Cappucino Late

Author: Pingkan

Main Cast: Im Yoona, Lee Donghae

Other Cast: Kwon Yuri

Genre: Romance

Length: One-Shoot

Raiting: 13+

Tittle: Cappucino Late

cappucino late

Summary: Berawal dari segelas Cappucino Late, Cinta itu bersemi. Aku bahagia, Aku mencintaimu dan Cappucino Late buatanmu!

Happy Reading, No siders and Bashing. RCL plis…. J

@@@

Seorang gadis terus saja mencoba-coba mengukir hiasan di atas Cappucino Late buatannya. Dia adalah, Im Yoona seorang gadis pemilik ‘Star Cafe’ dia dibantu sahabatnya mendirikan Cafe itu, Kwon Yuri adalah sahabatnya.

Dia terlihat terus mencoba-coba membuat hiasan-hiasan baru pada Cappucino itu. Selalu gagal, Yoona gusar sendiri pada akhirnya, dia memukul-mukul kepalanya pelan karena kegagalannya itu. “Aish, Susah sekali!” omelnya, dia pun masih saja berkutat pada mesin itu dan Cappucino buatannya (Inget diMV Into The New World? Saat Yuri ngebuat Cappucino yang diatasnya dia beri hiasan? Nah! Ini itu ya hampir sama kayak gitu bedanya disini Main Castnya Yoona Eonnie ^^)

Yuri, gadis itu nampak terlihat baru datang. Dia pun berjalan menghampiri Yoona, menaruh Jaketnya dan berganti pakaian. “Kau sedang apa?” tanya Yuri, melihat Yoona yang masih betah terus barada di depan mesin itu.

“Lihatlah! Begitu buruk bukan? Aku tidak bisa sehebat kau, Yul,” Yoona mendesah pelan. Dia begitu sulit, untuk menghias Cappucino Late ditangannya.

“Hahaha,” Yuri tertawa melihat tingkah polos sahabatnya.

Yoona menatapnya kesal. “Yak! Jangan mengejekku,” omel Yoona. Yuri, menggeleng pelan masih dengan tawanya. Dia mengajarkan Yoona caranya, dengan perlahan Yoona pun terlihat mencoba, ya meski belum begitu mahir tapi hiasan itu terlihat 60% jauh lebih baik dari pada buatan nya tadi.

“Kenapa sih? Kau begitu berusaha keras membuat hiasan Cappucino itu. Memang ada apa?” tanya Yuri. Yoona dan Yuri mereka berdualah yang mengelola Cafe ini, Yoona hanya bertugas menjadi pelayan penyatat pesanan dan dia juga hanya bertugas di Kasir. Sedangkan untuk urusan di dapur, Yuri lah yang bekerja.

Yuri tau, bahwa Yoona tipikal gadis yang malas sekali untuk berusaha. Tapi, hari ini Yoona membuatnya bingung karena, Yoona terus saja berusaha membuat hiasan di atas Cappucino itu. Kalau bukan ada sesuatu yang mendesak Yoona. Pasti, gadis itu tidak akan mau menyentuh mesin hiasan itu berkali-kali.

Yoona hanya menyengir kuda. Dia terlihat menyembunyikan sesuatu dari Yuri, sahabatnya. “Nanti kau juga tau sendiri,” ucap Yoona misterius.

Yuri hanya menghela nafasnya pelan, dia pun kembali melanjutkan tugasnya. Tidak lupa, dia membalik kata Close di depan pintu Cafe untuk berubah menjadi kata Open. Yoona, gadis itu sedari tadi membuat Yuri aneh, karena dia terlihat senyum-senyum sendiri memandang Cappucino buatannya.

“Hey, kau sedang tidak sakit kan?” tanya Yuri.

Yoona pun menggeleng.

“Lalu? Kenapa kau senyam-senyum seperti itu?”

“Ah Yul, kau ini berisik sekali. Oh iya, mau coba tidak Cappucino buatanku?” tanya Yoona. Yuri pun langsung menggeleng keras, dia tau bahwa makanan dan minuman buatan Yoona selalu membuatnya muntah-muntah.

