Endless Love

Author: Pingkan

Main Cast: Im Yoona, Kwon Yuri, Xi Luhan, Lee Donghae

Other Cast:-

Genre: Hurt, Sad, Romance

Tittle: Endless Love

Raiting: PG 15+

endless love

Summary: Aku bertahan selama ini hanya karena dirimu! Bagiku kau yang terakhir dan kau segalanya.

@@@

Seorang gadis duduk dibangku yang tersedia di Bandara Incheon. Matanya melirik kekanan dan kekiri, jikalau seseorang yang ditunggunya itu akan lewat, pikirnya. Dia mendesah, sudah 5 jam dia menunggu tapi orang itu belum juga menampakan wujudnya.

Dia pun memilih untuk pulang.

Seperti itulah rutinitasnya setiap hari, menunggu seseorang yang begitu berarti baginya. Kekasihnya, Lee Donghae. Pemuda itu pergi ke Paris, meninggalkan dirinya sendiri di Korea ini. Donghae, pemuda itu berjanji bahwa dia akan kembali, kembali untuk Yoona.

Sampai kapan aku harus menunggumu?’ batin Yoona, dia melangkahkan kakinya lemas, selalu saja dirinya menanti namun Donghae belum juga kembali.

@@@

Yoona berdiri dibalkon kamarnya, menangis hanya itu yang dia lakukan. “Oppa, aku merindukanmu. Cepatlah kembali, sesuai dengan janjimu,” desis Yoona.

Ceklekkkk

Seseorang membuka Knop pintu, Yoona menengok melihat siapa yang datang. “Masih menunggunya?” tanya Yuri, mengambil bingkai foto dalam dekapan Yoona.

“Sampai kapan?” ucapnya datar. Yoona hanya menunduk, perkataan Yuri memang benar. Penantiannya itu tidak memberi sebuah kepastian. Tapi, Yoona sangat mencintai Donghae dia tidak bisa melupakan Kekasihnya itu. Kekasih yang sudah 8 tahun bersamanya.

“Entahlah,” Yoona menghapus air matanya kasar.

“Sudah! Aku lelah. Bisakah kau keluar? Aku ingin tidur,” Yoona pun merebahkan dirinya di kasur. Yuri pun memilih keluar kamar.

Aku hanya ingin melihatmu kembali tersenyum. Bukan seperti ini, lupakanlah dia,’ batin Yuri, sepupu Yoona.

@@@

Yoona berjalan gontai di koridor Kampus, pandangannya dingin mengarah lurus kedepan. “Yoong,” panggil Luhan mengejutkannya.

Yoona hanya menatap sinis, lelaki di sampingnya. “Wae?” tanyanya malas.

Luhan tersenyum, memberikan senyuman terbaiknya. Berbanding terbalik dengan Yoona dia menatap dingin Luhan. “Selesai pulang kuliah nanti, mau tidak kalau kita pulang bersama?” tanya Luhan.

‘Tidak mau! Sudah sana, jangan dekat-dekat,” Yoona mendorong tubuh Luhan supaya menjauh. Yoona pun meninggalkan Luhan sendirian, Luhan pemuda itu masih memandang punggung Yoona yang kini telah menghilang dari pandangannya.

Sampai kapan kau seperti itu?’ batin Luhan. Dia menunduk, mencoba meratapi nasibnya.

Sepasang mata terlihat mengawasi Luhan dari jauh, semenit kemudian mata itu berkaca-kaca dia merasa sangat sedih melihat Luhan pemuda yang disukainya selalu dan akan selamanya mencintai Yoona, saudara sepupunya sendiri.

Oppa, lihat aku! Tengoklah ke arah ku. Aku mencintaimu, dan akan selamanya mencintaimu,’ batin Yuri.

@@@

Yoona, gadis itu menyetop sebuah Taksi, dan dia berkata pada supir taksi itu untuk membawanya ke Incheon. Sehabis, pulang Kuliah dia langsung pergi menuju Incheon, Ya itu lah rutinitasnya selalu dan akan selamanya berdiri menunggu Kekasihnya tiba.

Di dalam Taksi, Yoona masih terus memandangi layar ponselnya, terdapat fotonya bersama Donghae disana.

Oppa, apa kau tidak merindukanku? Apa kau mengingkari janjimu, untuk selamanya bersamaku?” batin Yoona, gadis itu meneteskan air matanya.

