sangat dekat dengan Ayah dan Ibu Soojung, maka tak heran bila Jimin berani menanyakan kabar Ayah dan Ibunya. “Appa dan Eomma sangat baik, bagaimana dengan Ayah dan Ibumu Oppa?” balas Soojung.

“Mereka berdua sangat baik. Eomma bilang, sudah lama ia tidak melihatmu. Ia mengatakan bahwa dirinya rindu dengan tingkah manis bayi kecil bernama Soojung.” Ucap Jimin sambil tertawa, Soojung pun ikut tertawa bersamanya.

“Yak! Kau kira aku bayi kecil. Aku sudah dewasa Oppa, bukan bayi lagi.” Kesal Soojung.

Soojung mempoutkan bibir mungilnya dan melipat kedua tangannya didepan dada. Hal ini persis, seperti apa yang Soojung lakukan setiap ia kesal dengan Jimin 5 tahun lalu. Jimin tersenyum miris memperhatikan tingkah Soojung, memori otak nya bekerja menampilkan klise-klise kejadian beberapa tahun lalu.

Soojung sadar, bahwa tingkah nya tadi akan membuatnya dan Jimin terperangkap pada masa lalu. Dengan secepat kilat, Soojung merubah posisinya menjadi duduk dengan tenang. Namun, masih kentara sekali bahwa Soojung merasa resah.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Jimin melihat gelagat aneh mantan kekasihnya.

“Aku baik-baik saja, Oppa.” Balas Soojung.

“Permisi Tuan, Nyonya ini pesanan anda.” Ucap seorang pelayan memotong pembicaraan mereka.

“Terimakasih.” Ujar mereka bersamaan.

Soojung dan Jimin kembali bertemu pandang, keduanya lalu terkekeh atas sikap masing-masing. Begitu menggemaskan dan sangat lucu.

“Soojungie, kau mau ini?” Tanya Jimin sambil menyodorkan sebuah potongan steak di garpunya. Soojung mengangguk pelan. Jimin pun menyuapi potongan steak itu kemulut Soojung.

HAP

“Hm, enak.” Ujar Soojung dengan tingkah manjanya.

Jimin tertawa kecil melihatnya, ia pun menggeleng pelan melihat Soojung yang belepotan saus steak diujung bibirnya. “Hey, lihatlah wajahmu. Diujung bibirmu masih ada noda saus. Jadi begitu cara makan orang dewasa? Bukankah lebih mirip disebut anak kecil, huh.” Goda Jimin.

“Yak! Dimana Oppa. Apa sudah hilang?” Soojung panik seketika, ia mengambil selembar tissue dan mengelap daerah sekitar bibirnya.

“Belum, tsk kau ini. Kemarikan wajahmu.” Ujar Jimin.

Soojung memajukan wajahnya beberapa centi, sampai wajahnya dan wajah Jimin terlampau dekat. Keduanya mulai gugup, namun Jimin masih terfokus untuk menghapus sisa noda di ujung bibir Soojung.

“Hm, maaf.” Ucap Jimin.

“Ne, Gwenchana.” Balas Soojung.

“Soojung, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Tanya Jimin hati-hati.

“Ne, Waeyo Oppa katakan saja.” balas Soojung.

Jimin memegang tangan Soojung, menggenggam nya erat-erat. “Maukah kau kembali, Soojung? Kembali menjadi milikku. Kembali menjadi ratu dihatiku. Aku masih sangat mencintaimu.” Tutur Jimin.

Soojung hanya diam mencerna perkataan Jimin. Ia masih terlalu bingung, harus berkata apa membalas ucapan mantan kekasihnya yang masih sangat dicintainya. Namun, Soojung takut. Takut jikalau melukai hati Jimin untuk kedua kalinya. Ia tidak ingin, kembali melukai hati pemuda ini.

“Tapi Oppa.” Ujar Soojung tertahan.

“Kenapa? Apa kau sudah punya kekasih?” Tanya Jimin, suaranya mulai bergetar.

Soojung menggeleng pelan. “Bukan itu, aku hanya takut.” Ucapnya pelan.

“Takut apa? Apa yang harus kau takuti? Selama kita bersama, semua akan baik-baik saja.” hibur Jimin.

“Aku takut kembali melukai hatimu untuk kedua kalinya, aku begitu menyayangimu Oppa. Makadari itu, aku tidak mau kau kembali terluka suatu saat nanti.” Soojung meyakinkan Jimin dengan penuturannya.

Jimin masih menatap Soojung lekat-lekat dan tersenyum manis. “Tidak apa bila aku harus tersakiti karenamu, asal kita terus bersama. Aku tidak bisa bila hidup tanpamu Soojung. Kau sudah melekat dalam nadiku, mengalir menjadi satu dengan darahku. Aku hanya ingin kau yang selalu mengisi hari-hariku bukan dia ataupun mereka.” Balas Jimin yakin. Soojung bisa melihat ketulusan Namja itu, lewat perkataannya dan sorotan mata teduh Jimin.