“Ah, Yul. Aku janji, kali ini tidak akan seburuk yang lalu,” ucap Yoona dengan mata berbinar-binar.

“Sudah Yoong. Aku lelah, harus kerumah sakit, kalau habis mencoba makanan atau minuman buatan mu. Aku lelah bertemu dengan dokter peyot itu,” ucap Yuri.

Jinjja? Ah, tidak apa, mungkin saja, kalian jodoh,” Yoona pun mendapat jatah dipagi hari. Sebuah pukulan dikepalanya yang cukup membuatnya terdiam dan meringis kesakitan.

“Bagaimana? Enak tidak?” tanya Yuri.

“Enak sekali, seperti memakan Ice Cream di tengah laut. Sambil tenggelam,”

“Hah? Sebegitu exciting nya? Wah! Yoona-ah, aku terharu.” Yuri memeluk Yoona.

“Aish! Itu bukan pujian babo!”

@@@

Yoona terlihat memandang keluar jendela Cafe, dia menunggu salah satu pengunjung yang dia harapkan. “Kemana pemuda itu? Apa dia tidak datang?” gumam Yoona. Dia melangkah pelan, menuju meja kasir karena salah satu pelanggannya nampak ingin membayar pesanannya.

Berjam-jam Yoona termenung, menanti sosok itu. Dia melihat jam ditangannya, dia sepertinya sudah hapal dengan kebiasaan sosok pemuda itu bila berkunjung ke Cafenya. “Seharusnya, sudah sejak 2 jam yang lalu pemuda itu, datang.” Ucapnya pelan.

Waktu terus berputar, hari pun sudah menjelang malam. Yoona melirik jam ditangannya. “Jam setengah 7, sebentar lagi Cafe akan tutup. Tapi, kenapa hari ini dia tidak datang? Apa dia ada urusan lain?” Yoona begitu resah memikirkan hal itu.

Yuri, gadis itu sadar bahwa sahabatnya memang sedang menunggu seseorang. “Menunggu siapa? Pemuda itu?” tanya Yuri, yang memang tau akan sosok pemuda itu. Dilihat, dari cara Yoona yang begitu penuh perhatian saat memberikan pesanan pemuda itu, sebegitu exciting nya dia saat pemuda itu ke Cafenya, saat dia begitu gembira melihat senyuman pemuda itu.

Yoona hanya mengangguk, mencerutkan bibir mungilnya.

“Yasudah, mungkin besok dia akan datang. Ayo, kita siap-siap, sudah waktunya Cafe ini tutup,” ucap Yuri.

Yoona dengan malasnya pun terlihat membersihkan sisa-sisa makanan atau minuman Cafe, sedangkan Yuri terlihat membersihkan dapur. “Yoong, aku pulang duluan ya, Yesung Oppa mengajakku jalan hari ini. Kalau sudah, jangan lupa dikunci,” Yuri pun melangkah pergi.

Dia mendesah pelan, begitu gusarnya dia memikirkan sesuatu yang menyeruak memenuhi otaknya. Pandangannya masih saja, melihat ke arah Pintu. Setelah, 20 menit dirinya selesai membersihkan Cafe, dirinya pun berkemas dan mengunci pintu itu sebelum akhirnya dirinya benar-benar meninggalkan Cafe.

Yoona, gadis itu terlihat sedang mengunci pintu Cafe, seseorang menepuk pundaknya perlahan. “Cafe, sudah tutup?” tanya seorang pemuda dibelakangnya.

Yoona berbalik, melihat siapa yang berbicara padanya. ‘Dia datang,’ batinnya gembira. Yoona pun mengangguk dan terlihat gugup.

“Hhft, Seharusnya aku datang dari tadi,” ucap pemuda itu pada dirinya sendiri, tapi ucapannya masih terdengar jelas di telinga Yoona.

