Runaway

Runaway

Tittle: Runaway

Author: Pingkan

Main Cast: Im Yoona | Lee Donghae

Other Cast:

Genre: Romance | AU | Sad | Hurt

Raiting: PG 16 || Length: One-shoot

Summary:

Terbang jauh, tanpa beban. Itulah impianku. Kuharap, kau tidak menahanku.

Happy reading~

No bash | No comment | No silent readers

***

            Matanya terpejam, tangannya direntakangannya lebar-lebar. Berdiri tegap diatas gedung pencakar langit yang cukup tinggi. Hembusan angin, dapat dirasakannya begitu kuat menusuk kulit nya.

Siapa peduli?

Orang tersebut, tetap mengambil langkah maju. Tak mempedulikan dampak selanjutnya setelah ini. Dirinya, seperti orang yang tidak takut pada apapun.

“Maafkan aku. Aku ingin pergi bersamamu. Selamat tinggal dunia.” Gumamnya.

Selangkah lagi, mungkin saja orang tersebut bisa mewujudkan keinginannya. Namun?

Seseorang menariknya, memeluknya erat. Bahkan, orang tersebut nampak tidak menggubris tatapan bingung dari orang yang ingin bunuh diri ini. “Lepas!” orang tersebut mendorong seseorang yang memeluknya.

Pelukan itu terlepas kasar, membuat korbannya terdorong jauh. “Jangan bertindak bodoh! Hidupmu masih panjang Agasshi.” Nasehatnya.

Namun seseorang yang ingin bunuh diri ini hanya menunjukan wajah kesalnya. “Jangan sok tau! Kau bukan Tuhan!” ucapnya datar.

Orang tersebut hanya menghela nafas perlahan. “Aku memang bukan Tuhan. Tapi, apa Tuhan menyukai caramu mengakhiri hidup seperti ini?” tanya balik orang yang mencoba menolongnya.

Kalah telak.

Orang yang mencoba bunuh diri hanya diam. Bagaimanapun, ucapan orang dihadapannya ini ada benarnya. Namun! Keegoisan nampak sudah menguasai dirinya.

“Jangan pernah ikut campur masalahku. Ini sama sekali bukan urusanmu! agasshi!” ucapnya yang langsung beralu pergi.

***

Yoona, sebut saja begitu. Seorang gadis cantik, tinggi, berkulit putih, pintar, kaya, dan mempunyai sifat ramah dan ceria. Merupakan, sebuah gambaran, bila kalian ingin tau siapa gadis bernama Yoona itu.

Gadis bermarga Im yang cukup populer dikalangan Namja di Kyunghee University. Namun, hal itu tidak membuatnya sombong. Dia merupakan sosok yang murah hati.

Persis seperti seorang bidadari.

“Morning Yoong.” Sapa seorang teman akrabnya, sebut saja Kwon Yuri.

“Morning too black pearl.” Godanya.

Mereka pun nampak tertawa kecil. Ya, Yuri adalah sahabat lama seorang Im Yoona. Dan mereka, sudah akrab layaknya keluarga. “Hey, kau sudah dengar kabar belum? Ini kabar yang lagi ramai-ramai nya dikalangan kampus kita loh.” Heboh Yuri.

“Hah? Aku sama sekali belum tau.” Ucap Yoona menganggukan kepalanya.

“Aku sih juga belum tau pasti, yasudah nanti kita tanya yang lain saja. ohya, mau kekantin? Aku lapar belum sarapan sejak tadi.” Keluh Yuri.

Yoona hanya terkekeh, dan menggandeng pergelangan tangan Yuri menuju kantin.

***

            Yoona merutukki dirinya kali ini. Hujan lebat, disaat yang tidak tepat. Ditambah, dirinya tidak membawa payung ataupun alat untuk berlindung dikala hujan datang.

“Tck, sial.” Umpatnya kesal.

Dirinya hanya dapat menggerutu tidak jelas.

Pandangannya menatap lurus kearah langit, yang terus saja menumpahkan kristal-kristal bening. Sedikit senyum, tersungging dibibir cantiknya. “Ternyata, bila diperhatikan Hujan cantik juga.” Kagumnya.