“Maaf Oppa, aku tidak bisa.” Balas Soojung.

Jimin menatap Soojung pasrah, mungkin ini memang takdir mereka yang tidak bisa kembali bersatu. Jimin mulai menerima keputusan Soojung dengan lapang dada. Ia senang, setidaknya ia sudah mengungkapkan perasaannya.

“Baiklah kalau begitu.” Lirih Jimin. Jimin memaksa dirinya untuk tersenyum, ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Soojung.

“Aku tidak bisa kalau menolak permintaanmu Oppa.” Ujar Soojung seketika. “Iya, aku mau. Sama hal nya denganmu, aku masih sangat mencintaimu.” Imbuh Soojung.

“Kau serius? Kau tidak membohongiku kan?” Tanya Jimin yang masih tidak percaya. Tega sekali, Soojung mengerjainya.

Soojung tertawa pelan dan mengangguk yakin.

“Tsk, kau ini membuatku panik Nona Jung.” Ujar Jimin sambil terkekeh.

“Hahaha… habis aku rindu untuk menggodamu Oppa.”

“Tsk, Lihat saja. akan aku balas!” ancam Jimin.

Soojung hanya menjulurkan lidahnya bermaksud menantang ancaman Jimin. “Aku tidak takut, Oppa.”

Soojung berjalan keluar dari Caffe. Ia bermaksud menghindari kejaran Jimin.

“Tangkap aku kalau kau mampu, Oppa.” Pekik Soojung.

“Yak! Kemari kau, gadis nakal.” Ujar Jimin sambil terus berlari mengejar Soojung.

“Hahaha… tangkap aku Oppa..”

HAP

Jimin berhasil menangkap Soojung. Ia memeluk tubuh gadisnya dari belakang. Menyandarkan dagunya di bahu Soojung.

“Aku berhasil menangkapmu kan?” bisik Jimin.

“Iya Oppa, kau berhasil.” Ucap Soojung lembut.

Jimin lekas membalikan tubuh Soojung untuk menghadapnya. Tangannya masih memegang erat pinggang ramping Soojung. Dengan perlahan Jimin menarik pinggang Soojung mendekat kearahnya.

Soojung merasa jantungnya berdegup kencang. Wajahnya nampak bersemu merah, gugup memandang wajah Jimin yang jaraknya kini tidak ada 3 centi dari wajahnya.

“Op-Oppa.” Panik Soojung.

Jimin menyeringai menatap Soojung. Ia memiringkan wajahnya dan menutup matanya.

Soojung yang semakin panik, mulai memejamkan matanya rapat-rapat.

CHU~

Soojung merasakan bibir Jimin mendarat dibibir tipis Soojung. Makin lama, kecupan Jimin semakin dalam memangut bibirnya. Soojung ragu untuk membalas kecupan Jimin atau tidak. Namun, Soojung akui ia sangat merindukan kecupan Jimin yang begitu dalam dan lembut seperti sekarang ini.

Soojungpun mulai membalas kecupan Jimin.

1 menit…

3 menit…

5 menit…

Soojung dan Jimin saling menjauhkan dirinya. Mereka saling menarik napas masing-masing lantaran kehabisan asupan udara diparu-paru mereka. Soojung dan Jimin saling tersenyum manis.

“Saranghaeyo, Jung Soojung.” Ujar Jimin.

“Nado Saranghaeyo Jimin Oppa.” Balas Soojung.

Jimin kembali merengkuh tubuh Soojung kedalam pelukannya. Menghirup aroma parfum Soojung kuat-kuat. Aroma tubuh Soojung selalu mampu membius lelaki bernama Park Jimin ini. Jimin tersenyum bahagia, keinginannya untuk kembali merajut kasih dengan Soojung akhirnya terkabulkan.

“Aku bahagia memilikimu, Soojung.” Bisik Jimin.

“Aku lebih bahagia karena kembali bersamamu, Oppa.” Balas Soojung.

“Tetaplah seperti ini, jangan pergi lagi.” Ucap Jimin.

FIN

            Oke, ini ff endingnya gaje banget yak -__- duh, jadi malu sendiri ngebacanya.

Dimohon komentar nya ya😀 bye-bye….

7 thoughts on “I Remember

  1. wiiih… sumpah awalnya aku kira soojung gk bkal mau balikan lg sm jimin >_< itu si jimin jga sweet deh pas ngajak soojung balikan😄
    thorr,, bikin ff myungstal dong kkkk :v

  2. Huh tor lu mampu bikin gue sesak napas. Tor kerren sumpah. Gue malah ngebyangin jimin itu mukanya kai malah wkwkwk. Daebbak bikin ff Stal stal yg lainnnya yak hahaa

  3. Yeeeey ada lagi fanfic krystal sama member BTS hahaha😄 seneng seneng😀 makasi pingkan fanficnya bagus banget, udah aku tunggu* pairing yang ini hehe ^ ^ sorry baru bisa komentar sekarang tapi makasi lagi ya buat fanficnya ini, bagus deh pokoknya hehe (y) ^ ^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s