Could it be? [Sequel Expectation]

Expectation

Tittle:  Could it be? [Sequel Expectation]

Author: Pingkan

Main Cast: Im Yoona | Lee Donghae

Other Cast: –

Genre: Hurt | Sad | Romance

Raiting: PG 15

Length: One-Shot

Summary: Mungkinkah Donghae bisa kembali kekehidupan Im Yoona? Kembali memasuki relung hati gadis cantik ini. meski, dirinya sudah membuat hati gadis ini hancur.

Disclaimer: FF ini terinspirasi dari lagunya Girls’ Day_Expectation. Ceritanya hampir sama, tapi tidak sama persis. Not like? Don’t read! | No bash | No plagiat | No siders

Happy reading and enjoy this fic. And comment please! J

***

            Langkahnya tertatih, menyusuri jalanan seoul malam itu. Udara dingin yang berhembus kencang, tampak dihiraukan olehnya. Meski, dia memakai jaket tebal. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa tubuhnya kini hampir kaku karena udara terlalu dingin diluar sini.

Hembusan nafasnya terdengar parau. Udara pun keluar dari lubang hidungnya. Sesekali dia mengeratkan jaketnya.

“Yoona..” panggilnya lirih. Bahkan, seperti hembusan angin yang bertiup pelan.

Pandangannya pun seketika mulai goyah, dirinya bahkan tak bisa melihat dengan tepat sesuatu dihadapannya.

Brukk

Tubuhnya, ambruk dijalanan seoul yang kini lebat akan salju yang berguguran. Matanya pun tak lama terpejam erat. Dan dia pun tak sadarkan diri.

***

            Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela kamar milik Donghae. Sinar nya begitu menyilaukan mata. Hal ini membuat Donghae mau tidak mau membuka paksa kedua matanya.

“Engh.” Erangnya, memegang kepalanya yang agak berdenyut ngilu.

“Kenapa aku dikamar? Siapa yang membawaku kemari?” ujarnya gusar. Seingatnya, semalam dirinya tak sadarkan diri dijalan. Lalu, bagaimana mungkin dia bisa berada dikamarnya?

Dengan perlahan, dia berjalan keluar kamar. Memastikan, apakah ada seseorang dirumahnya? Atau tidak.

“Sepi. Lantas siapa yang membawa ku kemari tadi malam?” komentarnya. Saat melihat seisi rumah tak berpenghuni. Hanya dirinyalah yang berada dirumah itu.

Donghae pun berjalan menuju lemari es didapur. Rongga tenggorokannya sudah haus. Diteguknya, air es dari dalam lemari es tersebut. Rasa hausnya kini sudah hilang.

“Yoona.” Ujarnya tiba-tiba. Entah, hal apa yang membuatnya terus memikirkan gadis itu.

Menyesal? Mungkin itu yang dirasakannya.

Mungkinkah kau mau kembali bersamaku?’

Batinnya terus merajuk, meminta agar Yoona kembali kesisinya. Namun, dia sadar kesalahan yang diperbuatnya bukanlah hal sepele. Ini, masalah yang fatal.

Aku mencintaimu Yoong. Aku mencintaimu..’

***

            Yoona duduk termangu dibangku taman kota. Pikirannya masih menerawang jauh. Tentang permasalahan yang membuatnya diam membisu. Ingin rasanya, dia lari dari kenyataan, tapi? Apa boleh buat. Inilah kepahitan yang harus ditelannya.

“Kenapa kau begitu kuat mengambil hatiku Lee Donghae?” rutuknya.

Haruskah dirinya kembali pada Donghae? Atau justru sebaliknya. Meski, dirinya sakit karena tau pengkhianatan yang telah Donghae lakukan tapi dalam hatinya dia masih mencintai lelaki itu. Bahkan, hingga saat ini.

Tes.. tes.. tes..

Butiran-butiran air jatuh membasahi bumi. Yoona yang tengah duduk termangupun sontak menatap kearah langit. Butir-butiran air itu jatuh mengenai wajahnya. Bahkan, hampir membasahi seluruh tubuhnya.

Meski dirinya, sudah hampir basah sepenuhnya. Namun, dia masih enggan beranjak dari tempatnya. Senyum terukir manis dibibirnya.

Hujan. Saat-saat yang paling istimewa saat kami bersama.’

“Bisakah kita kembali menikmati hujan kali ini Lee Donghae?” bisiknya pelan. Dia hanya tersenyum getir.

***

            Donghae baru saja keluar dari cafe yang dekat dengan apartmentnya. Langkahnya terhenti didepan pintu cafe. Hujan, yang kini membasahi kota seoul membuatnya mau tidak mau tinggal sejenak didepan cafe. Menunggu agar tetesan hujan mereda.

“Hujan.” Gumamnya pelan.

Senyum getir kembali menghiasi wajahnya. Pandangannya sayu, menatap lurus ke arah hujan dihadapannya.

“Inilah saat-saat yang paling membahagiakan. Dikala Hujan, aku selalu bersamamu.” Guraunya.

Donghae pun dengan terpaksa menerobos hujan yang agak lebat. Pikirannya tertuju pada satu tempat. Taman kota. Ya, biasanya ketika hujan Yoona dan Donghae akan pergi ketaman kota.

Meski, Donghae sedikit ragu dengan instingnya. Namun, apa salahnya dia membuktikan kebenaran dari instingnya.

Deg

Langkahnya terhenti. Pandangannya hanya tertuju pada satu object dihadapannya. Kakinya, bak kaku tak bisa digerakan. Jantungnya berpacu cepat. Nafasnya serasa sesak.

Im Yoona.’