Dirinya bahkan tersenyum-senyum sendiri. Nampak, seperti gadis gila. Sampai, seseorang yang berada disampingnya memandangnya risih. Sadar akan tatapan itu, Yoona merubah sikapnya kembali menjadi diam dan bersikap normal.

Kakinya dia hentak-hentakkan kecil. Mencoba, mengalihkan rasa bosan yang menghinggapi tubuhnya.

“Bukankah, dia…” ucapannya menggantung begitu saja. sesuatu objek, nampak mencuri perhatiannya.

Tanpa menghiraukan segala macam pandangan semua orang terhadapnya. Yoona berlari menerobos derasnya hujan. Langkah kakinya, terus berlari melawan hukum alam ini.

“Jamkkaman!” cegahnya.

Sepertinya, ucapannya berakhir sia-sia kali ini.

“HEY! KAU DENGAR? JAMKKAMAN AGASSHI!” pekiknya kencang.

Orang tersebut menghentikan langkahnya. Membalikkan tubuhnya, menghadap Yoona yang sudah basah kuyup terguyur hujan. Sama halnya, dengan dirinya.

“Kau?” keduanya nampak kaget.

“Kenapa kau terus mengikutiku!” rutuk orang tersebut.

Yoona hanya terkekeh, menunjukan tawa lebarnya. “Mollayo, mungkin takdir.” Balasnya asal.

Orang tersebut hanya menatap Yoona geram. “Bisakah kau tinggalkan aku sendiri. Jangan ikuti aku lagi, Nona.” Ujarnya.

“Shireo! Kau ini selalu ingin bunuh diri. Jadi, aku harus selalu siaga berada didekatmu.” Ucapan itu begitu saja meluncur dari bibir Yoona. Bahkan, gadis itu nampak memikirkan apa yang tengah dipikirkannya ini.

“Micheosseo!” rutuk orang tersebut.

Yoona hanya tersenyum, menunjukan senyum terbaiknya.

Sengatan hangat begitu menjalar ditubuhnya. Jantungnya, berdegup cepat. Tak biasanya. Darahnya nampak berdesir deras. Bahkan, kegugupan kini menghantuinya.

“Lebih baik kau pulang Agasshi! Lihatlah, tubuhmu. Begitu menyedihkan.” Entah ini sebuah kekhawatiran atau justru hinaan?

“Kenapa mempedulikanku? Lihatlah dirimu! Tidak jauh beda.” Yoona mengeluarkan smirknya.

“Cukup! Kau ini gadis gila? Hah?” orang tersebut sudah kesal nampaknya. Kesabarannya sudah habis, meladeni sikap Yoona.

“Naneun, Im Yoona Imnida. Bangapta.” Ucap Yoona sambil menjulurkan tangan. Namun, orang tersebut tak kunjung menjabat tangannya.

“Apa sebenarnya maumu? Cepat katakan.” Desak orang tersebut.

“Mauku, hanyalah. Jangan bertindak bodoh dengan mengakhiri hidup tragis seperti ini. Agasshi. Lihatlah, kau masih beruntung dibandingkan orang lain diluar sana.” Ucap Yoona bijak.

Orang tersebut hanya diam, dan tersenyum kecut. Dirinya melempar tatapan tajam nya pada Yoona. Kini, langkahnya kembali tergerak maju. Meninggalkan gadis ini.

***

            Senyum getir, tersungging dibibirnya. Wajah tampannya hanya bisa menunduk. Menahan, isak tangis yang sepertinya akan keluar mungkin. Nama pria itu adalah Lee Donghae.

Mungkin, setelah hal ini banyak yang akan mencibirnya dengan sebutan Namja lemah atau Namja cengeng atau lainnya. Namun, apa pedulinya? Dia sama sekali tidak peduli apa kata orang.

Aku mencintaimu, Hwang Mi Young. Kenapa kau tinggalkan aku.’

Flashback ON

“Kau sudah siap, chagi-ah?” seorang pria nampak menggenggam erat tangan seorang yeoja cantik yang tengah duduk dibangku rumahnya. Yeoja itu berdiri, merapikan dress selututnya. Dan tersenyum manis seraya mengangguk.