Selama 2 jam perjalanan akhirnya Yoona sampai, dia pun terlihat duduk manis di bangku yang di sediakan. Tampak, seorang  pria paruh baya yang bekerja sebagai tukang sapu memperhatikannya. Bahkan, Pria itu terlihat hafal dengan kebiasaan Yoona untuk menanti seseorang di Incheon.

Kasihan sekali, gadis ini,’ batin Pria itu.

Waktu terus berputar, Yoona melirik jam tangan Coklat dilengan kirinya. Sudah jam 8 malam. Hampir 5 jam dia berada di Incheon, tapi Donghae masih belum menampakan wujudnya, dia pun memilih pulang.

Di tengah perjalanan, karena Yoona memang belum makan dari sepulang Kuliah, dia pun memilih berhenti di sebuah Cafe. Yoona memang baru pertama kali, mengunjungi Cafe itu tapi karena dia juga lapar ya mau tidak mau dia memilih Cafe itu.

Pandangannya dingin, dia menatap seluruh pengunjung Cafe dengan datar. Terlihat beberapa pengunjung wanita yang terlihat takut melihat Yoona. Ada pula yang terlihat berbisik-bisik membicarakannya tapi semua itu di acuhkan oleh Yoona.

Terlihat seorang pelayan menghampiri Yoona dengan membawa buku note kecil dan sebuah pulpen ditangannya. “Maaf, Nona anda ingin memesan apa?” tanya pelayan itu sopan.

Orange Juice, and Pasta,” ucap Yoona singkat. Pelayan itu mencatat pesanan Yoona dan pergi ke dapur untuk menyerahkan pesanan itu pada koki yang akan membuatkan pesanan Yoona.

Yoona mengetuk-ngetukkan jarinya, terlihat dia sedang menunggu. Di matanya, tersirat luka dan rasa lelah. Dia terluka sangat amat menyakitkan, karena harus berpisah dengan Donghae 2 tahun belakangan ini.

Dan rasa lelah itu, karena dirinya harus menunggu Donghae. Pemuda, yang entah kembali atau tidak dalam pelukan Yoona. “Aku bertahan! Aku menunggumu, ini semua karena aku memilihmu untuk setia kepadamu. Tapi, kumohon jangan menyiksaku seperti ini,” gumamnya.

Tidak lama kemudian, pelayan itu datang membawa Orange Juice dan Pasta pesanan Yoona. “Maaf Nona, ini pesananmu,”

“Terimakasih,” Yoona pun dengan perlahan terlihat menyantap pesanan itu. Dia menghabiskan makanan itu hampir 1 jam lamanya. Karena sudah malam Yoona memutuskan untuk pulang setelah dirinya membayar pesanan nya itu.

@@@

“Mau kekantin bersamaku Yoong?” tanya Luhan, saat melihat Yoona baru saja keluar dari kelasnya. Yoona menatapnya datar dan pergi meninggalkan Luhan yang terus menerus memanggilnya.

Luhan hanya bisa menatap Yoona yang melangkah pergi meninggalkannya. Dia begitu mencintai gadis itu, meski selalu diacuhkan. Luhan percaya, bahwa suatu saat Yoona pasti bisa melihat dirinya, meski harus menunggu.

Oppa,” Yuri menepuk pundak Luhan.

Luhan menengok, tersenyum tipis saat melihat Yuri. “Ada apa?” tanyanya singkat. Yuri menghela nafas sebentar, begitu gugup baginya saat dia berhadapan dengan Luhan, pemuda yang dicintainya.

“Apa kau mau kekantin bersamaku?” tanya Yuri, dengan senyuman cantik diwajahnya.

Luhan terlihat berpikir, menimbang-nimbang apakah menerima tawaran Yuri atau tidak. “Baiklah,” Luhan berjalan mendahului Yuri, Yuri tersenyum senang mendengarnya. Dia pun menyamai langkah Luhan didepannya.

Meski aku bukanlah gadis yang kau cintai. Aku harap, suatu saat kau bisa mencintaiku, dan melepas Yoona dari hati mu,’ batin Yuri.

Yuri dan Luhan terlihat begitu menikmati acara makannya di Kantin Kampus. Mereka terlihat akrab, berbincang bersama, tertawa bersama. Ini semua, bagai mimpi dalam pikiran Yuri.

Senyumannya selalu membuatku, luluh,’ batin Yuri.