“Kau mau pulang?” tanya Donghae, pemuda itu. Sosok yang amat dirindukan Im Yoona, pengunjung setia yang membuat jantungnya berdegup kencang, membuat darahnya berdesir deras, membuat hatinya hanya terkunci pada Donghae.

Ne, Tuan,” ucap Yoona sopan.

“Tidak usah memanggilku Tuan. Apakah tampangku ini begitu tua? Untuk dipanggil dengan sebutan itu? Donghae Imnida. Kau?” tanya Donghae.

“Yoona Imnida. Donghae-ssi,”

“Baiklah Nona Im. Apa kau mau kuantar pulang? Lagipula, sudah malam sekarang,” ucap Donghae. Begitu bahagia nya Yoona, mendengar ajakan Donghae. Dalam dirinya  terdapat letupan-letupan cinta yang membuat Yoona sangat senang.

“Apa tidak merepotkan?” tanya Yoona.

Donghae pun menggeleng. “Tidak, ayo,” Donghae pun menggandeng tangan Yoona untuk mengikutinya menuju audynya.

@@@

Seperti biasa, Yoona dan Yuri sudah rapih dengan urusan Cafe, semua lantai sudah tersapu dengan rapih. Meja dan kursi pun sudah tertata rapih. Yoona pun sudah berdiri siap di meja kasirnya sedangkan Yuri tengah menyiapkan adonan, membuat Cappucino dan lain-lainnya.

Ceklekk

Suara pintu terbuka, Yoona dan Yuri terlihat melihat ke arah pintu itu. Senyum sumringah tergurat di wajah Yoona. Sosok yang diharapkannya hadir, seperti biasanya selalu jam3 sore, Donghae pemuda itu menyempatkan dirinya untuk berkunjung ke Cafe.

Annyeong, ada yang bisa aku bantu? Donghae-ssi?” tanya Yoona.

“Seperti biasa, Cappucino Late 1,” ucap Donghae sambil tersenyum. Yoona pun segera bergegas ke dapur. Kali ini, dia sendiri yang ingin membuat Cappucino itu untuk Donghae, pemuda yang digilainya.

“Yul, aku saja yang membuatkannya,” ucap Yoona mengambil alih tempat Yuri. Yuri, sudah tau akan hal ini dia pun mempersilahkan sahabatnya. “Semoga, sepulang dari sini, pemuda itu tidak sekarat karena harus meminum Cappucino buatanmu, Yoong,” celetuk Yuri. Membuat Yoona memukulkan centong sayur, kekepala Yuri.

“Yak!” Yuri pun meringis kesakitan sambil mengusap kepalanya pelan-pelan. Yoona terlihat fokus pada pekerjaannya begitu semangat membuatkan Cappucino Special untuk orang yang Special di hatinya.

“Sudah selesai,” ucapnya pelan. Sambil tersenyum semangat dan bergaya seperti Farah Queen di Ala Chef #Bisabayangin?

Yuri, menelan salivanya gusar. “Kau yakin ini akan enak? Tidak menyebabkan serangan Jantung? Gangguan kehamilan dan janin? Tidak akan membuatnya sekarat? Membuatnya mati ditempat?” bertubi-tubi Yuri menanyakan hal yang tidak-tidak.

Yoona meliriknya sinis. “Yak! Kau kira ini sebuah rokok? Huh? Dan satu lagi kau ingat! Dia itu Namja mana mungkin dia akan memiliki gangguan Kehamilan dan Janin-____-,” protes Yoona.

Yuri terlihat berfikir, dia pun mengintip Donghae di mejanya. “Kau yakin dia Namja? Bagaimana kalau dia Yeoja? Atau Waria? At..” belum sempat Yuri menyelesaikan perkataannya, Yoona sudah lebih dulu menyumpal mulut Yuri dengan serbet dapur.

Dengan gugup Yoona berjalan perlahan ke meja, Donghae. “Ini pesananmu,” ucap Yoona. Donghae tersenyum, dan lekas menyesap Cappucino buatan Yoona. Yoona terlihat masih berdiri dihadapan Donghae sekedar hanya untuk mengetahui bagaimana respon Donghae.