“Ne, Oppa. hm, kita akan pergi kemana? Toko designer? Atau tempat penyewaan gedung pernikahan?” tanya yeoja, yang diketahui bernama Hwang Mi Young. Yeoja ini kerap disapa Tiffany. Terkenal dengan eye smile nya yang cantik.

“Hm, menurutmu yang mana yang mesti didahulukan?” Donghae balik bertanya. “Kurasa, lebih baik kita ketempat penyewaan gedung dulu Oppa.”

“Baiklah, Kajja.”

Donghae pun pergi bersama Tiffany ke tempat penyewaan gedung pernikahan. Donghae melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Seraya memfokuskan pandangannya pada jalanan Seoul.

“Sudah sampai chagi-ah. ayo, kita masuk kedalam.” Donghae membuka pintu mobil untuk Tiffany.

Tiffany dan Donghae pun turun dari mobil, dan bersama-sama berjalan ke sebuah gedung putih megah dihadapannya. “Annyeonghaseo, Tuan dan Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita paruh baya dengan seragam rapih yang dikenakannya. Dia adalah owner yang mengurus tentang pembookingan gedung pernikahan.

“Hm, kami ingin menyewa gedung untuk presepsi pernikahan. 1 minggu lagi.” Ucap Tiffany dengan manis.

“Baiklah Nyonya. Tema apa yang anda pilih untuk presepsi pernikahan?” tanya owner pernikahan.

“White Garden. Eotthokeh Oppa?” Tiffany meminta saran pada kekasihnya. Atau lebih tepat calon suaminya.

“Hm, boleh kalau kau suka kita pilih itu saja.” ujar Donghae.

“Kami pilih tema white garden saja.” seru Tiffany.

“Baik Nyonya. Kami akan menyiapkan segala keperluannya.”

“Kalau begitu kami permisi. Kami harus pergi sekarang, Annyeonghaseo.” Ucap Tiffany dan Donghae.

“Nado Annyeong.”

***

            Donghae dan Tiffany kembali kedalam mobil. Donghae kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan Seoul yang tengah dilewatinya. Sementara, Tiffany nampak sibuk dengan gedget miliknya.

“Chagi-ah.” panggil Donghae.

Sepertinya Tiffany terlalu sibuk dengan gedgetnya sampai tidak mendengar ucapan calon suaminya.

“Chagi-ah.” ulang Donghae.

Masih tidak menjawab.

“Miyoung-ah?” suara Donghae cukup meninggi dari sebelumnya. Tiffany pun langsung sadar. Dia pun menatap mata Donghae. “Ne, Oppa. waeyo?” tanyanya polos.

“Kau sedang apa? Sedari tadi, aku memanggilmu, chagi.” Ucap Donghae. Tersirat, perasaan tidak sukanya saat Tiffany terlalu sibuk dengan gedget miliknya.

“Hm, ah.. Tidak.. Tidak apa-apa Oppa.” gugup Tiffany.

“Boleh Oppa pinjam?” tanya Donghae.

“Hm, aniyo. Jangan Oppa.” Tiffany menahan tangan Donghae yang ingin mengambil Handphone nya.

“Waeyo? Kenapa tidak boleh. Apa kau menyembunyikan sesuatu?” seru Donghae dingin. Matanya menatap tajam, mata indah Tifffany.

Dengan paksa, Donghae merebut Handphone Tiffany. Sebuah pesan masuk dengan nama ‘Siwon’ tertera disana. Mata, Donghae membulat sempurna setelah membaca isi pesan Tiffany. Ya, Donghae merupakan tipikal Namja pencemburu. Hal ini, dilakukannya karena dia begitu mencintai gadisnya.

“Kenapa kau mau menikah denganku! Sementara kau masih mencintai Siwon? Miyoung-ah.” sentak Donghae dingin.

Ya, bagaimana Donghae tidak tersulut emosi. Tiffany adalah calon istrinya. Dan, dia ternyata menduakan pemuda itu dengan mantan kekasihnya saat di Sanfransisco.