Donghae melihat seorang gadis yang duduk sendirian dibangku taman. Tubuhnya sudah basah, terguyur hujan. Namun, inilah hal yang paling dia sukai.

Apa aku harus menemuinya?’ batinnya gusar.

Donghae pun dengan ragu, memberanikan diri berjalan mendekat. Meski, dipikirannya merutuki perbuatannya kali ini yang langsung mengambil kesimpulan tanpa memikirkan dampaknya. Namun, demi cinta Donghae tidak akan takut mengambil sebuah keputusan.

“Yoong.” Donghae memegang bahu Yoona pelan.

Yoona pun menoleh. Betapa terkejutnya dia saat melihat Donghae dengan senyum manis berdiri dihadapannya kini.

yoona pun mendadak menjadi diam mematung. Tatapannya datar, dan tak ada senyum seperti biasanya.

“Maafkan aku.” Kali ini Donghae berbicara sangat lirih. Bahkan, dirinya seperti ingin menangis. Dia hanya menunduk, tak berani menatap wajah mantan kekasihnya ini.

“Untuk apa? Sudahlah! Tidak usah diperpanjang. Aku sudah melupakan masalah ini.” Ujar Yoona datar. “Dan aku juga sudah belajar untuk melupakanmu.” Lanjutnya.

Nafas Donghae semakin tercekat. Bahkan, dirinya bak mati ditempatnya kini. Kelanjutan dari ucapan Yoona membuatnya kalut saat ini. Dirinya, semakin pesimis untuk mendapatkan Yoona kembali.

“Be-Benarkah?” gugupnya.

Yoona hanya diam. Dia membuang pandangannya. Enggan menatap lelaki yang kini sedang menatapnya sayu.

Jangan beri aku tatapan itu Lee Donghae! Kau semakin membuatku sulit melepasmu.’

Yoona pun berjalan pergi meninggalkan Donghae. Namun, Dengan cepat Donghae lekas memeluk Yoona dari belakang. Bermaksud agar Yoona tidak pergi dari nya.

“Jangan pergi kumohon.” Bisiknya tepat ditelinga Yoona. “Aku mencintaimu. Maafkan aku.” Lanjutnya. Kali ini, Suara Donghae hampir tidak terdengar. Begitu lirih dan pelan.

Yoona hanya diam, rasa sesak didadanya kini mulai berkecamuk. Matanya pun sudah berkaca-kaca. Bersiap menumpahkan cairan kristal bening.

“Jangan seperti ini! Kau membuat semuanya menjadi sulit.” Ujar Yoona datar. Mencoba menahan emosi nya.

“Tidak! Aku tidak akan pernah melepasmu.aku mencintaimu Im Yoona. Ku akui Aku memang bodoh, aku sungguh bodoh karena telah mengkhianatimu. Maafkan aku!” ujar Donghae.

Kini, air mata yang sedari tadi melesak keluar. Tumpah dengan sendirinya. “Kau jahat Lee Donghae! Kau jahat hiks.. hiks..” isaknya.

Donghae semakin merasa bersalah, dia merutuki perbuatan bodohnya. Donghae pun semakin erat memeluk Yoona. “Maafkan aku Yoongie. Maafkan aku, ku mohon jangan berhenti untuk mencintaiku.” Pintanya.

Yoona pun lekas membalikan tubuhnya menghadap Donghae. “Kenapa disaat aku belajar untuk melepasmu! Kau malah datang untuk memintaku kembali. Kau egois lee donghae! Kau egois!! Hiks.. hiks..”

Yoona memukul-mukul pelan dada bidang Donghae. Dengan isak tangisnya yang masih terdengar pilu. Donghae hanya diam, dan pasrah dirinya sadar ini semua bahkan belum cukup untuk menebus kesalahannya.

“Pukul aku Yoong! Pukul aku. Tapi kumohon, maafkan aku. Kembalilah bersamaku.”

Yoona menghentikan pukulannya. Tubuhnya serasa lemas. Donghae kembali memeluknya. Menenggelamkan kepala Yoona di dada bidangnya.

“Aku mencintaimu Yoong. Aku sadar, aku tidak bisa hidup tanpamu.”

Yoona hanya diam, dirinya masih tak kuasa untuk menghentikan tangisnya. “Kau bodoh Lee Donghae! Kenapa kau baru menyadarinya?hah?” cerca Yoona kesal.

Donghae hanya menunduk. “Aku tau aku memang bodoh. Dan aku tau! Manamungkin, gadis sesempurna dirimu masih mau menerima lelaki bodoh sepertiku.”

Yoona menghapus air matanya perlahan. “Kurasa, pendapatmu kali ini meleset Lee Donghae. Meski, kau sudah membuatku hancur berkeping-keping tak bisa kupungkiri aku masih mencintaimu. Sebisa mungkin aku acuh padamu! Hati ini sangat sakit kalau aku melakukan hal itu. Aku masih mencintaimu… bahkan hingga saat ini!” lirih Yoona.

Donghae menatapnya tanpa kedip. Dirinya bak tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Jeongmal?”

“Kau pikir! Aku bercanda?” tanya Yoona sebal.

Donghae pun kembali merengkuh tubuh mungil Yoona. “Saranghae Im Yoona. Aku berjanji, tidak akan mengulang kesalahanku lagi.”

Yoona hanya mengangguk, dia pun mengeratkan pelukannya. “Nado Saranghae.”

END

12 thoughts on “Could it be? [Sequel Expectation]

  1. ahh,sNng’y happy ending….!? akhr’y donghae merutuki ksaLhn’y n mmnta kmbaLi ma yoona….!? smga yoonhae sll hdup bhgia. amiiin…!? dtnggu ff yoonhae Laen’y

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s