Luhan pemuda itu terlihat membuat lelucon, yang membuat Yuri tertawa lebar mendengarnya. Tanpa sadar, tangan Luhan tergerak mengelus rambut indah milik Yuri.

Deg

Keduanya saling terdiam, pikiran mereka nampak kacau. ‘Apakah tadi itu mimpi? Luhan Oppa, mengusap rambut ku?’ batin Yuri masih terpaku saat kejadian tadi.

Apa yang aku lakukan? Omona! Apa yang terjadi denganku? Yuri, gadis itu terlihat sangat cantik saat dia tersenyum. Kenapa aku baru menyadarinya? Aku tau! Sudah lama Yuri menyukaiku, tapi yang ada di hatiku hanyalah Yoona. Apa sekarang aku menyukai Yuri? Ah tidak..tidak… aku hanya menyukai Yoona,’ Luhan terlihat bergulat dengan pikirannya sendiri.

Oppa, pulang sekolah nanti apa Oppa bisa mengantarku ketoko buku? Aku ingin membeli sebuah buku untuk materi yang akan dibahas, lusa,” tanya Yuri.

“Maaf, Yul. Sepertinya tidak bisa,” jawab Luhan. Yuri menundukan wajahnya, menyembunyikan raut kekecewaan dalam dirinya.

Aku tau! Kau pasti ingin mengajak Yoona untuk pulang bersamamu? Iyakan? Oppa, kenapa mencintaimu harus sesakit ini?’ batin Yuri,

@@@

Yoona berjalan dengan tergesa-gesa menuju gerbang kampus, terlihat seseorang menarik tangan Yoona dan menghempit tubuh Yoona di tembok. “Ap..Apa yang kau lakukan?” tanya Yoona.

Luhan, pemuda itu nampak terdiam mengamati wajah Yoona sedekat ini. Cantik, itu lah pikirnya.”Yoong! aku mencintaimu. Sampai kapan kau menunggunya? Apa kau tidak lelah? Aku mencintaimu Yoong, bahagialah bersamaku,”

Dengan kasar, Yoona lekas menampar wajah Luhan dan pergi menjauh. “Ingat! Aku hanya mencintainya! Lupakanlah aku. Yuri, mencintaimu, bahagialah bersamanya. Sampai kapanpun aku tidak mencintaimu,” hardik Yoona.

Yoona pun menyetop sebuah taksi, dan pergi menuju Incheon.

Kalau bisa aku memilih, aku pasti ingin melepasmu membiarkan kau bahagia bersamanya. Tapi, perasaan ini? Perasaan ini yang memaksaku. Aku begitu mencintaimu? Tidak sadarkah dirimu! Yoong.’ Batin Luhan.

Yuri, gadis itu melihat kejadian itu, dia menangis. Menangis, walau tidak terisak. Luhan melihatnya, Yuri pun pergi menjauh dengan tetesan-tetesan air matanya. Sesak, itu yang dirasakan Luhan dia berlari mengejar Yuri. Entah mengapa, dirinya begitu sakit melihat air mata Yuri.

Yuri-ah, Maafkan aku,’ batinnya dan berlari mencari sosok Yuri.

@@@

Hari ini Yoona tidak bisa pergi ke Incheon, badannya terlalu lemah untuk pergi kesana menunggu berjam-jam di tengah ramainya orang-orang. “Maaf, hari ini aku tidak bisa menunggumu Oppa,” gumamnya.

Dirinya hanya berbaring di kasur kamarnya. Dia menatap langit-langit kamarnya. Sejenak seperti memikirkan sesuatu. ‘Aku lelah Oppa, aku lelah,’ batinnya berteriak.

Air mata itu mengalir, mengalir dengan derasnya. Dia bagaikan mayat hidup yang bergantung hanya pada satu titik. Tidak memperhatikan sekitarnya, orang-orang yang masih mempedulikannya.

Aku mencobanya! Mencoba tetap setia kepadamu hingga selama ini. Apa aku harus menyerah Oppa? Menyerah untuk menantimu?’ batin Yoona.

Sesak didadanya sungguh luar biasa, matanya pun sudah lelah untuk mengeluarkan berjuta-juta tetes perharinya. Yoona merasakannya, rasa lelah yang membuatnya mati dalam kehidupannya.

Andai aku tidak begitu mencintaimu. Mungkin, aku sudah mencari Namja lain. Aku sangat mencintaimu Oppa! Kau harus mengerti itu,’ batin Yoona seperti menjerit! Menjerit dengan sekencang-kencangnya tapi percuma toh Donghae juga tidak bisa mendengarnya.