“Aniyo Oppa. jangan salah paham.” Elak Tiffany.

“Salah paham? Kau kira aku bodoh? Hah! Sudah jelas-jelas kau tidak menginginkanku, Miyoung-ah. lantas, untuk apa kau menyetujui pernikahan ini!” emosi sudah menguasai tubuh Donghae.

Tiffany hanya diam. Dia begitu kalut saat Donghae telah mengetahui kebusukannya.

“Karena aku dipaksa orang tuaku untuk menikah denganmu Donghae Oppa.” seru Tiffany parau.

Donghae seolah kehilangan oksigen. Nafasnya tercekat, rasa sakit menyeruak didadanya. Matanya tak lepas, menatap Tiffany.

“Oppa! awas didepan! KYAAAAAAA!”

BRUKKKK

TINNNNNNNNNN

Mobil yang dikemudikan Donghae menabrak sebuah pohon besar dipinggir jalan. Asap, keluar dari mesin mobilnya. Kepala Donghae membentur stir kemudi. Sementara Tiffany terjepit oleh badan mobil. Setengah tubuhnya keluar dari mobil.

“Engh.” Cukup lama, bagi Donghae mengembalikan kesadarannya.

“Ya Tuhan! Ap-Apa yang terjadi.” Seru Donghae pelan. Matanya menyapu setiap pemandangan disekitarnya. Suatu objek, kini memikat perhatiannya.

“Tiffany.. Tiffany! Bangunlah.” Donghae dengan lirih mencoba memanggil calon istrinya.

“Miyoung-ah! jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu, Miyoung-ah.” seru Donghae.

“Hwang Miyoung! Miyoung-ah!” sentak Donghae. Tangannya yang lemah, mencoba mengguncang tubuh Tiffany. Namun, Tiffany tetap tidak bergeming. Hanya diam, terbujur kaku.

Flashback OFF

Tes.. Tes.. Tes..

Air mata Donghae, kembali berjatuhan saat mengingat kembali masalalunya. Kenangan pahit, yang membuatnya menjadi seseorang yang bagai kehilangan nyawanya.

“Kenapa kau tega, meninggalkan aku. Miyoung-ah.” lirih Donghae.

***

            Kyunghee University..

Donghae, menginjakan kakinya ke gedung besar itu. Ya, dia kembali meneruskan kuliahnya, yang sempat tertunda 6 bulan lamanya. Donghae, memutuskan untuk pindah universitas. Karena, dia ingin berusaha bangkit dari keterpurukannya.

Aku memang bukan Tuhan. Tapi, apa Tuhan menyukai caramu mengakhiri hidup seperti ini?”

            Perkataan seorang yeoja gila, yang saat itu bertemu dengannya. membuatnya, semangat dan bangkit dari keterpurukan. Entah, suatu dorongan apa yang membuatnya mengiyakan perkataan gadis itu.

“Kalau dipikir-pikir, perkataan gadis gila itu ada benarnya. Hahaha… kenapa aku selama ini tidak berpikir begitu? Aigoo! Wajah gadis itu sungguh lucu saat aku menyentaknya.” Gumam Donghae.

“Omo! Apa yang aku katakan tadi? Jangan bilang aku.. ah tidak! Tidak! Ini tidak benar.” Donghae menggelengkan kepalanya perlahan.

Langkah kakinya, menyusuri koridor universitas. Pandangannya, melihat kearah kanan dan kiri. Ya, dia memang tidak tau letak kelasnya. Karena, Donghae mulai hari ini menjadi mahasiswa baru di Kyunghee University.

BRUUKKK

“Hm, Mian.” Seru Donghae. Seseorang dihadapannya tampak sibuk memunguti buku yang berserakan. Donghae yang merasa bersalah pun ikut membantunya.

“Gwench-“ ucapan orang tersebut menggantung.

Kedua mata indahnya, tengah menatap Donghae lekat. Bibirnya tergerak untuk menyunggingkan sebuah senyuman.

“Kau.” Seru orang itu senang, ya dia adalah Yoona gadis yang mendapat julukan yeoja gila dari Donghae.