“Eum… Lumayan. Hanya saja, terlalu manis dari biasanya.” Ucap Donghae mengomentari Cappucino buatan Yoona.

Yoona terlihat tersenyum, setidaknya buatannya itu tidak begitu buruk, pikirnya. “Benarkah?” tanya Yoona. Donghae, hanya mengangguk menanggapi.

“Eum..Ah..Itu..Itu aku yang membuatnya. Maaf bila terlalu manis,” ucap Yoona sambil menunduk dan membungkuk sungkan. Donghae tersenyum begitu lembut pada Yoona. “Jinjja? Kau yang membuat ini, apakah ini special untukku?” tanya Donghae.

Yoona terlihat begitu gugup, dia hanya bisa menyembunyikan semburat merah dipipinya. ‘Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku begitu malu saat ini, apa kah pipi ku terlihat merah sekarang?’ batin Yoona bertanya-tanya.

“Yoona, apa kau baik-baik saja?” tanya Donghae. Yoona seolah tersadar dari lamunannya dan dia hanya mengangguk. “Ah, Donghae-ssi. Aku kembali mengerjakan tugasku, ne?” ucap Yoona.

Donghae terkekeh melihat tingkah Yoona yang polos, begitu menggemaskan baginya. ‘Kau tahu? Aku sudah lama menyimpan rasa padamu. Makadari itu, aku selalu meluangkan waktu ku, hanya untuk melihatmu dan menikmati Cappucino Late di Cafe mu ini. Apakah aku harus mengutarakannya padamu?’ batin Donghae, masih memandangi Yoona dari kejauhan.

“Bagaimana Yoong? Apa pemuda itu, merasakan mual-mual?” tanya Yuri, menghampiri Yoona. Yoona, yang masih terlihat begitu excitingnya pun seketika menoyor kepala sahabatnya.

“Tidak, dia terlihat baik-baik saja. Kalau tidak percaya, lihatlah? Dia berkomentar, bahwa Cappucino Late buatanku lumayan, ya meski terlalu manis dari buatanmu. Setidaknya itu tidak terlalu buruk kan?” tanya Yoona. Yuri masih berfokus pada Donghae, untuk mengawasi keadaan Donghae.

“Yak! Kwon Yuri! Kau tidak mendengarku, eoh?” tanya Yoona, Yuri hanya tertawa lebar dan berlari sebelum mendapat jatah(?) dari Yoona.

@@@

Hari ini Yuri dan Yoona memutuskan untuk menutup Cafe, karena mereka ingin mengistirahatkan segala penat dan rasa lelah mereka. Yoona, gadis cantik itu memilih untuk mengunjungi sebuah gereja di Seoul.

Dia termasuk, gadis yang taat beribadah. Dia terlihat memanjatkan do’a, begitu khusuknya hingga dia tidak sadar bahwa ada orang disampingnya. Yoona masih menutup matanya, seolah meminta permohonan, begitu pun orang disampingnya melakukan hal yang sama dengan Yoona.

Setelah Yoona merasakan cukup untuk membuat sebuah permintaan, Yoona pun membuka matanya perlahan.

Deg

Jantungnya bagai terhenti, Dia… Pemuda itu ada disampingnya, Lee Donghae. Seorang pelanggan yang membuat Yoona terpanah saat mereka bertemu di Cafe Yoona. Namja itu tersenyum begitu lembut, bagaikan seorang malaikat bagi Yoona.

“Kau disini?” tanya Donghae.

“Seperti yang kau lihat. Ini hanya kebetulan? Atau memang kau yang sengaja mengikutiku, hahaha….” Yoona tertawa lebar, memperlihatkan tawa aligatornya.