Berikan aku kepastian dalam penantian ini Oppa. Jangan kau beri sebuah harapan yang hanya ilusi. Datanglah Oppa, kembalilah padaku,’

“Yoong,” Yuri saudara sepupu Yoona terlihat masuk tanpa ijin ke dalam kamar Yoona. Dia duduk di samping Yoona, mengusap rambut panjang nan ikal milik Yoona.

“Berhentilah menangis,” ucap Yuri dengan tenang. Yoona tersenyum, setidaknya dia masih mempunyai orang yang begitu mengerti akan dirinya.

‘Kau begitu beruntung Yoong. Kau sangat cantik, banyak pria yang menyukaimu? Tapi, kenapa kau hanya bisa melihat Donghae? Pemuda itu? Dan kenapa harus Luhan! Kenapa dia yang harus mencintaimu. Kami semua sakit, sakit dalam permainan cinta. Aku yang sakit karena mencintai Luhan, Luhan yang sakit karena mencintaimu. Dan kau! Kau juga ikut sakit karena mencintai Donghae. Kami semua terkait, terkait dalam sebuah kebodohan ini,’ batin Yuri.

“Yul,” panggil Yoona menyadarkan Yuri dari lamunannya.

Yuri menengok, melihat Yoona memanggilnya. “Ada apa?”

“Kau begitu mencintai Luhan?”

Pertanyaan itu, pertanyaan yang bodoh menurut Yuri. Yoona, gadis itu sebenarnya sudah mengetahuinya, tapi? Kenapa dia harus mengulang pertanyaan itu?

“Ehem… mungkin iya,” ucap Yuri datar. Yuri melirik Yoona, dia masih bingung kenapa gadis itu menanyakan hal ini.

“Maaf,” Yoona menunduk, tidak berani melihat wajah cantik Yuri.

Yuri hanya diam mematung, dia mengerti mungkin Yoona meminta maaf karena Luhan yang memang sangat mencintainya dan tidak sekalipun menghiraukan perasaan Yuri. “Sudahlah tidak apa,” Yuri mengangkat wajah Yoona untuk menatapnya.

Yoona memeluk Yuri, menangis dalam dekapan sepupunya itu. Yuri pun tanpa sadar ikut menangis, dia sangat menyayangi kedua orang yang begitu berharga baginya Yoona dan Luhan.

Aku akan merelakan Luhan Oppa, aku ingin dia bahagia dengan gadis  pilihannya,’ batin Yuri.

Aku akan membuat Luhan, mencintai Yuri. Harus!’ batin Yoona.

@@@

Luhan, Namja itu begitu gusar memikirkan sesuatu dalam benaknya. Benaknya seolah terlihat bergelut memikirkan siapa yang Luhan cintai sebenarnya. Dia merebahkan dirinya di kasur. Memijat pelan pelipisnya yang berdenyut-denyut.

“ARGGHHH,” pekiknya, begitu banyak pikiran yang memenuhi Otaknya.

Bayangan-bayangan Yuri seolah hadir memenuhi Otak Luhan. Yuri yang terlihat tersenyum kearahnya, tertawa bersamanya, terlihat gugup dihadapannya, dan menangis karenanya.

Semua itu seolah seperti film di bioskop berputar-putar dalam ingatan Luhan. ‘Kenapa aku hanya memikirkan Yuri? Kenapa bukan Yoona? Kenapa bayangan-bayangan Yuri selalu hadir? Apa aku mencintainya. Aku begitu sakit melihatnya menangis, apalagi itu semua karena diriku. Ya Tuhan! Jelaskanlah padaku apa maksud semua ini?’ batin Luhan.

“Aku harus meminta maaf padanya besok. Semoga saja, dia mau memaafkan ku. Yuri, kenapa kau membuatku segila ini? Aku mencintaimu Yul, mungkin aku telat menyadari ini. Tapi, aku sungguh tidak ingin kehilanganmu, jangan pergi. Tetaplah bersamaku dan mencintaiku seperti itu,” gumam Luhan.

@@@

Yoona dan Yuri terlihat semakin akrab, hari ini Yuri dan Yoona memang memutuskan untuk berangkat Kuliah bersama. Terlihat canda tawa diantara mereka, Yoona pun kembali, seolah dirinya yang mati bagaikan hidup kembali.