Donghae bingung harus merespon bagaimana perkataan Yoona. Dirinya hanya tersenyum kikuk. Serta, menunduk tak berani menatap mata Indah gadis dihadapannya.

“Namaku, Im Yoona. Apa kau mengingatnya?” ujar Yoona senang.

“Hm, sepertinya aku lupa. Agasshi. namaku, Lee Donghae. Panggil saja, Donghae.” Ucap Donghae kaku.

“Nama yang bagus.” Puji Yoona.

“Jangan panggil aku agasshi. Cukup Yoona saja.” imbuh Yoona.

Donghae hanya tersenyum kikuk. Dengan mengusap tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. “Apa kau mahasiswa baru, Donghae-ssi? hm, karena aku belum pernah melihatmu.” Ucap Yoona.

Donghae menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, mari ku antar berkeliling kampus. Sekalian, akan ku tunjukkan kelasmu.” Yoona menarik tangan Donghae. Menggenggam tangan pemuda itu erat. Donghae, merasakan darahnya berdesir cepat.

Terlebih, perasaan aneh yang menjalar ditubuhnya. Perasaan yang sudah lama tak dirasakannya bersama Tiffany.

Apa boleh, aku mencintai gadis gila ini? apa secepat itu aku melupakan Tiffany? Miyoung-ah, maafkan aku.’

***

            Donghae dan Yoona, kini duduk dibangku taman. Keduanya sudah menjadi teman akrab. Ya, meski dalam kurun waktu sebentar keduanya sudah bisa menjadi teman akrab. Ini semua, karena sifat Yoona yang ramah dan mudah bergaul.

Jadi, untuk berteman dekat dengan Donghae tidaklah sulit baginya.

“Donghae-ah. aku senang akhirnya, kau bisa bangkit dari keterpurukanmu. Bukannya, aku ingin kau melupakan masa lalumu. Hanya saja, kau tidak boleh terpaku pada masa lalu. Tataplah kedepan, masa yang akan datang sudah menantimu disana.” Ujar Yoona, dengan senyum manisnya.

Donghae melirik kearahnya. Wajah Yoona yang cantik, begitu terlihat jelas dari jarak cukup dekat seperti ini bagi Donghae.

Neomu Yeppeo.’

“Ya, ini semua karenamu. Yoona-ah, kau yang menyemangatiku.” Ujar Donghae lembut.

Yoona terkekeh mendengarnya.

“Kenapa tertawa? Apa aku salah bicara?” tanya Donghae bingung.

“Aniyo. Hanya saja, kau begitu lucu Donghae-ah.” ujar Yoona.

Donghae pun mengacak-acak puncak kepala Yoona. “Ck, dasar.”

“Yoona-ah, boleh aku mengatakan sesuatu.” Ujar Donghae. Kali ini, ekspresi wajahnya menjadi serius. Yoona pun bisa melihat, keseriusan perkataan Namja itu dari sorot matanya.

“Ya, katakan saja.”

Donghae menggenggam erat sebelah tangan Yoona. “Aku tidak tau apa yang kurasa saat ini. tapi, aku begitu menyayangimu. Aku begitu nyaman bersamamu, jangan tinggalkan aku Yoona-ah. tetaplah disisiku. Kau adalah penyemangat hidupku.” Ujar Donghae.

Yoona tersenyum mendengarnya. “Nado, Donghae-ah. aku juga menyayangimu. Dan karena itulah, aku ingin kau tidak terpuruk pada masalalumu. Karena, aku ingin kau bangkit dan kembali menjadi dirimu.”

Donghae begitu bahagia mendengarnya. Dia pun merangkul tubuh Yoona. Dan Yoona pun menaruh kepalanya bersandar pada pundak Donghae.

“Selamanya kau tetap menjadi seseorang yang special Yoona-ah.”

 

END

Mianhe, kalau endingnya gaje. Dan banyak skip-skip ceritanya. Ya, hanya seginilah kemampuan author. Harap, maklum ya ^^ karena author bukanlah seorang penulis handal.

Mohon tinggalkan komentar, setelah membaca FF ini.

Khamsahamnida.

16 thoughts on “Runaway

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s