Donghae, pemuda itu menatap gemas Yoona. Ingin, rasanya pemuda itu mencubit kedua pipi Yoona yang sering dia gembungkan disaat Yoona merasa kesal, sedih, tertawa, merengek, dan lain-lain. Bagaimana Donghae mengetahui segalanya tentang Yoona? Karena, dirinya, merupakan seorang Stalker dari gadis bernama Im Yoona.

Dirinya, mulai merasakan ada benih-benih cinta saat merekanya bertemu untuk kedua kalinya di Cafe. Itu, membuat Donghae mencari tau tentang sosok lebih dalam dari Im Yoona.

“Haha… tentu saja, ini hanya kebetulan. Atau jodoh mungkin,”

Mwo!” Yoona membulatkan matanya, begitu terkejutnya dia mendengar ucapan Donghae. “Ada apa, Nona Im?” tanya Donghae. Yoona lekas menggeleng dan berjalan pelan keluar gereja. Donghae pun mengikuti langkah Yoona.

“Yoong, bisakah kita pergi ketaman? Aku hanya ingin mengobrol lebih lama denganmu?”

“Tentu saja, aku bisa.”

“Ayo,” Donghae menggandeng tangan Yoona untuk menuju audynya.

Semenjak saat itu, Yoona dan Donghae terlihat terus bersama-sama, dan hubungan keduannya pun semakin dekat.

@@@

Keduanya saling termenung, begitu sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Hari ini, adalah kencan pertama Yoona dan Donghae. Mereka memilih untuk kencan mengunjungi Seoul Namsan Tower. ‘Aku gugup,’ batin Yoona. ‘Ya Tuhan! Kumohon, Control emosiku, aku begitu gugup,’ batin Donghae.

“Ehm.. Yoong,” ucap Donghae.

Yoona menatapnya, melihat tepat dimanik Namja bermata coklat terang. Hembusan semilir angin membuat rambut Yoona terlihat bertebaran. Menambah, nilai plus pada kecantikan naturalnya.

Ne,”

“Aku tidak tau, aku harus memulai mengatakannya dari mana. Sejak dulu, sejak kedua kali kita bertemu di Cafe, aku menyadarinya. Perasaan yang begitu membuatku tidak henti-hentinya memikirkanmu. Hanya dirimu, yang setiap hari memenuhi seluruh relung hatiku dan pikiranku,” ucap Donghae.

“Entahlah, aku tidak tau apa arti semua ini? Apa kah aku mencintaimu? Atau hanya mengagumimu. Yang jelas, aku sungguh-sungguh ingin memilikimu, menjagamu, membiarkan kau selalu tetap  berada dalam dekapanku, dan aku tidak ingin kau meninggalkanku,” Donghae menggenggam tangan Yoona erat. Salah satu tangannya terlihat dia sembunyikan di belakang tubuhnya.

Setangkai bunga mawar merah yang begitu indah kini sudah tepat berada ditangan Donghae. Dia terlihat berlutut dihadapan Yoona, sambil menyerahkan bunga mawar itu. “Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?”

Yoona begitu terkesima melihat Namja yang begitu dicintainya, akhirnya menyatakan suatu hal yang sudah ditunggu-tunggu Yoona sejak lama. “Nado. Ne, Oppa, aku mau,” ucap Yoona, sambil mengambil setangkai bunga mawar dari tangan Donghae.

“Benarkah?” ucap Donghae. Yoona mengangguk, dan lekas memeluk Donghae. “Aku mencintaimu, dan Cappucino Late buatanmu,”ujar Donghae setengah berbisik. Membuat Yoona tersenyum malu.

 

END

16 thoughts on “Cappucino Late

  1. oh,t’nyta donghae aDaLh staLker’y yoona n t’nyta dia jg suka ma yoona..!? uhhh,so sweet n romantiz skLi mrka b’2…! dtnggu ff yoonhae Laen’y

  2. hebattt nyentuh banget ceritanya :’) one more yoonhae pairing, aku sukkaaaa banget. cuma sayang, alurnya terlalu gak sesuai gitu, jadi rada mudah ditebak . Overall, you’ve given your best for this FF

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s