Gomawo, karena dirimu selalu ada disampingku Yul, kau yang memotifasiku,” Yoona memeluk Yuri sebentar, Yuri pun mengangguk dan tersenyum lebar.

“Tetaplah seperti ini, menjadi Yoona yang ceria seperti dulu,” Yuri mengedipkan sebelah matanya. “Pasti,” Yoona mengepalkan tangannya semangat.

Kedua nya terlihat berjalan di koridor perpustakaan. Tiba-tiba Luhan datang, seolah menghentikan langkah Yoona dan Yuri. Mereka bertiga terdiam mematung. Pikiran ketiganya pun seolah bertanya-tanya masing-masing.

“Ehm.. Maaf aku mengganggu kalian,” ucap Luhan sungkan.

Yoona tersenyum, Luhan melihatnya baru pertama kali setelah dua tahun terakhir dia tidak melihat senyuman gadis itu. Yuri, terlihat menunduk, dia pun melangkah pergi.

“Aku duluan, permisi,” Yuri berjalan meninggalkan Luhan dan Yoona. Begitu sakit rasanya, tapi dirinya memang sudah bertekad untuk merelakan Luhan.

Luhan menatap punggung Yuri, dia langsung menarik lengan Yuri. Yuri yang tertarik begitu kencangnya pun sampai berbalik dan memeluk tubuh Luhan.

Deg

Kedua pasang mata mereka bertemu, dalam dekapan yang hangat. “Ah.. Eum… Mian,” Yuri melepas dekapan Luhan.

“Itu salahku,” ucap Luhan yang terlihat gugup.

Yoona, gadis itu nampak mengerti dengan kejadian dihadapannya dia pun memilih untuk pergi meninggalkan Yuri dan Luhan. Dia tersenyum sambil melangkah pergi. “Semoga kalian bisa berbahagia,” gumamnya.

Yuri menatap Luhan dengan tatapan aneh. Kenapa Luhan menjadi seperti ini?. “Ah… aniya ini salahku,” ucap Yuri.

“Yul,” panggil Luhan.

Ne, waeyo?” tanya Yuri, dia terlihat menatap lekat Luhan. Sama hal nya dengan Yuri, Luhan juga menatap mata Yuri lekat.

“Ehm… sebelum nya maafkan aku atas kejadian kemarin,” Luhan nampak menunduk.

Yuri tersenyum seolah dirinya tegar. Mencoba terlihat baik-baik saja. “Aku sudah memaafkanmu, Oppa.” Ucap Yuri.

Luhan kembali menatapnya. “Sungguh?”

Yuri mengangguk antusias. “Baiklah, ehm satu pertanyaan lagi yang ingin kutanyakan padamu, Yul.” Ucap Luhan.

“Apa?”

“Apa perasaan itu masih ada untukku? Kau masih menyimpannya?”

Yuri terlihat gugup. Haruskah dia jujur? Atau sebaliknya?. Disaat dia ingin melupakan Luhan. Kenapa Namja itu seolah kini mulai menyadari dirinya? Mulai memperhatikannya?

“Eum.. An..Aniya, Maaf Oppa.” Yuri terpaksa berbohong.

Jeongmal?” Luhan mempertajam matanya memandang Yuri. Yuri yang gugup terus berjalan mundur, hingga dirinya bersandar pada tembok dan tidak bisa lari kemana-mana.

N..Ne,”

“Kalau kau jujur, kau tidak sepanik itu. Kau pasti berbohongkan? Akuilah kalau kau masih menyimpan perasaan itu,”

Yuri terlihat menangis, Luhan segera memeluknya. “Hiks…Hiks… Aku mencintaimu Oppa. Sangat amat mencintaimu, tapi kau tidak pernah melihatku? Kau selalu melihat Yoona disisimu. Aku begitu sakit hiks… hiks… apakah harus sesakit ini mencintaimu? Oppa! Kenapa kau seperti ini? Hah!. Hiks.. disaat aku mulai belajar untuk melupakanmu, kenapa kau hadir kembali? Seolah kau membuatku harus tenggelam dalam ilusi cintamu…” keluh Yuri, dalam dekapan Luhan.

Luhan mendekap Yuri erat begitu hangatnya membuat Yuri sedikit tenang. “Jangan pernah kau lakukan itu, tetaplah disisiku. Aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku,”

Yuri membisu menatap Luhan didepannya. Apa dia tidak salah dengar? Apa barusan hanya mimpi baginya?

Op..Oppa,”

Ne, kau tidak salah dengar, aku menyadarinya. Aku begitu mencintaimu, jangan tinggalkan aku, aku mohon,” Luhan seolah dapat membaca pikiran Yuri. Dia mengusap pipi Yuri yang basah karena menangis. Mengecup hangat kedua mata Yuri dan kening Yuri.

“Maukah kau menjadi Kekasihku?” tanya Luhan.

Ne, Oppa. Nan Jeongmal Saranghaeyo Xi Luhan,” ucap Yuri, Luhan pun mendekapnya kembali. “Nado, Kwon Yuri. Aku akan menjagamu Chagi, tidak akan membuatmu terluka lagi karena mencintaiku,” bisik Luhan ditelinga Yuri.

@@@

Incheon International Airport. Yoona, gadis itu kembali datang untuk menunggu seseorang, namun kali ini dia berbeda terdapat senyum tipis dibibir mungilnya. Meski matanya tersirat luka mendalam.

Dirinya sudah menunggu hampir 8 jam di kursi tunggu bandara.

“Aku lelah, hari ini aku akan menyudahi penantianku Oppa. Semoga kau bahagia,” Yoona gadis itu tersenyum sebentar, dan melangkah pergi,

“Tunggu,” seseorang menarik lengan Yoona. Yoona pun berbalik menatap orang dihadapannya.

Bagaikan sebuah mimpi baginya, Lee Donghae kini ada dihadapannya. “Jangan lakukan itu! Jangan tinggalkan aku Deer,” Yoona pun lekas memeluk Donghae erat menumpahkan tangisnya dalam pelukan hangat Donghae.

“Aku begitu merindukanmu, Oppa.” Adu Yoona. Donghae pun mengangguk, mendekap Yoona erat, mengusap lembut rambut panjang gadis itu.

Nado Yoong. Maafkan aku, kalau diriku membuatmu tersiksa,”

Aniya, aku mencintaimu Oppa. Jadi, meski aku tersiksa karenamu. Aku akan tetap mencintaimu,”

Saranghae Im Yoona. Kau memang segalanya untukku, aku berjanji untuk tidak akan meninggalkanmu lagi,”

“Aku bahagia Oppa mendengarnya. Akhirnya permintaanku terkabul, kau kembali padaku.

“Aku sudah bilang, aku akan menepati janjiku. Calon masa depanku.” Donghae pun mengedipkan matanya pada Yoona. Yoona pun tertawa dan kembali memeluk Donghae. “Tetaplah seperti ini, jangan pergi tinggalkan aku lagi,”

 

FIN

Comment plis…

Saya, masih butuh kritik dan saran dari para readers sekaliann….. hehehe😀

Thank’s for reading^^

16 thoughts on “Endless Love

    • maaf chingu sepertinya ff ini tidak ada sequelnya T.T
      aku takut, nanti ceritanya malah makin amburadul kalo dibikin seq. ya jadi, cuma ampe begini doang deh >.< maaf ya.
      ohya, thanks juga loh udh mau berkunjung ke wpku ^^

  1. yeee,,,
    happy end nih…
    senengnya hahaha, awalnya aku kira endingnya bkan YH tapi wakt baca samp’ akhir ternyata endngnya YH, uwahaha senng bangt nih😀 , walwpn hae oppanya nongol akhir2, nggak pp2 yg pentng yh brsatu maklm jiwa shipernya kluar hhh, next ff yh d tunggu chingu

  2. omoo !! akhirnya berbuah manis smuanyaaa ..
    telat yaa , ngomen;x thor ? mianhae .. bru nemu sihh🙂
    ahh ,, aku suka banget ending’x ..
    tadi sempet nangis garagara liat YoongYul ..
    Yoong-eonn kasiian bner ,, nunggu Hae-ppa smpe sgtuh’x ..
    Yul-eonn jg ! dy jtuhcinta sama org yg mncintai org lain ..
    ahhh ,, emng rumit banget banget dehh awal’x ..
    bt , pas Yoong-eon mulai trsenyum ,
    lalu Lulu oppa yg mulai mnyadari sypa yg sbnr’x dy cintai ..
    & akhir’x Yoong-eon yg brtmu kmbali dgn Hae-ppa ..
    daebakk !! very daebak ! apa ada lg crta yg ada Yul-eon’x , thor ??
    hha~ ,, mian .. aku Yurisistable selain YoonYul shhipper😀
    keep spirit & hwaiting ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s